Sepakbola Menyenangkan ala Ajax Bikin Juventus Terdominasi

Oleh: Renalto Setiawan - 12 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ajax gagal menang saat menghadapi Juventus, tetapi penampilan mereka sangat mengesankan: muda, indah, berani, dan menyerang
tirto.id - Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, tahu betul Cristiano Ronaldo adalah pemain yang memiliki segalanya. Kemampuannya sebagai juru gedor komplet, kondisi fisiknya melampaui usianya, serta mental juara yang dipunyai pemain asal Portugal itu nyaris tiada duanya. Maka, saat Ronaldo berhasil menyelamatkan Juventus dari hari buruk pada pertandingan leg pertama babak perempat-final Liga Champions Eropa, Allegri memilih tak banyak cakap.

"Dia berada di kelas yang berbeda," kata Allegri. "[pemain] Luar biasa."

Dan, dalam pertandingan melawan tuan rumah Ajax Amsterdam tersebut, Ronaldo bahkan hanya membutuhkan satu momen untuk menunjukkan kelasnya.

Pada menit ke-44, Ronaldo turun hingga mendekati tengah lapangan untuk menjemput bola. Daley Blind, salah satu bek tengah Ajax Amsterdam, mengikutinya dan tak membiarkan penyerang Juventus itu balik badan. Ronaldo kemudian mengoper bola ke Joao Cancelo. Setelah itu, Blind lantas mengira Ronaldo tak akan membikin gara-gara karena Ronado masih sangat berjarak dengan gawang Ajax Amsterdam.

Blind ternyata salah mengira, dan apa yang dilakukan Ronaldo selanjutnya barangkali merupakan salah satu alasan mengapa Allegri bisa menjura takzim terhadap penyerang anyarnya itu: tanpa disadari pemain-pemain Ajax, ia berlari kencang ke arah gawang, memaksa Cancelo mengirimkan umpan silang, lantas--sambi menjatuhkan badan--menyundul bola untuk mengubah kedudukan.

Namun, demonstrasi kualitas yang ditunjukkan Ronaldo itu ternyata bukan satu-satunya hal yang menyedot perhatian Allegri dalam pertandingan tersebut. Ia memang patut bersyukur bisa memiliki Ronaldo, tapi Allegri ternyata sadar bahwa Ajax Amsterdam merupakan sebuah tim yang memiliki kelas tersendiri.

Selepas pertandingan, Allegri pun merasa beruntung Juventus tak kalah dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 1-1 tersebut.

"Kami [Juventus] meraih hasil positif–1-1 lebih baik daripada 0-0. Penting untuk mencetak gol tandang melawan Ajax, yang [hari ini] memainkan sepakbola indah."

Pujian pelatih yang sudah memberi empat scudetto beruntun buat Juventus itu memang bukan isapan jempol. Segera setelah pertandingan dimulai, Ajax langsung membuat repot Juventus. Mereka menyerang dengan mengandalkan umpan-umpan kombinasi dari kaki ke kaki dan bertahan dengan pressing agresif, anak asuh Erik ten Hag bahkan tidak membiarkan pemain Juventus buat sekadar mengambil nafas.

Sadar bahwa timnya dalam posisi kurang menguntungkan, Allegri langsung menginstruksikan Rodrigo Bentancur, gelandang Juventus, untuk mematikan otak permain Ajax: Frankie de Jong.

Namun, de Jong ternyata kelewat cerdik untuk dimatikan. Gelandang muda Ajax tersebut kemudian bermain lebih dalam, memaksa Bentancur sering ke luar dari posisinya, dan berhasil merusak keseimbangan lini tengah Juventus.




Statistik lantas bisa menjadi bukti bahwa Bentancur gagal mematikan de Jong: menurut Opta, meski mendapatkan pengawalan ketat dari Bentancur, de Jong mampu menyentuh bola sebanyak 117 kali di dalam pertandingan tersebut.

Pergerakan de Jong ternyata bukan satu-satunya sumber masalah yang harus dihadapi Juventus di sepanjang pertandingan. Pemain-pemain Ajax di lini depan juga fasih berpindah-pindah posisi. Sebagai false nine, Dusan Tadic bisa bergerak ke mana saja, sedangkan Hakim Ziyech dan David Neres juga gemar bertukar posisi.

Dan di antara pemain-pemain berkarakter menyerang tersebut, pergerakan Donny van de Beek, gelandang serang Ajax, jelas paling membikin geleng-geleng kepala.

Menurut Michael Cox, analis sepakbola Inggris, tugas utama van de Beek dalam pertandingan itu sebetulnya adalah melakukan man-to-man marking terhadap Miralem Pjanic, otak permainan Juventus. Namun, meski memiliki tugas yang tak mudah dalam bertahan, pemain bernomor punggung enam itu ternyata tetap berbahaya saat menyerang.

Cox lantas menulis, "Masalah yang dihadapi saat melakukan man-to-man marking adalah Anda akan selalu berada di dekat lawan Anda ketika mereka berbuat kesalahan, tetapi kesadaran spasial dan kemampuan van de Beek dalam berlari ke depan ternyata bisa membuatnya berada dalam posisi yang tepat saat Ajax melakukan serangan."

Yang menarik, kemampuan-kemampuan individual pemain Ajax tersebut ternyata dapat disatukan secara utuh oleh Eric ten Hag, pelatih Ajax. Bermain dengan formasi dasar 4-2-3-1, formasi Ajax lantas bisa berubah-ubah sesuai pendekatan yang dilakukan Juventus. Terutama saat menguasai bola, Ajax kadang tampak bermain dengan formasi 3-3-3-1, 4-3-3, hingga 2-3-2-3.

Tujuan dari pendekatan ten Hag pun adiluhung: ia bermain sepakbola menyerang dan menyenangkan seperti keinginan Johan Cruijff, mantan bintang Ajax Amsterdam pada akhir tahun 60an. Dari sana, meski gagal menang, Ajax lantas tampil dominan di sepanjang pertandingan.

Menurut Whoscored, Ajax berhasil menguasai bola sebesar 61%, melakukan percobaan tembakan ke arah gawang sebanyak 19 kali, dan berhasil mengirimkan umpan sebanyak 606 kali. Bandingkan dengan yang dilakukan Juventus: menguasai bola sebesar 39%, Juventus hanya hanya 7 kali melakukan percobaan tembakan ke arah gawang, dan hanya 382 kali melakukan percobaan umpan.

Tidak hanya saat melawan Juventus, penampilan Ajax Amsterdam pada musim ini memang sudah mengundang pujian dari banyak kalangan. Tifo Football, situs analisis sepakbola, menyebut pendekatan Ajax sebagai "total football 2.0". Sementara itu, Jordi Cruijff, anak Johan Cruijff, mengatakan, "Ajax saat ini memainkan sepakbola yang pasti akan disukai mendiang ayahku. Muda, indah, berani, dan menyerang."

Maka dari itu, pujian Allegri atas permainan Ajax ini berarti ia masih mempunyai banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan jika Juventus ingin lolos ke babak selanjutnya.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Mufti Sholih