Subvarian Omicron Capai 57 Kasus, Epidemiolog: Tak Perlu Khawatir

Reporter: Farid Nurhakim - 22 Jun 2022 19:05 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Menurut epidemiolog, jika vaksinasi dilakukan dengan cepat, maka dampak varian baru tidak akan besar dan angka kematian dan hospitalisasi dapat ditekan.
tirto.id - Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono menyebut tidak khawatir dengan total kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia sampai kemarin, (21/6/2022) sebanyak 57 kasus atau 10 kasus BA.4 dan 47 kasus BA.5.

“Tidak khawatir. Enggak apa-apa. Kenapa harus khawatir? Biarin saja naik, yang penting enggak ada yang masuk rumah sakit sama yang meninggal,” ucap dia ketika dihubungi Tirto pada Rabu (22/6/2022) sore.

“Tenang saja, enggak usah panik. Yang penting, kalau ada kenaikan sih enggak apa-apa, itu konsekuensi daripada masyarakat yang enggak mau prokes,” imbuh Pandu.

Dia menuturkan, bahwa sampai sekarang kematian akibat kedua subvarian Omicron tersebut masih tidak ada di tanah air dan tidak menimbulkan kehebohan seperti varian COVID-19 sebelumnya.

“Kenapa bisa terjadi kayak gitu? Ya pertama masih awal gitu kan, ini kan masih awal nih,” tutur dia.

Solusinya, kata Pandu, yaitu dengan meningkatkan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga (booster) dan tetap menerapkan protokol kesehatan atau prokes.

“Kalau itu dilakukan dengan cepat, maka walaupun ada varian baru, dampaknya enggak besar,” ujar dia.

Sementara itu, Epidemiolog dari FKM UI lainnya, Iwan Ariwan juga tidak khawatir atas total kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sampai kemarin itu. Menurut dia, utamanya adalah angka pasien yang dirawat di rumah sakit atau hospitalisasi dan angka kematian bisa dijaga serendah mungkin di negeri ini.

“Varian Omicron BA.4 dan BA.5 memang sudah ada transmisi lokal di Indonesia. Yang penting hospitalisasi dan [angka] kematian tetap dijaga rendah,” kata Iwan kepada Tirto, Rabu (22/6/2022) sore.

Sama dengan usulan Pandu, Iwan pun mendorong agar cakupan vaksinasi booster ditingkatkan di Indonesia. Sehingga kadar antibodi COVID-19 pada populasi yang tinggi dapat mencegah kasus berat dan kematian.

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman menyebut sebenarnya mungkin total kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia telah mencapai puluhan ribu.

“Kalau bicara jumlah, sebetulnya jumlahnya saja sekarang sudah bisa puluhan ribu terinfeksi, tapi kan mayoritas tidak bergejala,” kata dia saat dihubungi Tirto pada Rabu (22/6/2022) sore.

Menurut Dicky, kalau bicara jumlah, itu kembali ke kemampuan pemerintah Indonesia dalam mendeteksi seperti melakukan testing, tracing, dan treatment (3T). “Yang jelas itu masih jadi PR [pekerjaan rumah] kan. Dan ini tentu akan ada dampaknya,” ucap dia.

Dicky lalu menganjurkan agar Indonesia melakukan pengetatan ketat dan tidak mesti dalam bentuk kuncitara (lockdown). Tetapi, penguatan ini mulai dari aspek 3T, penguatan surveilans, serta penguatan pada aspek prokes.

“3T enggak mesti masif, tapi terwakili dan terjaga kualitas kuantitasnya,” kata dia.

Tujuannya, jelas Dicky, agar bisa meredam dan memastikan setidaknya orang-orang yang terinfeksi ini menyadari gejala apa yang berbahaya dan akhirnya mereka harus memutuskan apakah tinggal di rumah atau menjalani karantina. “Sehingga tidak menularkan,” sambung dia.



Baca juga artikel terkait SUBVARIAN OMICRON BA4 DAN BA5 atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Restu Diantina Putri

DarkLight