Thomas Muller adalah Raumdeuter, Begitu Pula Sebaliknya

Thomas Mueller. AP / Matthias Schrader
Oleh: Renalto Setiawan - 1 Juli 2020
Dibaca Normal 5 menit
Thomas Muller adalah perwujudan sempurna dari 'raumdeuter'—ia menafsirkan ruang dan membuka peluang bagi rekan-rekannya.
Enam bulan setelah Thomas Muller menjadi salah satu pemain bintang di Piala Dunia 2010, Andreas Burkert melakukan wawancara eksklusif dengan sang pemain. Meski hampir seluruh penggemar sepakbola di segala penjuru dunia tahu siapa Muller, Burkert sadar bahwa tak banyak orang yang benar-benar mampu memahami kehebatannya. Maka, jurnalis surat kabar Suddeutsche Zeitung itu pun melontarkan pertanyaan menarik: “Siapa Thomas Muller?”

Muller adalah pemain unik, nyaris tanpa padanan. Ia bisa bermain sebagai penyerang, gelandang serang, gelandang tengah, hingga sebagai pemain sayap. Tapi, saat bermain di posisi-posisi tersebut, Muller seperti menerjemahkannya dengan cara berbeda. Menurut Uli Hesse, penulis sepakbola asal Jerman, permainan Muller sulit untuk ditiru, dimengerti, atau dihentikan siapapun.

“Thomas Muller,” demikian tulis Hesse di 8by8, “tidak dapat mengalahkan Anda dengan kemampuan olah bolanya, gocekannya, atau dengan kecepatannya. Namun, ia akan selalu mengalahkan Anda.”

Hesse tidak mengada-ada dan hampir semua pelaku sepakbola akan mengangguk setuju. Dengan cara bermain yang penuh teka-teki, Muller, yang memulai debut profesional pada 2009, mampu meraih gelar prestisius dalam waktu singkat. Pada musim 2009-2010, ia berperan penting atas keberhasilan Bayern Munchen meraih gelar Bundesliga dan DFB Pokal. Sementara pada Piala Dunia 2010, selain berhasil menyabet gelar pemain muda terbaik dan top skorer, Muller juga membantu Jerman finis di peringkat tiga.

Berdasarkan cara bermain penuh teka-teki itu pula, Bukert—seolah-olah mewakili rasa penasaran banyak orang—lantas melontarkan pertanyaan di atas kepada Muller. “Siapa Thomas Muller” dapat berarti: bagaimana bisa, Anda, yang sepintas lalu tampak biasa saja, hampir selalu berada di posisi dan waktu yang tepat saat bola sampai ke kaki Anda?

Seperti gaya bermainnya, Muller memberikan jawaban yang tak kalah menarik: “Aku adalah seorang raumdeuter (penafsir ruang).”

Kelak, jawaban Muller tersebut ternyata tidak hanya sempurna sebagai judul hasil wawancara Burkert. Raumdeuter, istilah yang lazim digunakan di ranah desain interior di Jerman, benar-benar identik dengan Muller.

Dalam Zonal Marking: The Making of Modern European Football (2019), Michael Cox menulis: "Raumdeuter lantas diterima dan dianggap sebagai peran baru dalam sepakbola modern. Bahkan beberapa tahun setelah pengakuan Muller, raumdeuter juga muncul di gim Football Manager. [...] Muller telah menemukan dan memberi nama untuk peran yang benar-benar sesuai dengan dirinya."

Peran Langka

Pada 2018 Tifo Football menjelaskan bahwa raumdeuter adalah peran langka. Ia punya dua fundamen utama yang hanya bisa dimainkan seorang pemain dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Pertama, seorang raumdeuter tidak bermain di posisi tertentu, bebas bergerak di setiap area, tergantung situasi di atas lapangan. Kedua, kinerja raumdeuter juga sangat bergantung pada pendekatan taktik sebuah tim, sehingga tidak dapat dinilai berdasarkan kualitas teknis seperti kecepatan, olah bola, penyelesaian, dan lain-lain.

Dengan pendekatan seperti itu, Tifo lalu menekankan seorang raumdeuter wajib mengambil keputusan berdasarkan insting dan naluri, namun juga harus mampu memahami pendekatan taktik secara sempurna. Karenanya peran ini bisa dibilang lebih sulit diterapkan dan selangkah lebih maju ketimbang peran-peran lain yang terus muncul dan berkembang dalam sepakbola modern.

Mari kita bandingkan raumdeuter dengan regista, misalnya. Meski sama-sama membutuhkan pemain dengan kemampuan khusus, seorang regista cenderung bermain di satu posisi, yaitu di antara pemain tengah dan pemain belakang. Agar dapat mengatur pergerakan tim secara maksimal, seorang regista biasanya juga perlu perlindungan dari pemain yang berada di depannya. Karena pergerakan yang dibatasi posisi dan butuh perlindungan, peran yang dipopulerkan Andrea Pirlo ini masih rentan dimatikan apabila tim lawan melakukan pengawalan satu lawan satu. Singkat kata, regista masih memiliki antitaktik.

Sebaliknya, raumdeuter bekerja dengan cara berbeda. Jonathan Wilson dalam Inverting The Pyramid: The History of Soccer Tactics (2008) mengatakan bahwa taktik adalah seni untuk memanipulasi ruang. Peran-peran dalam sepakbola lantas bermunculan untuk memaksimalkan taktik tersebut. Dan di sinilah letak kelebihan raumdeuter ketimbang peran-peran lainnya: ia bekerja sebagai pencipta ruang, baik untuk dirinya sendiri maupun rekan-rekannya.

Masih menurut Tifo, tingkat kesulitan itu lantas mengakibatkan hanya segelintir pemain yang mampu berperan sebagai raumdeuter. Selain Thomas Muller, hanya Dele Alli dan Jose Callejon yang dapat bermain sebagai raumdeuter. Sementara Alli memainkan peran tersebut di Tottenham Hotspur era Mauricio Pochettino, Callejon sebagai raumdeuter merupakan senjata rahasia Napoli era Maurizio Sarri. Meski begitu, terlepas dari siapa penemunya, mengapa raumdeuter lebih identik dengan Muller seorang?

Dalam sebuah esai berjudul “Thomas Muller, Si Penafsir Ruang”, Zen Rahmat Sugito, penulis sepakbola kawakan Indonesia, menjelaskan bahwa Muller tidak hanya mengambil istilah raumdeuter untuk menamai perannya di dalam permainan tim, melainkan juga mampu menerjemahkannya secara utuh. Ia paham betul tiga konsep pokok raumdeuter dalam desain interior [space (ruang), flow (aliran), dan function (fungsi)] serta mampu memadukan tiga konsep itu secara sempurna di atas lapangan.

Perkara flow, misalnya. Entah saat bermain di belakang penyerang atau di sisi lapangan, Muller sering kali menjadi penghubung utama antara lini tengah dan lini depan. Pada momen-momen tertentu ia bahkan bisa mengirimkan umpan ke arah rekannya yang berada di posisi paling menguntungkan. Karenanya, jumlah assist dan umpan kunci Muller kerap lebih banyak ketimbang pemain-pemain Bayern lainnya. Setidaknya pada musim ini saja, menurut Whoscored, Muller sudah mencatatkan 20 assist dan rata-rata mengirimkan 2,3 umpan kunci dalam setiap pertandingan.

Sedangkan soal function, Zen menjelaskannya lewat gol-gol Muller. Gol-gol itu, tulis Zen, adalah buah dari “kecerdasan dalam membaca permainan dan arah bola, serta kejelian dalam mencari dan memanfaatkan ruang kosong yang tersedia di daerah pertahanan lawan, sesempit apapun itu.” Walhasil, meski tak pernah berperan sebagai ujung tombak, Muller rata-rata mampu mencetak lebih dari 10 gol per musim sejak memulai debut di Bundesliga.

Sebagai raumdeuter, Dele Alli dan Jose Callejon tentu juga mampu memahami konsep-konsep itu dengan baik. Hal ini setidaknya dapat dibuktikan lewat rataan jumlah assist, gol, dan umpan kunci mereka tak kalah mentereng ketimbang Muller. Namun, terutama belakangan ini, penampilan mereka mulai menurun: Callejon lebih sering duduk di bangku cadangan dan Alli masih belum nyetel dengan racikan Jose Mourinho. Selain itu, karena tuntutan pelatih anyar, mereka juga acap kali menanggalkan peran sebagai raumdeuter.

Sementara itu, Muller sebaliknya. Ia masih mampu tampil konsisten sebagai raumdeuter sekaligus membuktikan peran tersebut amat penting dan berguna bagi tim. Bahkan, ia selalu memperjuangkan peran itu walaupun sampai harus berdebat dengan pelatih sekelas Pep Guardiola.


Mengubah Paradigma Pep Guardiola

Marti Perarnau dalam Pep Confidential: The Inside Story of Pep Guardiola's First Season at Bayern Munich (2014) menceritakan perdebatan antara Pep Guardiola dengan Thomas Muller yang terjadi pada awal musim 2013-2014. Perdebatan itu bermula ketika Pep menilai Muller bermain buruk sebagai salah satu dari empat gelandang dalam formasi 4-1-4-1 yang ia terapkan. Muller sebagai gelandang, menurut Pep, sering mengabaikan instruksi dan bergerak semaunya.

