Semesta The Shining dalam Doctor Sleep

Ewan McGregor dalam Doctor Sleep (2019). foto/imdb
Oleh: Indira Ardanareswari - 10 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mike Flanagan tak ragu "meminjam" beberapa elemen penting dari The Shining untuk membangun ketegangan di film Doctor Sleep.
tirto.id - Suara yang menyerupai alat musik tuba meraung dalam beberapa kali tiupan, membuka pertunjukan film horor Doctor Sleep. Bunyi itu membuat saya makin lengket memeras sandaran tangan kursi bioskop.

Ingatan saya seakan ditarik kembali ke saat pertama kali menonton babak pembuka film horor psikologis The Shining beberapa tahun lalu. Mencekam dan tidak nyaman, itu adalah kesan pertama saya. Meskipun setelah usai menonton, haram hukumnya bagi saya untuk tidak menyukai film ini.

The Shining (1980) besutan sutradara Stanley Kubrick, merupakan salah satu film horor legendaris. Untuk bisa menemukan film ini seseorang tidak perlu menjadi penyuka film-film seram. Berkat keunggulan artistiknya, The Shining hampir selalu muncul dalam kolom-kolom diskusi pecinta film dan tampil sebagai salah satu ikon budaya pop.

Masih segar dalam ingatan, satu tahun lalu, The Shining mendapat porsi tribut yang sangat besar dalam Ready Player One (2018). Film fiksi-ilmiah tentang hiburan virtual reality yang diarahkan oleh Steven Spielberg itu mengangkat set dan segala penampakan yang ada di Hotel Overlook, latar utama The Shining, sebagai bagian permainan virtual.

Tahun ini, The Shining kembali dirayakan lewat Doctor Sleep. Bedanya, film arahan sutradara Mike Flanagan ini berlaku sebagai sekuel langsung dari The Shining. Kedua film tersebut diadaptasi dari novel bersambung berjudul sama karya penulis horor legendaris, Stephen King.


The Shining jadi Fondasi Utama

Di tangan Kubrick, The Shining begitu melegenda. Maka pilihan untuk membuat film tandingan dengan membangun ketegangan yang sama rasanya cukup mustahil dilakukan. Bahkan, kabarnya, popularitas film yang dibintangi Jack Nicholson dan Shelley Duvall itu sudah berada jauh di atas novel aslinya.

Untungnya, Flanagan tidak sedang berkompetisi saat menggarap Doctor Sleep. Sebaliknya, ia justru menyelami semesta The Shining buatan Kubrick dengan cara memasukan beberapa elemen khas dan ikonik warisan film tersebut.

Babak pembuka Doctor Sleep dimulai dengan menampilkan motif karpet hexagonal berwarna hitam dan oranye yang ada di sepanjang lorong Hotel Overlook. Tampak Danny Torrance kecil (Roger Dale Floyd) sedang mengayuh sepeda roda tiganya menyusuri lorong-lorong panjang yang tersusun simetris.

Gaya pengambilan gambar seperti itu memang sudah diakui menjadi ciri khas Kubrick membangun ketegangan dalam The Shining. Flanagan sendiri tidak takut untuk mengikutinya. Bahkan--jika tidak dianggap berlebihan--ia berhasil membangun ulang adegan tersebut.


Flanagan ingin menekankan bahwa Doctor Sleep ialah tentang Danny Torrance, anak yang pernah menyaksikan ayahnya menjadi gila setelah menerima pekerjaan untuk menjaga hotel kosong. Dalam Doctor Sleep, Danny digambarkan tengah dalam perjuangan menaklukan sisa-sisa teror Hotel Overlook. Setelah berhasil kabur dari resort mewah di kaki pegunungan Rocky itu bersama ibunya, Wendy, Danny terus dihantui oleh penampakan mayat hidup perempuan dari kamar 237.

Atas nasihat dari hantu Dick Hallorann (Carl Lumbly), juru masak hotel yang semasa hidupnya juga bisa melihat hantu, Danny berhasil mengunci semua penampakan dari hotel ke dalam kotak-kotak kaleng yang disembunyikan di sepanjang labirin yang tertutup salju. Tentu saja, labirin bersalju yang merupakan pantulan imajinasi Danny itu turut "dipinjam" Flanagan dari adegan klimaks The Shining-nya Kubrick.

Beranjak dewasa, Danny (Ewan McGregor) menjadi trauma pada bakatnya melihat hantu dan berusaha melupakan bahwa semasa kecil ia punya teman imajinasi bernama Tony. Danny kemudian memilih menjadi pemabuk agar bisa menekan kemampuan spesial yang belakangan disebut dengan julukan Shining.

Sepeninggal ibunya, Danny berkelana ke kota kecil dan mulai berdamai dengan kehidupannya. Danny kemudian berkawan dengan Billy Freeman (Cliff Curtis) dan berhasil mendapat pekerjaan sebagai juru rawat sebuah panti jompo. Ketika sudah menyatakan diri bebas dari pengaruh alkohol, kemampuan Shining Danny justru kembali lagi.

Dari sana, misteri bermunculan satu per satu. Mulai dari aksi kelompok nomad True Knot pimpinan Rose The Hat (Rebecca Ferguson) yang mengincar uap kehidupan para Shining demi rahasia hidup panjang. Hingga kehadiran Shining muda bernama Abra Stone (Kyliegh Curran) yang bisa berbagi jaringan telepati bersama Danny ibarat berkomunikasi dengan kawan imajinatif.

Perang Pikiran antar Anak Indigo

Shining dalam pemahaman Danny dan Abra sebenarnya hanya nama lain dari kemampuan seorang indigo. Sejak semula, Doctor Sleep memang diarahkan untuk mengeksplorasi proyeksi hantu dalam benak manusia. Untuk membawakan cerita semacam ini, maka dibutuhkan tokoh-tokoh dengan kemampuan melihat hantu atau merasakan gejala dari alam lain.

Tema semacam ini memang bukan sesuatu yang baru. Anak indigo dalam film-film horor acap kali digambarkan kurang bersosialisasi sehingga ia dianggap penuh misteri dan menakutkan. Tidak jarang pula, anak-anak yang memiliki kemampuan “melihat” atau menyebut dirinya memiliki "teman imajinasi" dinyatakan telah ditempeli mahkluk halus.

Untuk merasionalisasi fenomena indigo, tradisi lama film horor tidak jarang membuka cerita dengan anggapan yang menyamakan indigo dengan gangguan mental. Sixth Sense (1999) besutan sutradara Night Shyamalan, misalnya, merupakan satu dari sekian film yang memasukkan tokoh psikolog untuk melakukan diagnosis yang biasanya berakhir runyam.


Menariknya, Doctor Sleep seolah menemukan cara segar untuk membawakan cerita tentang anak indigo. Di sini anak-anak indigo dibawakan melalui dua interpretasi. Danny Torrance dan Rose The Hat adalah bentuk terjemahan anak indigo versi lawas yang sempat mengalami masa-masa gelap dan berakhir dengan gangguan psikis. Sementara, Abra Stone tak ubahnya indigo "zaman now" yang punya kehidupan sosial yang sehat dan senang mendengarkan lagu-lagu pop.

Kedua indigo dari dua zaman tersebut saling tawar menawar seiring berjalannya cerita. Abra yang cerdik dan pemberani justru menjadi orang pertama yang mengajak si skeptis Danny untuk memerangi Rose The Hat dan kelompoknya. Di lain pihak, Rose menyatakan kepada Abra bahwa tidak akan ada manusia lain yang mampu memahami rasa kesepiannya hidup sebagai seorang Shining.



Tidak bisa dipungkiri, Rose adalah antagonis yang menarik. Ia hidup dalam kelompok caravan dan tidak pernah hidup menetap. Barangkali tidak salah jika ada yang menyebut Rose mewakili gejolak kaum hippies yang ingin meruntuhkan tatanan kebudayaan modern yang sudah serba digital. Dalam sepenggal dialog, ia setuju bahwa internet dan Netflix telah meracuni anak-anak, menjauhkan mereka dari hal-hal adikodrati yang pada hakikatnya dimiliki oleh hampir semua orang.

Konfrontasi yang terjadi antara Danny dan Abra melawan Rose tidak hanya berlangsung simbolis. Flanagan menambahkan visualiasi dan efek-efek yang menarik untuk menggambarkan perang pikiran yang terjadi di antara ketiganya. Misalnya saja seperti ketika Rose datang dengan wujud astral untuk menyerang pikiran Abra.

Klimaks Doctor Sleep pun nyatanya tidak mengecewakan. Durasi film yang menyentuh dua setengah jam seolah masih terasa kurang jika menimbang keseruan ujung konfrontasi para indigo berlatar Hotel Overlook yang tertimbun salju.

Baca juga artikel terkait FILM HOROR atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight