Sulitnya Mengendalikan Penyebaran Corona di Pasar Jakarta

Oleh: Riyan Setiawan - 25 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pasar adalah salah satu tempat penyebaran COVID-19 yang sulit diantisipasi. Jaga jarak sulit, pun dengan protokol kesehatan yang tak sepenuhnya diterapkan.
tirto.id - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku sangat sulit mengendalikan pandemi COVID-19 di pasar-pasar tradisional, yang jumlahnya 153. “Pasar itu salah satu yang paling kompleks pengendaliannya,” kata Anies di Balaikota DKI, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2020).

Pernyataan Anies terbukti dengan semakin bertambahnya para pedagang pasar yang terinfeksi COVID-19 setiap hari.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menyebut pada 11 Juni lalu jumlah pedagang pasar Jakarta yang dinyatakan positif jumlahnya 51 orang. Terbanyak berasal dari Pasar Perumnas Klender Jakarta Timur, 18 orang.

Pada Minggu 14 Juni, pedagang pasar yang positif menjadi 64 orang, tersebar di delapan pasar tradisional. Paling banyak terdapat di Pasar Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat, sebanyak 23 orang. Lima hari kemudian angkanya membengkak dua kali lipat menjadi 138 kasus, tersebar di 19 pasar tradisional. Paling banyak terdapat di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, yaitu 49 orang. Pada pendataan terakhir, Selasa 23 Juni, jumlah kasus bertambah 14.

Total, hingga kemarin lusa (23/6/2020), ada 152 orang pedagang dinyatakan positif tersebar di 20 pasar.

"Angka kematian pedagang pasar di Jakarta masih nol," kata Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri kepada reporter Tirto, Selasa (23/6/2020).


Ada beberapa faktor yang menyebabkan penyebaran virus Corona di lingkungan pasar tradisional relatif masif, kata Abdullah. Pertama, tak ada sistem pembayaran non-tunai yang difasilitasi oleh Pemprov DKI. Uang tunai adalah salah satu tempat yang potensial jadi medium penyebaran virus. Kedua, tidak ada penyemprotan disinfektan secara rutin. Pemerintah, kata dia, hanya menyemprot ketika ditemukan pedagang pasar yang dinyatakan positif COVID-19.

Selanjutnya penerapan protokol kesehatan seperti penyediaan hand sanitizer, wastafel, dan menjaga jarak kurang dipatuhi pedagang dan pembeli.

Terkait asal usul virus, ia menilai bisa jadi berasal dari pada pedagang yang sempat mudik pada Idulfitri lalu.

Maka dari itu IKAPPI meminta kepada Pemprov DKI dan juga pengelola pasar untuk mengedukasi penjual dan pembeli agar menerapkan protokol kesehatan. Ini bisa dilakukan misalnya dengan menempel poster protokol kesehatan. Untuk pengelola pasar, ia menganjurkan mengatur ulang jarak satu sama lain, melakukan tes suhu badan kepada pengunjung sebelum masuk pasar, kemudian mempersiapkan sekat plastik antara pedagang dan pembeli.

"Transaksi bisa pakai nampan agar tidak ada kontak fisik. Atau menggunakan sarung tangan plastik," katanya.

Dia juga meminta pedagang menggunakan masker dan jaga jarak minimal satu meter, selalu menjaga kebersihan setelah berinteraksi, lalu membersihkan tubuh setelah pulang dari pasar. Kemudian yang terpenting, pengelola wajib menyediakan tempat pencuci tangan di masing-masing blok. Pengelola pasar juga harus melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala saat pasar tutup.

"Jangan disemprot waktu ada pedagang yang positif saja. Pemerintah dan pengelola harus punya langkah pencegahan," pungkasnya.


Klaim Tidak Pasif

Data pedagang positif dari Dirut Pasar Jaya DKI Arief Nasruddin lebih sedikit ketimbang IKAPPI. Ia mengatakan hingga Selasa 23 Juni terdapat 105 pedagang pasar yang dinyatakan positif COVID-19, berasal dari 15 pasar. Mereka diketahui positif setelah pemprov melakukan tes massal kepada pedagang di 46 pasar. Sembilan pasar dinyatakan negatif dan sisanya masih menunggu hasil.

"Proses ini [swab test massal untuk pedagang pasar tradisional] akan terus kami jalani," kata dia di Gedung Balai Kota, Jakarta Pusat, lalu mengatakan jumlah pedagang pasar di Jakarta kurang lebih 100 ribu.

Arief mengatakan pedagang pasar yang dinyatakan positif langsung dilarikan ke rumah sakit rujukan. "Kalau pedagang yang OTG (orang tanpa gejala) diminta untuk melakukan isolasi mandiri," ucapnya.

Ia bilang Pemprov DKI sebenarnya telah melakukan berbagai antisipasi agar virus tidak menyebar di pasar. Salah satunya dilakukan penyemprotan disinfektan. Penyemprotan ini, katanya, tak hanya dilakukan ketika ditemukan pedagang yang dinyatakan positif COVID-19 saja. Penyemprotan disinfektan dilakukan dua minggu sekali di seluruh Pasar di Jakarta.

Sejumlah pasar yang dinyatakan terpapar akan ditutup selama tiga hari untuk disemprot disinfektan agar kembali steril--misalnya Pasar Minggu. Setelah tiga hari, pasar diizinkan kembali beroperasi.

Protokol kesehatan juga telah diterapkan, seperti setiap pedagang dan pengunjung diwajibkan menggunakan masker, dicek suhu tubuhnya sebelum masuk pasar, menggunakan hand sanitizer, mencuci tangan dengan fasilitas air mengalir, dan sebagainya. Semuanya diawasi oleh Satpol PP. Tak kurang 918 orang diterjunkan untuk memastikan protokol tersebut dijalankan.

Demi mengurangi kerumunan orang, pihaknya juga bekerja sama dengan beberapa e-commerce agar dapat melakukan perniagaan secara daring. Ia juga menyinggung kebijakan sistem ganjil genap di pasar agar tidak terjadi kerumunan.


"Kami intensif melakukan proteksi di pasar tradisional. Sebenarnya kami tidak dalam kondisi pasif," katanya.

Namun, menurut Abdullah, kebijakan diterapkan Gubernur Anies ini justru turut serta mengondisikan penyebaran virus.

"Misalnya ada 100 pedagang, kalau sistem ganjil genap berarti hanya 50 yang buka. Yang tadinya pembeli bisa menyebar di 100 pedagang, karena sistem ganjil genap pembeli jadi berkerumun di 50 pedagang, jadinya semakin padat," katanya.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight