SKK Migas: Produksi Gas Blok Mahakam Rendah Bukan Salah Pertamina

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 4 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
SKK Migas menyatakan produksi gas Blok Mahakam belum mencapai target karena jumlah sumur yang dibor masih terlalu sedikit.
tirto.id - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat produksi gas Blok Mahakam masih belum mencapai target 1.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Tepatnya hanya berada di angka 700 MMSCFD.

Deputi Operasi SKK Migas, Fatar Yani Abdurrahman mengatakan produksi yang rendah itu terjadi karena sumur yang dibor jauh dari jumlah ideal yang diperlukan.

Padahal, kata Fatar, untuk menjaga jumlah produksi tetap di kisaran 1.000 MMSCFD, butuh sumur dengan jumlah dua kali lipat dari yang dibor pada saat ini.

Dia mencatat Pertamina baru mampu mengebor 118 sumur. Sementara idealnya harus ada 300-400 sumur baru yang dibor.

Meski demikian, Fatar menegaskan kondisi ini bukan kesalahan Pertamina. Sebab, selama transisi pengelolaan Blok Mahakam dari Total dan Inpex ke Pertamina, jumlah sumur yang dibor sangat sedikit.

“[Pada] 2017 seharusnya sudah dibor lebih dari 100 sumur, tapi cuma 13 sumur [dibor]. Jadi kenanya sekarang. Bukan salah Pertamina,” kata Fatar di Ruang Sarula, kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Kamis (4/4/2019).

“Enggak cukup dengan 118 sumur yang sudah dibor. Kalau dia mau sama seperti sebelumnya harus ada 400 sumur dibor, tapi kan enggak mungkin,” tambah Fatar.

Dia menambahkan, meski volume produksi gas Blok Mahakam kini 700 MMSCFD, SKK Migas tetap mematok target 1.000 MMSCFD.

Fatar optimistis, meskipun Pertamina baru sanggup mengebor 118 sumur baru, produksi gas Blok Mahakam secara perlahan bisa ditingkatkan volumenya.

“[Produksi] 700 MMSCFD ini akan stabil sampai akhir tahun. Kami akan genjot lagi. Paling enggak bisa 1.000 MMSCFD. Nanti sumurnya bisa ditambah. Memang enggak bisa tahun ini, harus pelan-pelan,” ucap Fatar.

Blok Mahakam di Kalimantan Timur diperkirakan memberi kontribusi 34 persen produksi migas nasional. Per 1 Januari 2018 lalu, Blok ini telah resmi dikelola Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) setelah diserahkan oleh Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation.


Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Addi M Idhom