Menuju konten utama

Studi: Superhero Marvel Memiliki Indeks Massa Tubuh yang Tak Sehat

Hasil studi menemukan bahwa, para super hero di film Avengers punya indeks massa tubuh yang tidak sehat.

Studi: Superhero Marvel Memiliki Indeks Massa Tubuh yang Tak Sehat
Cuplikan film Avengers: Infinity Wars. Dari kiri-kanan: War Machine (Don Cheadle), Winter Soldier/Bucky Barnes (Sebastian Stan), Black Widow/Natasha Romanoff (Scarlet Johansson), Captain America/Steve Rogers (Chris Evans), Hulk (Mark Ruffalo), Okoye (Danai Gurira), Falcon (Anthony Mackie) and Black Panther/T'Challa (Chadwick Boseman). FOTO/Marvel Studios

tirto.id - Para pahlawan super seperti Thor dan Black Widow mungkin memiliki apa yang diperlukan untuk menyelamatkan dunia dalam film-film seperti Avengers: Endgame, tetapi tak satu pun dari penggambaran mereka dalam buku komik memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang sehat.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Behavioral Sciences menemukan bahwa, di dalam halaman-halaman buku komik, pahlawan super laki-laki rata-rata mengalami obesitas, sedangkan perempuan rata-rata hampir selalu tampak kurus.

Mahasiswa PhD Universitas Binghamton Laura Johnsen dan Profesor Rekanan Pengembangan Manusia SUNY Oswego Rebecca Burch, penulis utama studi ini, mengumpulkan data BMI untuk 3.752 karakter Marvel Comics dan memeriksa visualisasi pahlawan super dan bentuk manusianya.

Mereka juga memperhatikan dimensi fisik dan kostum yang menonjolkan fitur hiper-maskulin atau hiper-feminin seperti rasio bahu ke pinggang, garis rahang, otot tubuh bagian atas, rasio pinggang-pinggul dan morfologi payudara.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa pahlawan buku komik pria rata-rata gemuk, sedangkan wanita rata-rata memiliki berat badan di bawah dari berat badan normal.

Massa tubuh pria yang lebih tinggi juga disebabkan oleh otot-otot tubuh bagian atas yang ekstrem, dengan rasio bahu-ke-pinggang pria jauh di atas batas manusia.

"Temuan hasil penelitian ini menelaskan bahwa karakter buku komik adalah ekspresi rangsangan supernormal, dan mereka memiliki morfologi tubuh yang melampaui apa yang mampu dimiliki manusia. Untuk karakter pria dan wanita, ada karakteristik tertentu yang dikaitkan dengan maskulinitas dan femininitas. Untuk pria, cenderung bahu lebar dan pinggang sempit, dan untuk wanita cenderung memiliki rasio pinggang-pinggul kecil, dan payudara yang lebih besar. Ini adalah sifat-sifat yang cenderung menarik bagi manusia, tetapi seniman komik mengambil sifat-sifat itu dan menjadikannya super-berlebihan," jelas Johnsen

"Orang yang membaca buku komik tahu bahwa tipe tubuh ini adalah representasi fantastis bentuk manusia. Sudah cukup jelas kamu tidak bisa menciptakan tipe tubuh itu hanya dengan diet dan olahraga. Bahkan untuk film-film, para perancang kostum harus memodifikasi kostum untuk membuat para aktor terlihat lebih kuat daripada yang sebenarnya ada di kehidupan nyata," tambah Johnsen

Para peneliti tertarik untuk menyediakan konteks biologis untuk fenomena budaya pop ini. Penampilan fisik karakter buku komik telah dibahas dan dikritik karena penggunaan tipe tubuh yang berlebihan, tetapi diskusi itu jarang menyentuh ranah apa yang tipe tubuh tersebut wakili dari sudut pandang biologis.

"Bentuk hypermasculine dan hyperfeminine dari karakter laki-laki dan perempuan adalah refleksi berlebihan dari penanda endokrin yang telah berevolusi untuk memberi sinyal pada pemuda, kesehatan dan kesuburan pada manusia sejati," katanya.

Komik adalah contoh lain dalam sejarah panjang seniman menciptakan rangsangan supernormal, menekankan semua fitur yang orang temukan menarik tentang bentuk manusia.

"Buku-buku komik dan film kadang-kadang diremehkan sebagai barang anak-anak, tetapi semakin mereka menawarkan alur cerita rinci dan kreatif. Mereka juga menawarkan tema yang mencerminkan emosi dan keinginan manusia yang dalam. Dengan mempelajari komik dari sudut pandang evolusi, kita mendapatkan wawasan tentang asal-usul yang mendasari mengapa karakter-karakter itu terlihat seperti itu, mengapa kita tertarik padanya, dan mengapa kita terhubung dengan mereka pada tingkat pribadi seperti itu," jelas Johnsen seperti dilansir Binghamton University.

Selanjutnya, Johnsen dan Burch tertarik untuk melihat penanda lain untuk maskulinitas dan feminitas, serta bagaimana karakter-karakter itu dapat mempengaruhi bagaimana penampilan mereka berubah seiring waktu.

Baca juga artikel terkait FILM SUPERHERO atau tulisan lainnya dari Febriansyah

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Febriansyah
Editor: Yandri Daniel Damaledo