Tes Urine Andi Arief Negatif, Apa Saja Kemungkinannya?

Politisi Partai Demokrat Andi Arief tiba di Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melakukan proses rehabilitasi narkoba, Jakarta, Rabu (6/3/2019). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Widia Primastika - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ada beberapa metode uji kandungan narkoba. Jika mau, bisa dilakukan tes lagi untuk Andi Arief. Motodenya: uji rambut.
tirto.id - Beberapa waktu lalu, beredar hasil uji laboratorium pengecekan urine Andi Arief yang menyatakan hasil tes narkoba-nya negatif. Menanggapi hal tersebut, Kabag Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono mengatakan bahwa masing-masing pengguna memiliki ketergantungan yang berbeda terhadap narkoba.

“Perlu diingat bahwa seseorang habis memakai narkoba ada masa tidak terbaca, baik darah dan air seni, maupun rambut,” ujar Pudjo di Mabes Polri, Jumat (8/3/2019).

Pudjo pun merinci tiga hal tersebut. Di dalam darah, kandungan zat bisa bertahan selama 1-2 hari, kandungan zat di urine sekitar 3 hari, dan di dalam rambut lebih dari 5 hari. Artinya, setelah tiga hari, air seni tidak terdeteksi mengandung narkoba.


Andi Arief melakukan tes narkoba pada 8 Maret 2019 pukul 15.30 setelah ditangkap polisi karena kepemilikan narkoba pada 4 Maret 2019. Dalam poin drug test milik Andi Arief, parameter yang diuji oleh petugas Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Cibubur, Jakarta Timur adalah Benzodiazepine, Cannabis, Opiate, Amphetamine, dan Methylenediozymethamphetamine (MDMA).

Menilik situs resmi Badan Narkotika Nasional (BNN), ada beragam jenis pemeriksaan narkoba yang bisa dilakukan seperti urine, darah, rambut, air liur, dan keringat. Setiap metode pengujian mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

BNN menganggap pemeriksaan urine dengan menggunakan rapid test lebih efektif dibandingkan pemeriksaan untuk jenis spesimen lain. Alasannya, konsentrasi narkoba yang dihasilkan lebih banyak terdapat di urine. Selain itu, biaya tes urine lebih ekonomis, alat uji lapangan mudah didapat, dan waktu deteksi cepat.

Hanya saja, pemeriksaan urine harus memperhatikan jenis zat yang dikonsumsi dan tingkat ketergantunganya, dengan waktu maksimal 8 hari setelah pemakaian, kecuali untuk ganja, yang masih bisa dideteksi sampai dengan 2 minggu pemakaian. Dalam deteksi narkoba dalam urine, waktu deteksi tersebut bergantung dari metabolisme pengguna narkoba.

Khusus untuk spesimen urine yang mengandung narkoba, BNN menerapkan dua tahapan pengujian, yaitu pemeriksaan awal (skrining) dan lanjutan (konfirmasi). Pemeriksaan skrining yang dilakukan oleh Balai Laboratorium Narkoba BNN merupakan pemeriksaan cepat, sensitif, tidak mahal, dan memiliki tingkat presisi dan akurasi yang dapat diterima.

Metode skrining urine yang digunakan BNN pun beragam. Ada model strip/stick yang didesain untuk pengujian tanpa tenaga terampil, model stick tetes/ cart test yang mirip dengan model strip/ stick, serta model pot. Di antara seluruh jenis tes urine tadi, jenis cup test-lah yang paling praktis jika dibandingkan model lain karena tempat penampungan dan deteksi menjadi satu.

Pada penyimpanan rapid test, urine ditempatkan pada suhu antara 15 hingga 180 Celcius.

Mengenal Jenis-Jenis Uji Narkoba

Sistem pemeriksaan narkoba dengan dua langkah, skrining dan konfirmasi, tak hanya diberlakukan oleh BNN. Seperti ditulis Drugs.com, Amerika Serikat juga menerapkan proses yang sama, yaitu cara awal yakni tes immunoassay dan tes konfirmasi yang menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa.

Scott E. Hadland dan Sharon Levy dalam studinya yang berjudul “Objective Testing-Urine and Other Drug Tests” (PDF) mengatakan tes urine immunoassay biasanya digunakan untuk evaluasi kualitatif, sedangkan pemeriksaan lanjutan dengan kromatografi gas-spektrometri massa digunakan untuk mengetahui hasil kuantitatif dari zat.

Jika hasil dari immunoassay negatif, mereka tak akan melanjutkan ke pemeriksaan lebih lanjut. Namun, jika hasilnya positif, mereka akan melakukan analisis kromatografi gas-spektrometri massa untuk mendapatkan hasil spesifik.


Hadland dan Levy menyatakan hasil tes immunoassay tak bisa menjadi satu-satunya jalan untuk memvonis seseorang menggunakan narkoba, meskipun ia memiliki sensitivitas tinggi.

Maka dari itu, para pemeriksa harus melakukan pengujian lanjutan menggunakan kromatografi gas-spektrometri massa, sebab dalam pengujian ini, laboratorium bisa mengidentifikasi jenis obat secara spesifik. Zat yang terkandung pun tak akan bereaksi dengan substansi lain.

Tes darah sebenarnya bisa menjadi alternatif lain pengujian narkoba, tetapi uji ini hanya cocok untuk situasi darurat karena obat-obatan hanya bisa terdeteksi antara 2 hingga 12 jam sejak pemakaian. Padahal, tes darah tak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Butuh keahlian khusus untuk melakukan ujinya.



Metode lain yang bisa dijadikan pertimbangan untuk mendeteksi kandungan narkoba dalam tubuh adalah pengujian cairan oral. Cara ini memang kalah populer ketimbang uji urine, tapi sampel dari saliva tak mudah rusak. Meski demikian, Olaf H. Drummer (PDF) melalui artikelnya yang berjudul “Drug Testing in Oral Fluid” menyarankan uji ini tak dipakai sebagai metode satu-satunya karena karakteristik farmakokinetik yang kompleks. Ia bahkan lebih kompleks dibandingkan pengecekan darah, sehingga metode ini lebih cocok disertai dengan uji lanjutan.

Uji penyalahgunaan narkoba yang cocok untuk pengujian lanjutan selain uji urine adalah tes rambut. Menurut Hadland dan Levy, uji ini cocok untuk mendeteksi penggunaan zat dalam jangka waktu tahunan. Namun, metode ini tak bisa digunakan untuk pengujian langsung karena ia baru bisa mendeteksi kandungan pada rambut setelah pemakaian (narkoba) lebih dari 7 hari.


Hadland dan Levy memaparkan bahwa metabolit dari narkoba baru masuk ke rambut setelah satu minggu. Namun, setelah masuk ke rambut, zat tersebut akan terjebak dalam inti rambut ketika tumbuh. Oleh sebab itu, pengujian ini masih bisa mendeteksi penggunaan narkoba yang dikonsumsi tiga bulan sebelum tes.

Periode panjang deteksi menggunakan sampel rambut ini berguna untuk mendeteksi pengguna kronis. Namun, uji ini tak begitu diminati karena konsentrasi narkoba bisa dipengaruhi oleh kandungan melanin pada rambut. Pada orang berambut gelap, beberapa jenis obat-obatan bisa terdeteksi lebih tinggi dibandingkan pengguna berambut pirang atau merah.

Selain itu, konsentrasi metabolit pada metode deteksi rambut juga dipengaruhi pewarnaan rambut maupun bleaching rambut yang pernah dilakukan oleh pengguna.

Jadi, sebaiknya pakai metode apa?

Debra Sullivan dalam artikel berjudul “Everything You Should Know About a Hair Follicle Drug Test” yang dipublikasikan Healthline menulis bahwa uji urine dan uji rambut memiliki kelebihan masing-masing.

Tes urine memang prosedur yang cocok untuk mengetahui penggunaan narkoba seseorang dalam waktu dekat, tapi untuk mendeteksi ketergantungan zat pada seseorang, uji rambutlah yang paling efektif karena rentang waktu konsumsi ke pengujian lebih panjang.

Untuk kasus Andi Arief, bisa saja Andi Arief memang tidak mengonsumsi narkoba. Namun, ada yang perlu ditilik: uji urine yang telah dilakukannya empat hari pasca-penangkapan sangat mungkin tidak terandalkan, sebab kandungan narkoba pada urine bisa hilang dalam hitungan 2-3 hari. Tes selanjutnya bisa saja dilakukan atas Andi Arief dengan metode uji rambut.

Baca juga artikel terkait KASUS NARKOBA ANDI ARIEF atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight