Situasi Myanmar Terkini: Ekonomi Runtuh & Mata Uang Anjlok 60%

Oleh: Alexander Haryanto - 30 September 2021
Dibaca Normal 1 menit
Berikut adalah situasi Myanmar terkini terutama dari sisi ekonomi sejak militer melakukan kudeta.
tirto.id - Ekonomi Myanmar merosot tajam sejak militer melakukan kudeta pada Februari lalu. Berdasarkan berita baru-baru ini, mata uang Myanmar, Kyat, merosot lebih dari 60 persen sejak awal September lalu.

"Ini akan mengguncang para jenderal karena mereka cukup terobsesi dengan tingkat kyat sebagai barometer ekonomi yang lebih luas, dan karenanya mencerminkan mereka," kata Richard Horsey, pakar Myanmar di International Crisis Group seperti dilansir NDTV.

Pada bulan Agustus, Bank Sentral Myanmar mencoba menambatkan kyat 0,8 persen di kedua sisi kurs referensinya terhadap dolar, tetapi tak mampu tertahan pada 10 September lalu karena tekanan pada nilai tukar meningkat.

Di sisi lain, kekurangan dolar telah menjadi sangat jelek akibatnya beberapa penukar uang menutup diri terhadap itu. "Karena ketidakstabilan harga mata uang saat ini ... semua cabang Northern Breeze Exchange Service ditutup sementara," kata money changer di Facebook.

Sementara itu, Asean Now melaporkan, anjloknya mata uang Myanmar ke level terendah itu meningkatkan kekhawatiran ketidakstabilan sosial dan ekonomi yang mendalam. Pada hari Selasa, nilai tukar dolar AS mencapai level tertinggi sekitar 2.500 hingga 2.700 kyat per dolar. Sedangkan sebelum revolusi awal Februari lalu, nilai tukar antara 1.300 dan 1.400 kyat per dolar AS.

Pada hari Selasa, harga emas di pasar lokal mencapai titik tertinggi lebih dari 2,25 juta kyat per tikal, naik secara substansial dari sedikit lebih dari 2 juta kyat sehari sebelumnya. Tikal adalah pengukuran berat emas Burma tradisional 16,33 gram (lebih dari setengah ons). Sebelum kudeta, harga emas 1,32 juta kyat per tikal.



Menurut sumber pasar, orang hanya mencari untuk memperoleh dolar AS di pasar mata uang. “Penjualan dolar hampir tidak ada, dan permintaan [untuk mata uang AS] meningkat karena lebih banyak orang ingin membeli daripada sebelumnya,” kata seorang pengusaha anonim.

Dalam pemberitaan baru-baru ini, tentara Myanmar melancarkan serangan udara setelah terjadi bentrok dengan pada pejuang yang menentang junta di wilayah Sagaing, demikian seperti dilaporkan NDTV dan seorang anggota milisi.

Selain itu, saluran telepon dan internet juga terputus di beberapa distrik. Myanmar memang sedang dalam situasi mencekam sejak junta militer merebut kekuasaan pada 1 Februari lalu dan ini memicu kemarahan di dalam dan di luar negeri, hingga memicu terbentuknya Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) untuk melawan kekuasaan militer.

Seorang anggota Pinlebu PDF, berbicara dari luar daerah, juga mengkonfirmasi melalui telepon bahwa serangan udara telah terjadi, tetapi mengatakan tidak ada korban di antara kelompoknya.

"Kami tidak dapat menghubungi mereka karena internet dan saluran telepon padam," kata aktivis, yang menolak disebutkan namanya, tentang rekan-rekan oposisinya.

Kendati demikian, media Reuters tidak dapat secara independen memverifikasi klaim apa pun dan juru bicara militer tidak menjawab panggilan untuk meminta komentar.


Baca juga artikel terkait KONDISI MYANMAR TERKINI atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Politik)

Penulis: Alexander Haryanto
Penyelia: Iswara N Raditya
DarkLight