Solari di antara Mantan yang Gagal dan yang Sukses di Real Madrid

Oleh: Iswara N Raditya - 5 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Tidak sedikit mantan pemain Real Madrid yang berjaya saat membesut bekas klub mereka, namun banyak pula yang gagal total.
tirto.id - “Saya datang ke sini untuk memenangkan pertandingan sepakbola, sesederhana itu,” ujar Santiago Solari dalam konferensi pers jelang laga Melilla melawan Real Madrid di ajang Copa del Rey belum lama ini.

Hasilnya memang sesederhana yang dikatakan Solari: Los Blancos menang telak 0-4 atas tuan rumah dalam laga itu. Meskipun yang dihadapi bukan lawan sepadan, setidaknya kemenangan ini menjadi debut manis Solari setelah ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid walau masih berstatus interim.

Laju mulus Real Madrid di bawah kendali sang pelatih caretaker berlanjut pada 3 November 2018. Menjamu Real Valladolid di Stadion Santiago Bernabeu dalam lanjutan Primera Division La Liga, Solari membawa Sergio Ramos dan kawan-kawan menang 2-0.

Solari naik pangkat setelah menangani Real Madrid B sejak 2016. Pria Argentina ini untuk sementara mengisi posisi Julen Lopetegui yang dipecat usai kekalahan memalukan dari Barcelona dengan skor 1-5 dalam duel El Clasico La Liga pada Minggu (28/10/2018).


Ada optimisme tinggi dan semangat kebangkitan yang digaungkan Solari. Namun, salah seorang penghuni skuat Los Galacticos pada awal 2000-an itu kini berada di ambang dua kelompok mantan pemain El Real yang menjadi pelatih bekas klub mereka, yakni barisan gagal dan orang-orang yang boleh dibilang meraih sukses.

Kira-kira, Solari bakal masuk golongan yang mana?

Keberhasilan Para Mantan

Mantan pemain yang kemudian menjadi pelatih dan paling gemilang di Real Madrid adalah Miguel Munoz. Berposisi sebagai jenderal lapangan tengah, Munoz merumput di El Real selama satu dekade, dari 1948 hingga 1958, dan tampil dalam 223 laga dengan mengemas 23 gol.

Munoz langsung dipercaya menukangi Real Madrid sejak 21 Februari 1959 atau setelah ia gantung sepatu. Ia memang gagal pada kesempatan pertama ini, bahkan posisinya hanya bertahan kurang dari tiga bulan. Namun, Munoz nantinya membuktikan bahwa ia cuma butuh waktu lebih lama untuk menjadi seorang pelatih jempolan.

Pada 13 April 1960, Munoz kembali ke ibukota. Kesempatan kedua ini tidak ia sia-siakan. Munoz membawa Real Madrid menjadi salah satu klub terbaik Eropa dan dunia semenjak awal dekade 1960-an itu.

Selama ditukangi Munoz, El Real mengoleksi 14 trofi. Rinciannya: 9 kali juara La Liga, 2 kali juara Copa del Rey, 2 kali juara European Cup (Liga Champions), serta 1 kali juara Intercontinental Cup. Munoz mengakhiri masa baktinya di Real Madrid pada 15 Januari 1974 lantaran memperoleh panggilan untuk membesut tim nasional Spanyol.

Ditunjuklah mantan pemain lainnya, Luis Molowny, sebagai pengganti Munoz. Saat masih merumput, Molowny bahu-membahu bersama Munoz di lini tengah El Real selama periode 1946-1957. Sama seperti Munoz, Molowny juga sosok gelandang produktif. Gelontoran 89 gol dalam 172 pertandingan adalah buktinya.

Garis nasib Molowny tampaknya selaras dengan Munoz. Ia juga kurang berhasil pada momen pertama sebagai pelatih. Kurang dari 5 bulan menjabat, Molowny keburu diberhentikan pada Mei 1974 karena hanya mampu memenangi satu gelar Copa del Rey. Selanjutnya, Real Madrid merekrut pelatih tim nasional Yugoslavia, Miljan Miljanic.

El Real memanggil pulang Molowny pada 7 September 1977, meskipun sempat didepak lagi. Sepanjang kariernya melatih, Molowny membesut Los Blancos dalam 4 periode yang berbeda. Total, ia mengumpulkan 8 trofi, yakni 3 kali juara La Liga, 2 kali juara Copa del Rey, 2 kali juara UEFA Cup (Europa League), dan 1 kali juara Copa de La Liga.

Selanjutnya ada nama Vicente del Bosque yang pernah menjadi gelandang bertahan andalan El Real selama periode 1968-1984 meskipun sempat dipinjamkan ke beberapa klub lain. Dengan jersey Los Blancos, ia tampil dalam 445 laga dan menyumbangkan 30 gol.


Jalan kepelatihan del Bosque di klub kebanggaannya itu amat tidak mudah. Bermula dari menangani Real Madrid B sejak 1987, ia dua kali mengalami pemecatan dalam waktu relatif singkat saat menukangi tim utama, yakni pada 1994 dan 1996.

Di kesempatan ketiga, del Bosque mengantarkan Real Madrid mengarungi milenium baru dengan prestasi bersama skuat penuh bintang atau Los Galacticos. Ia menghadirkan 7 trofi ke Bernabeu: dua kali juara La Liga, dua kali juara Liga Champions, dan masing-masing satu gelar kampiun Piala Super Spanyol, Piala Iberia, Piala Super Eropa, dan Piala Interkontinental.

Setelah era del Bosque tutup buku pada 2003, Real Madrid sempat dibesut lagi oleh beberapa mantan pemainnya kendati tidak banyak yang sukses. Tercatat, hanya Bern Schuster yang sempat menyumbangkan dua trofi, dan tentu saja sejumlah rekor mengagumkan yang ditorehkan Zinedine Zidane sebelum ia menyatakan berhenti.

Barisan Mantan yang Gagal

Julen Lopetegui hanya satu dari deretan bekas punggawa Real Madrid yang justru gagal total saat dipercaya membesut Los Blancos. Nama legenda sekaliber Alfredo Di Stefano saja tidak berdaya ketika kembali ke Real Madrid sebagai pelatih.

Di Stefano masuk dalam jajaran bomber paling ganas yang pernah dimiliki Real Madrid. Selama periode 1953-1964, striker kelahiran Argentina namun sempat memperkuat tim nasional tiga negara ini telah mencetak 216 gol dalam 282 laga bersama Los Blancos.

Namun, peruntungannya menukik drastis kala berperan di pinggir lapangan. Sosok yang telah melesakkan lebih dari 500 gol sepanjang kariernya ini dua kali dipercaya menakhodai mantan klubnya itu, pada 1982-1984 dan 1990-1991, namun hanya sebiji trofi Piala Super Spanyol yang bisa dipersembahkannya.


Infografik Santiago hernan solari poggio


Pisah jalan pertama dengan Di Stefano pada pertengahan 1984, Real Madrid lantas menunjuk Amancio Amaro. Orang ini juga sosok legendaris bagi publik Bernabeu. Amaro telah mengemas 344 pertandingan plus 119 gol di La Liga selama membela Los Blancos pada periode 1962-1976.

Karier kepelatihan Amaro di Madrid pun berjenjang, dari membesut tim junior, Real Madrid B, hingga naik ke skuat utama, persis seperti yang nantinya dijalani Solari. Hasilnya? Tidak ada satu pun trofi yang bisa diberikan Amaro. Kursinya sebagai pelatih pun hanya bertahan semusim saja.

Ada pula José Antonio Camacho. Bermodalkan 414 laga bersama Real Madrid selama era 1974-1989, mantan bek kiri andalan ini dua kali berkesempatan membesut tim utama Los Blancos, masing-masing pada 1998 serta 2004 dengan dinamika persoalannya, dan gagal total!

Mariano García Remon dan Rafael Benitez mengalami nasib nyaris serupa. Remon dan Benitez adalah alumni akademi Real Madrid, namun tidak mampu mempersembahkan gelar apapun ketika menukangi klub tersebut.

Dua nama terakhir sebelum Solari, Zidane dan Lopetegui, memiliki pengalaman dan hasil yang bertolak belakang saat menjadi pemain maupun pelatih Real Madrid. Zidane bergelimang prestasi dalam dua peran itu, sebaliknya Lopetegui bernasib amat miris.

Solari, yang turut dalam skuad Los Galacticos bersama Zidane kendati tidak selalu menjadi pilihan utama, kini tengah meniti jalan yang sama dengan dua sosok itu.

Meskipun masih berstatus interim, Solari nantinya bisa saja mendapatkan kontrak sebagai pelatih tetap dan mengikuti jejak Zidane, atau kegemilangan yang juga pernah dituai Carlo Ancelotti di AC Milan, Pep Guardiola dan Luis Enrique di Barcelona, atau Antonio Conte di Juventus.

Bukan mustahil pula Solari justru bakal terjerumus ke dalam lubang nista dan bergabung dengan jajaran nama yang pernah jaya saat masih bermain namun menjadi pecundang kala menyandang tugas sebagai juru taktik Real Madrid.

Baca juga artikel terkait REAL MADRID atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Dari Sejawat
Infografik Instagram