Stok Garam Langka Buat Masyarakat Beralih ke Ikan Asap

Stok Garam Langka Buat Masyarakat Beralih ke Ikan Asap
Petani memanen garam di area pertanian garam Desa Kedungmalang, Jepara, Jawa Tengah, Kamis (20/7). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
Reporter: Yuliana Ratnasari
25 Juli, 2017 dibaca normal 1:30 menit
Para perajin ikan asin di Ambon mengeluhkan soal kelangkaan stok garam di wilayah tersebut. Akibatnya, mereka tidak bisa mengembangkan usahanya tanpa ada garam.
tirto.id - Garam kasar yang diproduksi di Jawa Timur menjadi bahan baku untuk pembuatan ikan asin di Maluku. Namun, ketersediaan garam yang mulai menghilang di pasaran membuat sebagian perajin ikan asin berbalik haluan memproduksi ikan asap.

"Ada sebagian perajin ikan asin yang sudah berbalik haluan menjadi perajin ikan asap sebab garam sulit didapat," kata Inang seorang agen pemasok garam kasar asal Surabaya ke Ambon, sebagaimana dilansir Antara.

Ia mengaku sudah empat bulan tidak lagi memasok garam karena stoknya kosong. Guna membantu para perajin, ia mengaku turut menjual ikan asap jenis julung-julung (ikan terbang) yang diproduksi oleh perajin yang beralih haluan itu.

"Saya selama ini memesan ikan asin cakalang Banda dari perajin di Pulau Banda untuk di pasarkan di Ambon namun belakangan ini pesanannya tidak masuk lagi dengan alasan perajin sulit mendapatkan garam," tutur Inang.

"Di pasar Ambon ada garam impor, namun para perajin ikan asin mengatakan bahan garam impor tidak cocok untuk membuat ikan asin," katanya menambahkan.

Menindaklanjuti stok garam yang menghilang di pasar, Kabid Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku Bustaman Ohorella mengakui bahwa kesulitan garam bukan saja terjadi di Ambon atau Maluku pada umumnya tetapi di semua daerah.

"Bahkan di Pulau Jawa menjadi persoalan yang cukup mendapat perhatian pemerintah sebab banyak pabrik yang selama ini membutuhkan garam sebagai salah satu bahan utama juga sulit untuk mendapatkan," ujarnya.

Kalau di Maluku tidak terlalu berdampak yang besar terkait masalah garam, lanjutnya, sebab tidak ada pabrik-pabrik yang besar yang memerlukan garam sebagai bahan utama.

Dia menambahkan, memang ada keluhan dari para perajin ikan asin di daerah ini yang tidak bisa mengembangkan usahanya tanpa ada garam, mudah-mudahan dalam waktu dekat pemerintah sudah bisa mengatasinya.

Diberitakan sebelumnya, di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, harga garam dapur yang semula Rp2.000 sebungkus, kini menjadi Rp5.000.

Seorang pedagang di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, Ningsih (45), mengatakan, "Selain harga garam yang melonjak, pasokan dari produsen garam juga kosong. Sudah sebulan produsen garam tidak mengirim stok garam."

Sementara itu, pedagang lain, Aceng (40), menuturkan, awal dari kelangkaan garam terjadi di Jawa Timur dan Madura yang selama ini menjadi pemasok garam terbesar di Tanah Air. Kekosongan dari pemasok ini berimbas terhadap kelangkaan garam dan melonjaknya harga.

"Kalau bulan lalu satu bungkus kotak besar bisa Rp30.000 sekarang mencapai Rp50.000," kata Aceng, Selasa (25/7/2017).

Tak hanya di Pasar Gondangdia, kelangkaan garam juga terjadi di Pasar Kaget, Kalibata, Jakarta Selatan. Beberapa pedagang tidak menjual garam akibat stok garamnya habis dan produsen garam belum juga mengirim persediaan garam.

Baca juga artikel terkait PRODUKSI GARAM atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - rat/rat)

Keyword