Tak Ada Maaf untuk Pembunuh John Lennon

Fans berkumpul menyanyikan "Give Peace a Chance" pada ulang tahun ke-30 pembunuhan John Lennon 8 Desember 2010 di Ottawa, Ontario. [Foto/Shutterstock]
Oleh: Alexander Haryanto - 31 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Untuk yang kesembilan kalinya, Chapman, seorang pembunuh John Lennon kembali mengajukan pembebasan bersyarat pada 29 Agustus 2016 lalu. Namun pengadilan kembali menolaknya. Menurut Dewan Pembebasan Bersyarat New York, Chapman dianggap belum layak bebas karena mentalnya belum sembuh. Ia pun kembali mendekam di rumah tahanan Erie County dekat Buffalo, New York dengan perlindungan maksimal.
tirto.id - Desember, tiga puluh enam tahun silam, seorang yang terobsesi dengan The Beatles bernama Mark David Chapman mendatangi John Lennon. Ia ingin meminta tanda tangan pada kopian album “Double Fantasy”, sebuah album yang digarap Lennon bersama istrinya Yoko Ono.

Lennon bersedia. Ia pun membubuhkan tanda tangannya pada album tersebut sebelum bertolak ke Record Plant Studio. Sepulang Lennon dari studio, Chapman masih menunggunya di apartemen pentolan The Beatles itu. Ketika Lennon memasuki pintu lorong apartemennya, Chapman pun mencabut pistol dan melepaskan tembakan sebanyak lima kali. John Lennon tersungkur dan meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Roosevelt Manhattan.

Setelah stasiun berita lokal secara resmi melaporkan kematian sang legenda, ribuan penggemarnya berkumpul di Roosevelt Hospital dan di depan The Dakota. Jenazah Lennon pun dikremasi pada hari Rabu, 10 Desember 1980, di Ferncliff Cemetery di Hartsdale, New York. Abu hasil kremasi itu diberikan pada Yoko Ono. Sementara sang pelaku pembunuhan, Chapman dijebloskan ke penjara dan mendapatkan hukuman selama 20 tahun.

Penolakan Pembebasan Bersyarat

Sejak tahun 2000, Chapman rutin mengajukan pembebasan bersyarat. Hal tersebut dilakukannya setiap dua tahun sekali. Tapi, karena mentalnya dianggap belum sembuh, pengadilan selalu menolaknya. Terkait dengan permintaan maaf itu, Yoko Ono bahkan memberikan pernyataan kepada pengadilan, bahwa kematian John Lennon masih membekas dan amat melukainya dan anaknya Sean Lennon. Mereka amat terpukul dengan kejadian itu.

Chapman tak pernah berhenti, bahkan baru-baru ini, tepatnya Senin, 29 Agustus 2016, ia kembali mengajukan pembebasan bersyarat untuk yang kesembilan kalinya. Lagi-lagi, pengadilan menolaknya. Chapman tetap mendekam di balik jeruji besi dengan perlindungan maksimal di rumah tahanan Erie County dekat Buffalo, New York.

Menurut keterangan resmi Dewan Pembebasan Bersyarat New York, pembebasan Chapman hanya akan mencederai dan menurunkan wibawa hukum. "Berdasarkan wawancara dan tinjauan rekam jejak Anda, menurut kami pembebasan Anda akan tidak sebanding dengan keselamatan masyarakat dan akan menjadi cela bagi penanganan kejahatan serius kejahatan sekaligus menurunkan wibawa hukum." kata Dewan Pembebasan Bersyarat New York dalam keterangan resminya, seperti dikutip dari Antara.

Meskipun demikian, Chapman mengaku tidak akan berhenti dan tetap akan kembali mengajukan pembebasan bersyarat pada Agustus 2018 mendatang.

John Lennon bukan satu-satunya musisi yang tewas akibat senjata. Menurut laporan Guns.com tercatat kurang lebih 79 orang musisi yang tewas akibat senjata mulai dari tahun 1950 hingga 2016. Antara lain, Johnny Ace, Sam Cooke, Joe Meek, Chistina Grimmie, dan masih banyak lagi.

Johnny Ace adalah seorang musisi asal Amerika yang diduga tewas bunuh diri dengan pistol pada usianya yang ke 25 tahun. Sedangkan Sam Cooke, penyanyi sekaligus penulis lagu asal Amerika itu juga tewas setelah ditembak oleh manajernya Hacienda Motel di Los Angeles. Joe Meek, yang juga seorang produser dan penulis lagu pop instrumental asal Inggris itu juga dikabarkan bunuh diri dengan pistol setelah terlilit utang dan depresi yang berkepanjangan.

Korban terbaru dari korban keganasan senjata adalah Chistina Grimmie, penyanyi keluaran The Voice. Penyanyi berusia 22 tahun itu tewas setelah terkena tembakan di bagian kepala setelah menggelar konser di Orlando, Amerika Serikat, Jumat malam, 10 Juni 2016, waktu setempat. Adalah Kevin James Loibl sebagai pelaku tunggal penembakan. Ia secara khusus datang untuk menembak Grimmie yang sedang kariernya sedang gemilang.



Setelah Pembunuhan John Lennon

Peristiwa kematian akibat senjata semakin menjadi-jadi. Menurut laporan Rolling Stone, sejak John Lennon ditembak mati, kurang lebih 1,15 juta orang tewas akibat senjata api di Amerika Serikat, laporan tersebut merujuk kepada data yang dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention, dan dikonfirmasi oleh New Yorkers Against Gun Violence. Tidak hanya musisi, kasus penembakan juga menyasar sekolah dan tempat umum.

Hillary Clinton, dalam pidato resminya di Florida Desember 2015 lalu bahkan mengatakan, dalam sehari, kurang lebih sembilan puluh orang Amerika mati akibat senjata, baik itu pembunuhan, maupun bunuh diri dan kurang lebih 33.000 orang Amerika meninggal setiap tahun karena itu.

Maraknya penembakan itu memunculkan tekanan untuk masalah pengendalian peredaran senjata. Presiden Obama mendesak Kongres untuk memberlakukan undang-undang guna melarang penjualan senapan serbu strandar militer di toko-toko, Obama bahkan mewajibkan pemeriksaan ketat bagi calon pembeli senjata api.

Obama bahkan mengabaikan para oposisinya di Kongres dengan mengambil langkah sepihak guna mengatur perdagangan senjata api. Selama menjabat sebagai orang nomor satu di AS, Obama mengaku seringkali kecewa terhadap penolakan Kongres untuk memperketat pengendalian senjata api.

Tindakan Obama yang secara sepihak itu bahkan menimbulkan kontra, terkait dengan itu, Dewan Perwakilan Rakyat dari partai Republik, Paul Ryan menuduh Obama meremehkan warga Amerika yang menjunjung hak konstitusionalnya untuk memiliki senjata.

"Kami semua disakiti oleh adanya kekejaman yang terjadi belakangan ini di negara kami, tetapi tidak ada perubahan dari apa yang presiden pertimbangkan telah mencegah mereka. Kami telah melihat secara konsisten bahwa sebuah penyebab pokok serangan tersebut adalah permasalahan kejiwaan," kata Ryan.

Menjawab tuduhan tersebut, Obama bahkan meminta seluruh warga AS untuk mengecam para anggota parlemen yang menentang reformasi tentang aturan peredaran senjata.

"Jadi kita semua harus menuntut Kongres agar berani menghadapi kebohongan lobi senjata di sana," kata Obama dikutip dari Antara.

Di tengah tentangan di Kongres, Obama secara resmi mengeluarkan langkah-langkah eksekutif demi memperketat perdagangan senjata. Meskipun demikian, Obama juga mengakui bahwa langkah tersebut tidak sepenuhnya dapat menghentikan penembakan massal.

"Kita tahu bahwa kita tidak dapat menghentikan setiap tindak kekerasan, setiap tindakan di dunia. Tetapi mungkin kita bisa mencoba menghentikan salah satu tindak kejahatan, salah satu tindak kekerasan," kata Obama.

Apabila peraturan tentang pengendalian senjata dimulai dari jauh-jauh hari, mungkin saja John Lennon akan menghasilkan album-album yang akan mengobati kerinduan seluruh penggemarnya di seluruh dunia. Tak hanya itu, ribuan orang lainnya juga bisa diselamatkan karena tak ada senjata yang meletus sembarangan.

Baca juga artikel terkait SENJATA API atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight