Menuju konten utama

Sinopsis Buku "Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan" oleh Ahmad Sarwat

Buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan menyoroti keberagaman seputar Ramadhan dan puasa lain di luar bulan suci tersebut. 

Sinopsis Buku
Ilustrasi Ramadhan. foto/IStoc

tirto.id - Meski muncul berbagai perbedaan pendapat seputar Ramadhan, bukan menjadi alasan untuk berpecahbelahnya umat Islam.

Buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan adalah karya dari seorang ustadz bernama Ahmad Sarwat, Lc, MA.

Profil pria kelahiran Kairo, 19 September 1969, tersebut dikenal sebagai pendakwah yang memiliki spesialisasi dalam fikih.

Saat ini dirinya menjadi direktur Rumah Fiqih Indonesia dan aktif menulis di situs www.rumahfiqih.com.

Ahmad Sarwat menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Suud LIPIA pada Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab. Lalu, S-2 dirampungkan di Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta pada jurusan Ulumul Quran dan Ulumul Hadits. Pendidikan S-3 juga di IIQ Jakarta pada jurusan Ilmu Al Quran dan Tafsir.

Dalam buku ini, Ahmad Sarwat mengupas berbagai hal yang kerap kali ditemui sebagai perbedaan yang melingkupi bulan Ramadhan.

Pada orang-orang Islam yang fanatik, perbedaan ini kadang dijadikan alasan untuk memisahkan dari orang Islam lain yang tidak satu pendapat dengannya. Padahal, perbedaan-perbedaan tersebut sebenarnya masih berada dalam keilmuan Islam yang benar.

Buku yang dirilis 17 Juli 2014 tersebut menengahi semua perbedaan ke dalam jalur yang benar. Ahmad Sarwat membawakan berbagai dasar dari istimbath para ulama empat mazhab terhadap perbedaan-perbedaan yang muncul, sehingga pembaca bisa memahaminya dengan benar tanpa perlu menghadirkan sikap permusuhan pada umat Islam lain.

Mengutip laman GPU, buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan memiliki nomor ISBN 978-602-03-0433-5 yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Ukuran buku 14 x 21 cm, softcover, dan dijual seharga Rp58.000.

Sinopsis buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan

Buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan menyoroti tentang keberagaman yang ditemui seputar Ramadhan dan puasa lain di luar bulan suci tersebut. Keberagaman ini menjadikan dinamisasi dalam kehidupan muslim di Indonesia, dengan berbagai sisi uniknya.

Misalnya, sebelum bulan Ramadhan tiba, umat Islam kadang dihadapkan dengan permasalahan penetapan awal puasa 1 Ramadhan.

Perbedaan itu muncul karena masing-masing pihak memiliki argumen sendiri dengan tetap berlandaskan pada keilmuan.

Pihak pemerintah yang konsisten menerapkan rukyatul hilal atau melihat bulan sabit baru sebagai penentu 1 Ramadhan, akan berhadapan dengan ormas yang menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi.

Di lain sisi, ada pula sebagian lain yang mengikuti 1 Ramadhan dengan melandaskan pada penetapan dari muti Kerajaan Arab Saudi.

Belum lagi saat Ramadhan tiba, perbedaan tampak pula pada jumlah rakaat saat menjalankan shalat tarawih. Ada sebagian muslim yang menjalankan 11 rakaat, dan sebagian lain sebanyak 23 rakaat. Namun, perbedaaan ini tetap bisa memunculkan sikap saling menghormati di antara sesama umat Islam, bukan untuk berseteru.

Penulis, yang memiliki kapabilitas sebagai ahli fikih, menjelaskan semua bentuk perbedaan tersebut sebenarnya wajar dan tidak perlu sampai terjadi perpecahan.

Dalam buku ini disebutkan pula mengenai dasar hukum yang digunakan pada masing-masing pendapat, sehingga pembahasan tetap dalam koridor keilmuan.

Setelah landasan tersebut disampaikan, hasilnya diserahkan kembali pada pembaca untuk memilih pendapat mana yang diyakininya lebih benar.

Penulis membahasnya secara moderat dan berimbang. Di dalamnya dihadirkan istimbath hukum dari para ulama fikih empat mazhab mengenai puasa, Ramadhan, dan puasa lain di luar Ramadhan.

Tujuan buku ini dibuat adalah mempersempit ruang perpecahan yang bisa memisahkan umat Islam akibat perbedaan ini.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2022 atau tulisan lainnya dari Ilham Choirul Anwar

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Yandri Daniel Damaledo