Shoplifters Buktikan Kemiskinan Tak Seindah Omongan Shinzo Abe

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 10 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Cerita di film Shoplifters menggambarkan bahwa permasalahan kemiskinan di Jepang bukan hal sepele dan tidak seindah perkataan Perdana Menteri Shinzo Abe.
tirto.id - Film Shoplifters garapan Hirokazu Kore-eda yang masuk dalam nominasi The Best Foreign Language di Penghargaan Film Oscar ini menggambarkan potret kemiskinan di pinggiran Tokyo, ibu kota Jepang, yang selama ini dikenal dengan kemajuan teknologi dan kekayaan ekonomi.

Sistem transportasi umum yang memadai dan pelayanan publik yang baik membuat kemiskinan seolah-olah hal yang tidak bisa ditemukan di kota metropolitan Tokyo. Namun, film Shoplifters (dalam Bahasa Jepang: Manbiki Kazoku, Keluarga yang Mengutil) mampu melakukannya.

Film ini mengisahkan Osamu Shibata, protagonis yang tinggal bersama keluarganya di Tokyo pinggiran. Keluarga Shibata adalah keluarga pekerja miskin, dan Osamu mengajari Shota, anak laki-laki dalam keluarga tersebut untuk memenuhi keperluan sehari-hari dengan mengutil di toko.

Pencurian tersebut tidak dimaksudkan untuk memiliki barang mewah tertentu, tapi untuk memenuhi keperluan perut sehari-hari.

Suatu hari di musim dingin, usai mencuri Osamu dan Shota melintasi rumah dan bertemu anak perempuan bernama Yuri di balkon rumahnya. Yuri kelaparan dan diabaikan. Osamu pun memutuskan membawa Yuri pulang untuk makan malam.

Osamu istrinya, Nobuyo awalnya ingin memulangkan Yuri. Namun saat hampir sampai ke tujuan, dari luar mereka mendengar suara orang bertengkar dan baku hantam. Keduanya pun akhirnya memutuskan membawa Yuri kembali ke rumah mereka. Yuri kemudian dirawat dan dianggap seperti anak bungsu sendiri.

Film ini menggambarkan bagaimana sebuah keluarga miskin di Tokyo bertahan hidup: dengan memegang prinsip abu-abu.

Osamu mengajarkan pada Shota bahwa tidak apa-apa mencuri selama barang tersebut ‘belum ada yang punya’ atau asal toko tersebut ‘tidak mungkin bangkrut karena kemalingan’.

Membawa Yuri ke rumah juga tidak salah, karena Yuri nampak seperti anak yang mengalami kekerasan di rumah dan jauh dari kasih sayang keluarga.

Di pertengahan cerita tersebut, Hatsue, seorang nenek yang tinggal di rumah Osamu meninggal. Osamu dan istrinya mengubur Hatsue di bawah rumah mereka dan tidak melaporkan kematiannya sehingga suami istri tersebut tetap menerima uang pensiun bulanan.

Lalu, di media-media setempat muncul informasi hilangnya Yuri dari keluarga aslinya. Nobuyo lantas memotong rambut Yuri dan menamainya Lin, agar tidak kehilangan perempuan yang sudah dianggap seperti anak bungsunya itu.

Kendati demikian, (spoiler alert) pada akhirnya polisi tetap berhasil mendeteksi keberadaan Yuri. Pihak berwajib juga berhasil menemukan fakta bahwa Hatsue sudah meninggal, dan uang pensiunan selayaknya tidak lagi didapat oleh keluarga Osamu.

Tak Seperti Kata Shinzo Abe

Pada saat diinterogasi, Nobuyo yang dituduh menculik Yuri karena ia tidak memiliki anak berkata,

“Apakah melahirkan secara otomatis mebuatmu jadi ibu?”

"Setiap anak perlu ibunya, kau tahu [dan mereka memisahkan Yuri dari ibunya],” imbuhnya.

Di titik itu, penonton akan paham betapa potret abu-abu soal kemiskinan berupaya ditampilkan dalam film ini.

Potret kemiskinan adalah masalah rumit, tak terkecuali di Jepang. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe sempat mengatakan bahwa ‘tidak mungkin’ Jepang dalam keadaan miskin. Namun, kenyataanya, Shoplifters menunjukkan bahwa kemiskinan adalah masalah serius di Jepang, yang hingga kini tidak bisa dilihat dengan mudah.

Toyo Keizai, sebuah majalah di Jepang seperti diberitakan Japan Times menguji kemiskinan di Tokyo dengan tajuk “Rensa Suru Hinkon” (Rantai kemiskinan). Rakyat Jepang diklasifikasi berdasarkan pendapatannya.

Tahun 2013, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) meneliti 35 negara dan menemukan bahwa anak-anak miskin di Jepang berada dibawah rata-rata angka kemiskinan dunia, namun meningkat sebanyak 2,4% dari tahun 2012-2015.

Toyo Keizai juga mengidentifikasi sebanyak 9,29 juta pekerja, atau 14,9% angkatan kerja di Jepang masuk dalam kategori kelas bawah. 38,7% di antaranya berada di bawah garis kemiskinan. 31,5% lainnya tidak punya tabungan, properti, atau aset sama sekali.

Laporan lima halaman tersebut juga menghadirkan kesaksian dari seorang ibu tunggal dengan dua putri, Riko yang hanya bisa bekerja part-time dan kadang-kadang terlibat dalam bisnis seks untuk menghidupi keluarga. Saat putri tertuanya mengatakan ingin berkuliah dia merasa hilang harapan.

“Aku merasa begitu tak berdaya dan ingin mati,” katanya.

Yasushi Aoto, ketua Asosiasi Kemiskinan Anak dan Dukungan Pendidikan di Jepang juga menyebut apa yang dikatakan Shinzo Abe terkesan angkuh. Ia menyebut, “tingkat kemiskinan yang terlihat saat ini menunjukkan sulitnya kehidupan bagi anak-anak Jepang 25 tahun terakhir.”

“Kemiskinan di Jepang benar-benar diabaikan. Kami tertinggal jauh dari negara-negara Barat dalam mengatasi hal ini,” lanjutnya.

Kemiskinan di Jepang juga didorong faktor teknologi. Kemajuan teknologi membuat penduduk dengan penididikan rendah dan kemampuan pas-pasan akan tergantikan dengan mesin dan teknologi. Perempuan yang sudah menikah, yang diharapkan mengurus rumah dan anak akan menemukan kesulitan untuk melamar pekerjaan.

“Jepang punya gambaran, terutama dari pemerintah bahwa keluarga sejatinya adalah 2 orang yang membesarkan anak, dan begitulah yang terjadi,” ungkap Shinobu Miwa, seorang ibu tunggal yang tidak diterima saat melamar kerja lantaran punya anak yang wajib dirawat.

Namun, dengan bukti-bukti sejauh itu, lagi-lagi Shinzo Abe masih keras kepala. Atas sikap tersebut, Yashushi Aoto menyebut Abe gagal menunjukkan simpati terhadap kondisi kemiskinan di Jepang.

“Saya tidak percaya Abe tertarik dengan kemiskinan anak, atau kemiskinan secara umum […] karena secara sederhana kepedulian itu tidak menghasilkan dukungan politik. Politikus cenderung memikirkan hal-hal jangka pendek. Mereka tidak memikirkan hidup anak-anak dan masa depan mereka 40-50 tahun kedepan,” kata Aoto.

Baca juga artikel terkait SINOPSIS FILM atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Film)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Herdanang Ahmad Fauzan