Karena penilaian tersebut, Pep lantas memutuskan untuk mencadangkan Muller saat Bayern menjamu FC Nurnberg pada pekan ketiga. Ia menempatkan Mario Gotze untuk menggantikan posisi Muller. Namun Muller ternyata menjadi penyelamat Bayern dalam pertandingan tersebut. Masuk menggantikan Thiago pada menit ke-63, ia membuat permainan Bayern lebih bergigi dan berperan besar dalam dua gol kemenangan Bayern.

Sehari setelah pertandingan, Pep secara terang-terangan mengatakan Muller seharusnya mampu tampil seperti itu di dalam setiap pertandingan. Sang pemain mengangguk tapi dengan syarat: ia membutuhkan kebebasan beroperasi dan merasa bisa bermain lebih baik tanpa instruksi njelimet dari Pep.

Pep, yang amat peduli dengan detail, tentu saja menolak keinginan Muller. Di titik inilah perdebatan terjadi. Perarnau menulis, “Pep memberitahu Muller, sambil terus menunjuk ke arahnya, bahwa seandainya semua pemain di dalam tim menuntut kebebasan yang sama, itu akan menjadi menjadi sebuah bencana.”

Singkat cerita, selisih paham ini terus terjadi sampai akhirnya Pep memainkan Muller sebagai penyerang tunggal ketika Bayern Munchen bermain tandang ke markas Manchester City pada Oktober 2013. Di posisi itu, Muller berperan sebagai false nine dan tak banyak dikekang oleh Guardiola. Hasilnya, meski tak bermain sebagaimana lazimnya seorang false nine, Muller tampil brilian dan menyadarkan Guardiola.

Selain mencetak satu gol dalam pertandingan tersebut, Muller mampu membuat Bayern tampil seperti apa yang diinginkan Guardiola: mengombinasikan umpan pendek dan lambung dengan tingkat akurasi tinggi, menguasai jalannya pertandingan dengan penuh intensitas, dan mampu merebut bola di daerah pertahanan lawan. Padahal ia tak banyak menguasai bola dan hanya terus berlari ke setiap jengkal daerah pertahanan City untuk membuka ruang bagi rekan-rekannya.

Apa yang terjadi pada menit ke-65 bisa dijadikan contoh. Saat itu Bayern berhasil menguasai bola selama tiga setengah menit dan melakukan 94 kali umpan yang melibatkan 10 orang pemain. Umpan-umpan itu, menurut Perarnau, sangat mengagumkan karena mengombinasikan “ketepatan, kecepatan, dan tujuan.” Muller hanya melakukan dua umpan dalam “kucing-kucingan raksasa” tersebut, tapi kemampuannya dalam menafsir ruang merupakan poros utamanya. Sebuah kemampuan yang, tulis Perarnau, “membuat Pep tak bisa berkata-kata.”

Karena sumbangsih besar Muller, yang diganjar Whoscored sebagai pemain terbaik dalam pertandingan tersebut, Bayern akhirnya menang 1-3 dan mendapatkan pujian dari banyak orang. Franco Baresi, legenda AC Milan, menyebut Bayern mendemonstrasikan permainan positif level atas yang menghibur banyak orang. Sementara Uli Hoeness, presiden Bayern saat itu, tak kalah semringah. “Selama 80 menit,” katanya, “kami bermain sempurna—permainan terbaik yang pernah aku lihat di sepanjang hidupku.” Dan pujian paling sempurna terjadi ketika para penggemar Manchester City yang memadati Etihad Stadium memberikan aplaus panjang untuk pemain-pemain Bayern.

Dari pertandingan itulah Pep kemudian mengerti: untuk memberikan penampilan terbaik bagi tim, Muller memang harus diberi kebebasan. Sejak itu Pep selalu membiarkan Muller bermain sesukanya, sebagaimana seorang raumdeuter. Bahkan pada musim terakhirnya bersama Bayern, Pep sampai merancang “ecosystem” (sistem empat penyerang di mana Muller bermain sebagai penyerang bayangan) untuk memaksimalkan kemampuan Muller sebagai raumdeuter. Ganjarannya, Muller berhasil mencetak 20 gol di Bundesliga (terbanyak di sepanjang kariernya) pada musim tersebut. Dan selama tiga musim bekerja sama di Bayern, Muller juga membantu Pep meraih tujuh piala: 3 gelar liga, 2 gelar DFB Pokal, 1 gelar UEFA Super Cup, dan 1 gelar Kejuaraan Dunia Antar Klub FIFA.

Baca juga artikel terkait BUNDESLIGA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight