Stigma Kondom: Propaganda Asing sampai Mengandung Cacing HIV

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 18 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Presiden Tanzania mengecam kontrasepsi sebagai propaganda asing. Pernyataan itu terlontar di tengah ledakan populasi dan peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS.
tirto.id - "Mereka yang pakai kontrasepsi itu pemalas."

Lugas dan tanpa tedeng aling-aling, kalimat itu meluncur bukan dari orang sembarangan, tapi dari seorang presiden di sebuah negara Afrika. Pernyataan itu keluar dari Presiden Tanzania John Magufuli, Senin (10/9/2018) dalam sebuah acara terbuka di Meatu, wilayah Simiyu, Tanzania, seperti dilansir dari media lokal The Citizen. Kata "pemalas" ia lontarkan, karena bagi Magufuli, mereka yang menggunakan kontrasepsi adalah pengecut yang takut tak bisa menghidupi anak-anak mereka.

Selain itu, Magufuli kemudian mengajak orang agar tidak mudah percaya pada siapapun yang menyarankan penggunaan kontrasepsi, yang ia sebut sebagai pihak asing dengan niat jahat.

"Saya telah bepergian ke Eropa dan menyaksikan dampak alat kontrasepsi. Di beberapa negara, mereka sekarang berjuang dengan populasi yang menurun. Mereka tidak memiliki tenaga kerja," jelasnya.

Bapak dua anak itu menegaskan, "Anda punya ternak. Anda adalah petani besar. Anda dapat memberi makan anak-anak Anda. Lalu mengapa kita menggunakan alat kontrasepsi? Ini pendapat saya, namun saya tidak melihat alasan untuk menggunakan alat kontrasepsi di Tanzania."

Pernyataan sang presiden sontak banjir kecaman. CNN dan Al-Jazeera melaporkan, politisi oposisi Cecil Mwambe mengkritik habis pernyataan Magufuli. Ia mengatakan pernyataan Magufuli bertentangan dengan kebijakan nasional Tanzania di bidang kependudukan.

Mwambe melanjutkan, skema asuransi kesehatan nasional Tanzania hanya dapat mengakomodasi banyak empat anak dalam sebuah keluarga.

Media sosial pun diramaikan oleh komentar warganet. Masih dari Al-Jazeera, banyak pengguna media sosial menilai bahwa para perempuan Afrika sudah semestinya berhak memilih metode kontrasepsi dan memiliki akses ke informasi kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, sebagaimana tertuang dalam piagam hak-hak perempuan di Afrika alias Protokol Maputo.

Bukan pertama kalinya Magufuli melontarkan pernyataan senada. Pada 2016, sesaat setelah meluncurkan program pendidikan gratis untuk sekolah dasar dan menengah, Magufuli mengatakan,” Perempuan sekarang dapat membuang alat kontrasepsi mereka. [Sebab] Pendidikan sekarang gratis.”


Dari Ledakan Populasi hingga AIDS

Banyak analis mengatakan kegagalan program kontrasepsi dapat memicu ledakan penduduk sehingga menambah masalah sosial dan ekonomi. Menurut data World Bank, jumlah penduduk Tanzania kini sekitar 55 juta orang, atau naik sebesar 40 juta jiwa sejak 1960. Meski situasi ekonomi sedikit lebih membaik, sekitar 70 persen dari penduduk Tanzania masih hidup di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan sekitar US$2 per hari.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan populasi dunia akan menggelembung dan mencapai 9,8 miliar jiwa pada 2050. Populasi penduduk dunia diperkirakan akan terkonsentrasi di sembilan negara: India, Nigeria, Kongo, Pakistan, Ethiopia, Amerika Serikat, Uganda, Indonesia, dan Tanzania. Sementara populasi di Afrika pada 2050 diprediksi oleh PBB akan mencapai 2,5 miliar jiwa atau hampir sepertiga dari populasi total dunia.

Potensi ledakan penduduk itulah yang membuat kontrasepsi jadi kebutuhan mendesak. Namun, selain soal kependudukan, Tanzania juga mengalami problem penyebaran HIV/AIDS yang akut.

PBB menyebutkan alat kontrasepsi seperti kondom memegang peranan penting dalam memerangi penyebaran HIV/AIDS. Para aktivis HIV/AIDS seluruh dunia pun sudah sering mengampanyekan penggunaan kondom.

UNAIDS, sebuah inisiatif global yang bergerak khusus untuk memerangi AIDS, mengatakan kondom adalah pusat dari segala kombinasi pendekatan dalam program pencegahan HIV. Selain itu, kondom merupakan alat kontrasepsi dengan harga paling terjangkau dan dapat pula secara efektif mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Berdasarkan data WHO pada 2017, Afrika adalah wilayah yang paling terdampak oleh HIV/AIDS. Pada 2015, 70 persen dari kematian terkait AIDS terjadi di wilayah Afrika. Tingkat prevalensi HIV/AIDS di benua itu mencapai 4,8 persen.

Dilansir dari laporan Avert, Tanzania memiliki 55.000 pasien HIV baru pada 2016. Di negeri dengan tingkat prevalensi sekitar 4,7 persen itu, terdapat 1,4 juta pengidap HIV.



infografik kontroversi kontrasepsi

Stigma Akibat Mitos

Di sisi lain, penggunaan kontrasepsi buatan terus diperdebatkan oleh para pemuka agama, di Islam, Yahudi maupun Kristen. Gereja Kristen Katolik, utamanya, jelas-jelas melarang penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom.

Pada 1968, Vatikan menegaskan posisinya yang anti-kontrasepsi. Disebutkan dalam ensiklik Humanae Vitae yang ditulis oleh Paus Paulus VI, gereja berpendapat bahwa alat kontrasepsi buatan telah menurunkan derajat hubungan seks dan mengikis tanggung jawab manusia, terutama pria, sehingga membukakan jalan untuk kekerasan dan pemerkosaan. Ensiklik adalah surat Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik dunia.

Ketika berkunjung ke Afrika, Paus Benediktus mengatakan kondom bukanlah jawaban dari perjuangan melawan HIV dan AIDS di benua itu. Sebaliknya, menurut Benediktus, kondom malah berpotensi membuat runyam masalah. Bagi Benediktus, solusinya cuma dua: mendorong orang untuk setia pada pasangan mereka dan melakukan pantangan seksual demi mencegah penyebaran HIV.

Demikian pula dengan Paus Fransiskus. Meski terkenal progresif dalam berbagai isu, ia memilih untuk menghindari pertanyaan seputar kondom dalam isu pengentasan HIV/AIDS.

Dalam Islam, isu penggunaan alat kontrasepsi tidak secara langsung tertulis dalam kitab suci sehingga mengundang perbedaan interpretasi. Seperti dikutip dari BBC, kalangan Muslim konservatif cenderung menentang alat kontrasepsi, termasuk kondom. Meski demikian, persentase kalangan itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang percaya bahwa penggunaan alat kontrasepsi tidak dilarang.

Di Tanzania, isu agama merupakan isu krusial terutama dalam kaitannya dengan HIV/AIDS. Sebagai catatan, berdasarkan data dari Pew Research Center, Tanzania memiliki sekitar 61 persen penduduk yang beragama Kristen dan 35 persen penduduk beragama Islam.

Riset yang dilakukan oleh James Zou dkk berjudul "Religion and HIV in Tanzania: influence of religious beliefs on HIV stigma, disclosure, and treatment attitudes" (2009), menunjukkan korelasi itu. Sebagian besar responden studi tersebut, misalnya, percaya bahwa mereka yang terinfeksi oleh HIV adalah orang-orang yang tak mengikuti "Sabda Tuhan" sehingga dihukum. Mereka juga percaya bahwa AIDS dapat disembuhkan melalui doa.

Riset yang sama mengutip sejumlah studi bahwa praktik keagamaan masyarakat yang dilakukan oleh kalangan Muslim di sejumlah negara Afrika mampu mendorong angka prevalensi HIV yang lebih rendah. Demikian pula praktik keagamaan gereja-gereja Pentakosta. Angka seks di luar nikah sangat rendah pada kelompok-kelompok sosial ini.

Meski demikian, fenomena ini tak konsisten. Di sebuah daerah pedesaan Senegal, kelompok Muslim dan Katolik yang mementingkan agama menunjukkan sikap yang kurang 'mendukung' pencegahan penyebaran HIV, dibandingkan warga Muslim dan Katolik yang kurang menganggap penting agama.

Kondom sendiri di Tanzania sering dikaitkan dengan stigma buruk yang membuat orang enggan menggunakannya. Stigma itu tak jarang muncul karena mitos. Dalam studi berjudul "Condoms 'contain worms' and 'cause HIV' in Tanzania: Negative Condom Beliefs Scale development and implications for HIV prevention" (2012), disebutkan bahwa anak-anak muda Tanzania percaya ada cacing yang muncul ketika kondom dijemur di bawah matahari. Cacing inilah yang mereka percaya menyebabkan HIV. Problemnya tentulah bahwa HIV tak disebabkan oleh cacing dan tak sebaiknya kondom dijemur.

Stigma negatif terhadap kondom Tanzania dan negara-negara Afrika lainnya yang bercampur aduk dengan agama, mitos, dan takhayul jelas menjadi tantangan ekstra yang luar biasa alot bagi penanggulangan HIV/AIDS.

Masalahnya, seperti yang dikatakan oleh penulis kesehatan pemenang Pulitzer Laurie Garret dalam esainya di Foreign Policy Juli lalu, perjuangan melawan HIV/AIDS di seluruh dunia kini tengah berada di persimpangan. Selain jumlah penderitanya bertambah, mereka yang terdampak HIV baru-baru ini semakin sulit untuk diobati sebab virus tersebut kini lebih resisten terhadap pengobatan termurah yang paling mudah diakses orang banyak.

Resistensi obat, lanjutnya, menyebabkan penggunaan obat yang lebih kuat dan mahal. Pasalnya, belum tentu obat yang mahal itu tersedia luas, apalagi di negara miskin dan berkembang.

Mengutip survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) dan The Bill & Melinda Gates Foundation, Garret menyebutkan sekitar 6-11 persen infeksi HIV baru melibatkan kasus resistensi obat HIV. Angka resistensi ini naik 23 persen setiap tahunnya. Melihat tren mengerikan tersebut, tidakkah penggunaan kondom sebagai alat pencegah HIV jadi lebih masuk akal?

Baca juga artikel terkait AIDS atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf