Menuju konten utama

Taktik Sriwijaya di Promo Rp12 Juta Terbang Sepuasnya Setahun Penuh

Sriwijaya menerapkan syarat dan ketentuan berlaku pada promo Rp12 juta bagi pelanggan yang ingin terbang sepuasnya setahun penuh.

Taktik Sriwijaya di Promo Rp12 Juta Terbang Sepuasnya Setahun Penuh
Ilustrasi: Sejumlah penumpang mengantre di loket maskapai penerbangan untuk mengambil pengembalian uang tiket di Bandara Djalaludin, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (30/4/2018). ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

tirto.id - “Terbang Sepuasnya Setahun Penuh.”

Laman resmi Sriwijaya Air nampak mencolok dengan slogan promo penerbangan Rp12 juta bisa terbang setiap hari selama setahun ke kota manapun di Indonesia. Maskapai penerbangan ini juga gencar menawarkan promo dengan nama SJ Travel Pass di mal-mal Jabodetabek yang berlaku hanya sampai 9 Juni 2018.

Sriwijaya Air menggandeng beberapa bank sebagai mitra pendaftaran SJ Travel Pass. Para bank yang menjadi mitra maskapai ini bisa memberikan fasilitas cicilan 0 persen dengan tenor 3-12 bulan.

Nizal, warga yang tinggal di Tangerang, salah satu yang tergiur dengan promo ini. Ia mengaku sudah membeli SJ Travel Pass melalui laman resmi Sriwijaya Air pada hari pertama promosi, 9 April 2018.

“Saya langsung ambil promo itu di hari pertama. Beli lewat website-nya. Saya ini memang biasa terbang minimal dua kali dalam sebulan. Maklum, istri saya di Palembang, sementara saya bekerja di Tangerang,” katanya kepada Tirto.

Pria yang bekerja di salah satu bank BUMN ini mengaku sudah melakukan hitung-hitungan, sebelum mengambil promo. Menurut perhitungan kasarnya, ia dapat lebih berhemat dengan SJ Travel Pass.

Namun, tidak menutup kemungkinan juga pengeluaran untuk transportasi udara justru melonjak. Bisa saja, gara-gara SJ Travel Pass, Nizal juga berencana untuk terbang ke tempat-tempat lainnya di Indonesia.

“Bisa lebih hemat ketika musim-musim long weekend. Harga tiket kala itu kan bisa naik 2-3 kali lipat. Tapi, kayanya sih, kalau saya malah bakal lebih sering terbang lagi nih,” ujar pria asal Malang ini.

Bukan Hal Baru

Promo terbang sepuasnya semacam Sriwijaya Air bukan satu-satunya di bisnis penerbangan. Di level internasional, promo sejenis sudah pernah diterapkan. Surf Air misalnya, maskapai asal AS ini menawarkan keanggotaan all you can flysenilai US$3.225 per bulan. Pelanggan dapat terbang sepuasnya ke kota-kota di Eropa, antara lain London, Cannes, Geneva, dan Zurich.

Selain soal harga, pelanggan juga mendapatkan manfaat lainnya dari keanggotaan. Surf Air bukan maskapai berjadwal, pelanggan tidak perlu melalui pemeriksaan yang ketat. Para pelanggan bisa datang 15 menit sebelum keberangkatan. Selain Surf Air, Azul Airlines asal Brazil juga pernah menawarkan promo terbang sepuasnya atau Azul Airpass di Brazil selama 21 hari dengan harga sekitar US$499, atau 10 hari dengan harga sekitar US$399,.

Promo yang ditawarkan Sriwijaya Air tak bebas dari syarat dan ketentuan. Untuk itu, penting bagi pelanggan untuk memperhatikan syarat dan ketentuan ini agar tidak kecele. Ada 12 syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan pelanggan di antaranya seperti promosi ini hanya berlaku bagi orang dewasa (>13 tahun), promosi ini hanya berlaku untuk pemegang identitas yang terdaftar.

Lalu, promosi ini berlaku bagi seluruh rute penerbangan Sriwijaya Air dan NAM Air, kecuali rute penerbangan charter. Pemegang SJ Travel Pass hanya bisa membeli tiket sebelum waktu keberangkatan melalui laman resmi atau aplikasi mobile Sriwijaya Air.

Tiket yang dibeli dalam promo ini bersifat tetap. Artinya, tiket hanya dapat digunakan pada waktu periode promosi, dan penumpang tidak dapat mengubah apapun, misalnya mengubah tanggal keberangkatan, mengajukan pembatalan dan refund.

Nah, ketentuan yang paling penting dari promo ini adalah setelah membayar paket Rp12 juta, pelanggan masih tetap menanggung sejumlah biaya penerbangan, di antaranya pajak bandara, pajak penumpang, asuransi dan biaya administrasi.

“Misalnya mau ke Denpasar dari Soekarno-Hatta, pelanggan hanya membayar Rp164.600 sekali flight, ke Yogyakarta Rp157.000, atau ke Jayapura Rp288.000. Jadi bayar administrasi aja,” kata Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo kepada Tirto.

Toto berharap strategi Sriwijaya Air menawarkan SJ Travel Pass tersebut dapat menaikkan tingkat keterisian penumpang pesawat. Saat ini, rata-rata tingkat keterisian Sriwijaya Air baru mencapai 85 persen dari kapasitas.

infografik perkembangan penumpang angkutan udara domestik

Program Promo dan Masalah Keuangan

Sriwijaya Air mengklaim promo “Terbang Sepuasnya Setahun Penuh” sebagai cara menaikkan tingkat keterisian penumpang. Namun, promo tersebut dinilai terlalu berlebihan, dan memunculkan tanda tanya soal kondisi arus kas (cash flow) perusahaan penerbangan seperti Sriwijaya Air.

“Promo ini terbilang cukup ekstrem. Bisa jadi cashflow-nya sedang merah, sehingga untuk mendapatkan cash flow secara cepat, yah dengan begitu caranya,” kata Arista Atmadjati, Direktur Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) kepada Tirto.

Ada tiga faktor yang membuat Arista meyakini maskapai Indonesia saat ini tengah kesulitan keuangan. Pertama, dolar yang menguat terhadap rupiah membuat biaya maskapai bengkak. Untuk diketahui, sekitar 80 persen dari total biaya maskapai dibayar dengan dolar.

Kedua, harga avtur yang meningkat. Menurut International Air Transport Association (IATA) dalam laporan rutin ihwal jet fuel price, rata-rataharga bahan bakar sudah naik 6 persen dalam sebulan terakhir, dan sudah naik sekitar 46 persen dibandingkan setahun lalu. Sementara itu, harga avtur Pertamina di Bandara Soekarno-Hatta saat ini sebesar US$0,57 per liter atau Rp7.980 per liter

Ketiga, melambatnya pertumbuhan jumlah penumpang. Tren pertumbuhan penumpang dari 2016 hingga 2018 terus menurun. Pada kuartal I-2016, jumlah penumpang memang naik 20,35 persen menjadi 18,44 juta orang dibandingkan kuartal I-2015 sebanyak 15,3 juta orang.

Namun, pada kuartal I-2017, pertumbuhan jumlah penumpang melambat dengan hanya naik 9,85 persen menjadi 20,22 juta orang. Pada kuartal I-2018, pertumbuhan penumpang naik tipis dengan hanya naik hanya 9,89 persen menjadi 22,2 juta orang.

“Jadi, ini untuk mendapatkan uang cepat demi membiayai beban jangka pendek, seperti biaya sewa pesawat. Kalau telat bayar, bisa ditarik pesawatnya oleh lessor,” tutur Arista yang juga menulis buku berjudul ‘Fenomena Perkembangan Bisnis Maskapai Di Indonesia’ (2013).

Namun, Sriwijaya Air membantah arus kas mereka sedang merah. Sriwijaya mengklaim finansial dan operasional maskapai masih sehat.

“Tidak ada persoalan keuangan. Kami hanya ingin agar 3 juta kursi yang kosong bisa terisi,” ujar Toto.

Klaim Toto mengenai finansial Sriwijaya Air yang sehat berkebalikan dengan dengan kondisi keuangan para kompetitornya. Maskapai-maskapai besar seperti Garuda Indonesia, AirAsia hingga Lion Air mencatatkan rugi sepanjang 2017.

Pada 2017, Garuda Indonesia membukukan rugi bersih sebesar US$213,4 juta. Pada kuartal I-2018, Garuda kembali mencatatkan rugi bersih sebesar US$64,3 juta, menyusut 36,5 persen dari rugi bersih kuartal I-2017 sebesar US$101,2 juta.

AirAsia Indonesia juga sama. Pada 2017, maskapai dengan kode emiten CMPP ini mencatatkan rugi bersih Rp513 miliar. Rugi bersih AirAsia berlanjut lagi pada 2018. Per kuartal I-2018, AirAsia tercatat rugi bersih Rp218 miliar. Lion Air juga mengklaim mengalami kerugian usaha sepanjang 2017, bahkan nilainya lebih besar ketimbang rugi 2016.

“Semua rugi berat, bisnis penerbangan secara global sama,” kata Edward Sirait, Direktur Utama Lion Air Group, kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait MASKAPAI PENERBANGAN atau tulisan lainnya dari Ringkang Gumiwang

tirto.id - Marketing
Reporter: Ringkang Gumiwang
Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra