Menuju konten utama

Suara dan Gerakan Politik Kaum Milenial

Kaum milenial bukan generasi yang malu-malu, bukan penurut, dan tak punya sikap. Dalam politik, generasi milenial sudah punya sikap yang tegas, dan tak sungkan menyuarakan sikap politik mereka. Ini terjadi di Amerika Serikat, Hong Kong,dan juga Indonesia.

Suara dan Gerakan Politik Kaum Milenial
Para pendukung bakal calon presiden Amerika Serikat dari partai Demokrat Hillary Clinton di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Antara foto/Reuters/Lucas Jackson

tirto.id - Gerakan politik kaum milenial jadi fenomena global, termasuk terjadi di Hong Kong yang dimulai dua tahun lalu. Adalah Nathan Law yang sudah menyuarakan sikap politiknya sejak usia 15 tahun. Aksi prodemokrasi yang dilakukannya pada 2014 sempat melumpuhkan pusat bisnis di Hong Kong. Berkat aksi itu, generasi muda di Hong Kong berhasil mendapatkan perhatian. Nathan Law pun akhirnya bisa menjadi seorang anggota parlemen.

Pada Desember 2015, Nathan Law menjadi pemberitaan karena memimpin pelajar dalam melakukan aksi prodemokrasi di Hong Kong. Ia secara resmi terpilih menjadi anggota parlemen pada 4 September 2016. Di usianya yang masih 23 tahun, ia membuat kejutan dengan mengantongi 50 ribu suara yang mengantarkannya menjadi anggota parlemen termuda di Hong Kong.

Popularitas Law sebagai aktivis politik kaum milenial cepat naik. Ia tidak sendirian, rekan seperjuangannya saat demo besar-besaran bernama Joshua Wong tak kalah muda ketika memimpin aksi puluhan ribu milenial dua tahun lalu. Saat baru berusia 15 tahun, Joshua sudah memimpin gerakan “Scholarism” yang menjadi wadah bagi pelajar untuk menyuarakan aspirasi politiknya. Saat demo besar-besaran bersama Law September 2014 lalu, usia Joshua baru 17 tahun yang sekaligus menjadi otak di balik aksi yang dijuluki Gerakan Payung tersebut.

Dalam aksi Gerakan Payung yang berlangsung selama 79 hari tersebut, para generasi milenial Hong Kong menuntut proses demokrasi dalam penentuan pemimpin untuk wilayah Hong Kong kepada pemerintahan Cina. Ini menyusul keputusan Cina untuk tidak mengabulkan demokrasi penuh di Hong Kong dalam pemilihan umum tahun 2017 mendatang.

Mereka para generasi milenial Hong Kong sedang menggunakan aspirasi politiknya. Gejala ini ternyata hampir melanda di berbagai belahan negara lainnya. Dengan berbagai kondisi politik yang berbeda-beda. Anggapan bahwa para generasi milenial produk dari generasi X adalah generasi yang apatis, tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Di Amerika Serikat, pada November 2016 nanti akan menjadi peristiwa bersejarah. Negeri Paman Sam akan memilih pemimpin barunya setelah Barack Obama yang telah melewati dua periode. Bagi generasi milenial Amerika Serikat, ini adalah arena partisipasi politik mereka mengingat populasi generasi milenial di Pemilu kali ini terbesar dibanding Pemilu sebelumnya. Siapa pilihan mereka?

USA Today merilis, sebesar 72 persen generasi milenial memilih Bernie Sanders. Politikus berusia 72 tahun itu sebelumnya mendapat dukungan lebih dari 80 persen dari pemilih dengan usia di bawah 30 tahun di Iowa, New Hampshire, dan Nevada. Bernie Sanders sendiri akhirnya kandas, dan Partai Demokrat diwakili oleh Hillary Clinton. Namun, suara 72 persen dukungan kaum milenial masih tak berubah.

Donald Trump tidak digemari dan tidak menjadi pilihan generasi milenial. Dalam rilis yang sama, calon presiden dari Partai Republikan itu hanya mampu menarik suara para generasi milenial sebanyak 11 persen. Sedangkan sebesar 17 persen generasi milenial sisanya masih belum yakin dengan pilihannya dan mungkin tidak akan memilih siapapun. Ini merupakan hasil survei yang melibatkan 1.539 orang dengan usia 18 sampai 34 tahun yang dilakukan 5-10 Agustus 2016 oleh Ipsos.

The Millenial Impact Report merilis, dari 1.050 responden dengan usia 18-36 tahun, sebanyak 85 persen menyatakan akan ikut dalam Pemilu presiden Amerika Serikat, 13 persen menyatakan untuk tidak memilih dan sisanya 2 persen masih belum mengetahui akan menggunakan hak pilihnya atau tidak. Survei ini juga memaparkan tentang pandangan politik para generasi milenial sekaligus, sebanyak 43 persen menyatakan liberal, 50 persen konservatif, dan sisanya 7 persen menyatakan netral.

Sedangkan di Inggris, peristiwa Brexit baru-baru ini bisa menjadi indikator keterlibatan partisipasi politik generasi milenial. Dilansir dari CNN, jajak pendapat YouGov menyebutkan, 64 persen usia 25 sampai 29 tahun ingin Inggris Raya tetap bersama Uni Eropa, sementara 61 persen dari mereka yang berusia antara 30 sampai 34 menginginkan untuk pergi termasuk juga pemilih usia 45 tahun ke atas. Survei ini melibatkan 4.772 orang di Inggris Raya.

Sayangnya, suara kelompok milenial ini kalah, sehingga akhirnya Inggris Raya keluar dari Uni Eropa. Meski demikian, sikap politik milenial ini sudah terlihat jelas. Mereka berani bersuara, meski harus berseberangan dengan kelompok yang lebih tua atau para orang tua mereka.

Generasi milenial memiliki sikap politik yang dinamis dan peduli. Dalam hal ini, kebanyakan sikap politik mereka cenderung berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya. Meskipun tidak menutup kenyataan bahwa masih menyisakan konservatisme.

Derek Thompson kontributor untuk The Atlantis menulis, bahwa para generasi milenial, memiliki pandangan politik yang liberal, bahkan berpihak di sayap kiri dan menyerempet dengan aliran sosialis. Ini yang kemudian turut juga mendorong sikap politik mereka untuk lebih terlibat merealisasikan pandangan politiknya atau memilih orang yang mendekati dengan pandang mereka.

Di Indonesia, gerakan serupa juga ada. Teman Ahok adalah salah satunya. Gerakan yang diinisiasi oleh kaum muda ini semula diniatkan untuk mendorong Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta melalui jalur independen. Gerakan ini dimaksudkan menciptakan pemimpin yang tidak punya utang budi kepada partai politik, sehingga nantinya diharapkan bisa memimpin dengan lebih jernih dan transparan, tanpa perlu beban membayar utang budi.

Teman Ahok berhasil mengumpulkan 1 juta KTP sehingga memenuhi syarat untuk mengantarkan Ahok bisa maju sebagai calon independen di Pilgub DKI 2017. Sayangnya, upaya Teman Ahok ini tidak berujung bahagia karena Ahok tetap memilih jalur parpol. Meski demikian, gerakan mereka merepresentasikan bagaimana kaum milenial mau bersuara, bersikap, dan berjuang. Soal hasil, para milenial ini masih harus belajar dari para pendahulunya.

Baca juga artikel terkait POLITIK atau tulisan lainnya dari Tony Firman

tirto.id - Politik
Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti