Soepriyati, Istri Pahlawan Revolusi Sugijono yang Makamnya Dirusak

Oleh: Petrik Matanasi - 8 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Soepriyati yang nisan makamnya dibakar itu adalah seorang bidan dan istri Pahlawan Revolusi Kolonel Sugijono.
tirto.id - Soepriyati Soegiyono tutup usia pada 17 Januari 2017. Perempuan yang semasa hidupnya aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Bathesda dan Panti Wredha Yogyakarta ini kemudian dikebumikan di pemakaman Kristen Bathesda, Mrican, Yogyakarta setelah disemayamkan di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sawo Kembar.

Pada Sabtu (6/4/2019), nisan kayu penanda tempat beristirahatnya Soepriyati ditemukan rusak karena dibakar orang tak dikenal.


Sebelum kejadian ini tidak banyak orang tahu bahwa Soepriyati Soegiyono. Meski sesederhana kebanyakan orang Jawa, akan tetapi Soepriyati terhitung bukan orang sembarangan. Dia adalah istri dari salah satu Pahlawan Revolusi, Kolonel Sugijono Mangunwijoto. Seperti diberitakan Suara Pembaruan (25/8/1995), dalam acara Reuni Akbar Pejuang yang diadakan di Monumen Yogya Kembali pada 24 Agustus 1995, Ketua Dewan Harian Angkatan 1945, Jenderal Soerono, memotong nasi tumpeng dan menyerahkannya kepada Soepriyati.

Pahlawan Revolusi kerap didengungkan Orde Baru sebagai lawan PKI. Bisa saja, misalnya, orang awam (yang tidak paham sejarah), bahkan para politikus, akan menyebut pelaku perusakan makam itu adalah "hantu-hantu PKI".

Mendampingi Karier Suami

Sudah pasti Soepriyati adalah perempuan istimewa bagi Sugijono. Laki-laki yang berkarier jadi tentara sejak zaman Jepang ini pada 1965 sudah dua dekade lebih jadi tentara. Jika Jepang tak datang, seharusnya anak dari pemuka desa bernama Raden Kasan Semitoredjo ini berkarier sebagai guru sekolah rendah, suatu profesi yang membuatnya layak dipanggil nDoro.


Sugijono, laki-laki kelahiran 12 Agustus 1926 di Gunung Kidul, Yogyakarta, memulai karier militernya dengan menjadi komandan regu (budancho, setara sersan) dalam Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Wonosari, pusat dari kabupaten Gunung Kidul. Setelah Indonesia merdeka, Sugijono ikut serta di belakang Republik Indonesia dan jadi tentara lagi; mulai dari TKR, TNI, hingga ABRI. Beberapa sumber menyebut Sugijono pernah menjadi ajudan Komandan Brigade 10 Divisi III, Letnan Kolonel Soeharto.

“Sugijono mempunyai andil yang besar pula dalam pembentukan Yon (batalyon) Banteng Raiders di Srondol Semarang, ketika menjabat Wadan Yon (Wakil Komandan Batalyon) 411,” tulis Mayor Jenderal dr. Soedjono dalam Monumen Pancasila Cakti (1984: 391). Pangkat Sugijono sudah mayor sejak 1959. Pernah juga Sugijono menjadi komandan batalyonnya.

Sejak 1960-an Sugijono menduduki jabatan teritorial seperti Komandan Kodim 0718 di Pati, lalu Komandan Kodim di Yogyakarta. Sebelum akhirnya menjadi Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta, di mana Kolonel Katamso menjadi Komandan Kodim-nya. Pada 1962 Sugijono naik menjadi letnan kolonel dan hampir satu dekade menjadi suami Soepriyati.


Sugijono menikahi Soepriyati sekitar 1953. Waktu itu usia Sugijono 27. Pangkatnya masih letnan satu, jabatannya masih komandan kompi di 441. Soepriyati sendiri perempuan yang cukup berpendidikan di zamannya. Perempuan kelahiran 27 Mei 1928 ini adalah seorang bidan. Meski awalnya berbeda agama, Sugijono dan Soepriyati akhirnya bisa menikah juga.

Seperti ditulis Mayor Jenderal dr. Soedjono (1984: 385), Keluarga Semitoredjo tergolong keluarga Islam. Sementara itu, Soepriyati adalah penganut Kristen Protestan. Setelah perkawinan itu, Sugijono masuk Kristen. Dari keluarga Semitoredjo, “satu-satunya putra yang menganut agama Kristen Protestan adalah Pak Gijono (maksudnya Sugijono) sendiri,” tulis Soedjono (hlm. 385).

Perkawinan Sugijono dengan Soepriyati itu membuahkan 7 anak, yang semuanya diberi nama khas Jawa.

Hidup Harus Terus Berjalan

Sebelum kematiannya pada pada 1 Oktober 1965, Sugijono pernah berkata pada istrinya. “Bu, kalau aku mati, aku ingin mati sebagai pahlawan yang besar.” Istrinya pun bilang, “Ah, kok macam-macam saja. Lalu kalau gugur minta dimakamkan di mana?”

“Aku ini berhak dimakamkan di Taman Pahlawan. Karena aku adalah Angkatan ’45. Dan aku minta dimakamkan di Taman Pahlawan Kusumanegara. Supaya engkau dan anak-anak kalau akan berziarah, dekat,” kata Sugijono.

Di hari yang lain, setelah bermain tenis, Sugijono membawa cincin perkawinan yang putus karena bermain tenis kepada istrinya. “Simpan saja baik-baik ya,” pesan Sugijono.

Pada 1 Oktober 1965 Sugijono berangkat ke Pekalongan sedari jam 04.00 pagi dalam rangka urusan dinas. Pulangnya, dia singgah di Semarang. Waktu di jalan antara Ambarawa-Magelang, Sugijono bertemu Brigadir Jenderal Surjosumpeno. Ketika itu Sugijono melaporkan situasi Semarang yang menurutnya tidak aman.

Sore sekitar pukul 17.30 Sugijono sudah berada di Yogyakarta. Tidak langsung pulang tapi ke kantornya, Markas Korem. Meski begitu, tak lupa Sugijono menelepon istrinya. “Bu, saya sudah datang dari Semarang, tetapi belum dapat pulang ke rumah, masih sibuk di kantor. Masih banyak yang harus saya kerjakan,” kata Sugijono di telepon pada Soepriyati.

Infografik Sugijono & Soepriyati
undefined


Soepriyati tidak tahu apa yang terjadi di hari itu. Politik tentara sedang rumit di tanggal 1 Oktober 1965 itu. Apa yang terjadi kemudian adalah Sugijono tak pernah pulang lagi ke rumah.

Sugijono, bersama komandannya, Katamso, belakangan menghilang dan terbunuh di Kentungan. Jenazahnya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965. Posisi Sugijono dan Katamso, kata dr. Soedjono, sudah diketahui pada 10 Oktober 1965. Namun penggalian baru dilakukan pada 21 Oktober dan esoknya, 22 Oktober, barulah Sugijono dan Katamso dimakamkan di Kusumanegara (hlm. 395).

Sugijono dimakamkan di tempat yang diinginkannya. Pangkatnya yang semula letnan kolonel kemudian dinaikkan jadi kolonel. Tapi itu tak membuat kesedihan Soepriyati lenyap.

Yayu Rahayu Yani, istri Jenderal Ahmad Yani, menulis betapa terpukulnya Soepriyati dalam buku Inikah hadiah ulang tahunku (1968: 48-49). Kepergian suami tentu membuat Soepriyati harus memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam membesarkan tujuh anaknya yang masih kecil-kecil.

“Sebetulnya saya seorang bidan, tapi kini rasanya kami belum kuat untuk bekerja,” kata Soepriyati. Mau tidak mau, Soepriyati harus melanjutkan hidup dan membesarkan anak-anaknya.

Baca juga artikel terkait KASUS INTOLERANSI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight