Menuju konten utama

Sejarah Singkat Candi Sukuh, Relief, dan Fungsi Bangunan

Berikut sejarah Candi Sukuh, beserta penjelasan makna relief, dan fungsi bangunan dari era Majapahit tersebut.

Sejarah Singkat Candi Sukuh, Relief, dan Fungsi Bangunan
Sejumlah seniman mementaskan ritual pembukaan Srawung Seni Candi di Kompleks Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (1/1). ANTARA FOTO/Maulana Surya.

tirto.id - Candi Sukuh adalah bangunan candi bercorak Hindu peninggalan dari era menjelang akhir Kerajaan Majapahit. Lokasi Candi Sukuh berada di lereng Gunung Lawu.

Secara administratif, letak Candi Sukuh di wilayah Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Berada di wilayah dengan ketinggian 910 mdpl, Candi Sukuh berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat Kota Surakarta (Solo).

Menempati sisi barat lereng Gunung Lawu, bangunan Candi Sukuh menghadap ke dataran rendah yang terhampar luas. Dari candi ini dapat terlihat pula Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu.

Gunung Lawu termasuk kawasan yang disucikan oleh umat Hindu di pulau Jawa pada era Majapahit. Fakta ini tercatat dalam naskah Tantu Panggelaran, teks prosa Jawa kuno yang disusun sekitar tahun 1557 Caka (1635 M).

Manuskrip berisi kisah penciptaan manusia di Jawa itu memberi petunjuk bahwa Gunung Lawu dianggap pecahan dari Gunung Mahameru. Lawu diyakini sebagai bagian Mahameru yang sempal saat diusung oleh para dewa dari India ke pulau Jawa.

Lawu pun dicatat sebagai satu dari 18 gunung suci di pulau Jawa dalam Serat Manikmaya, mengutip artikel Heri Purwanto dalam Jurnal Berkala Arkeologi (Vol. 37, 2017).

Candi Sukuh dirancang mengikuti kontur lereng Gunung Lawu dari barat ke timur. Bagian utama candi ini berupa bangunan mirip piramida yang terpotong ujungnya sehingga tidak berpuncak lancip. Sejumlah ahli menduga Candi Sukuh dibangun para resi atau pertapa.

Namun, fungsi Candi Sukuh masih menjadi perdebatan. Sebagian peneliti menduga Candi Sukuh digunakan sebagai tempat upacara penyucian. Ada pula yang berpendapat candi ini dahulu menjadi bangunan suci yang ditempati oleh para resi (Rsi).

Sejarah Candi Sukuh

Candi Sukuh dibangun sekitar abad 15, beberapa dasawarsa sebelum Majapahit bubar. Pembangunan candi ini kemungkinan berlangsung semasa Ratu Suhita berkuasa.

Riboet Darmosoetopo dalam laporan riset terbitan PPPT UGM tahun 1976, "Peninggalan-peninggalan Kebudayaan di Lereng Barat Gunung Lawu," mencatat sejumlah angka yang mengindikasikan tahun pendirian Candi Sukuh.

Di gerbang utama Candi Sukuh, terdapat sengkalan (perlambangan angka tahun di teks Jawa kuno) "Gapuro Bhuto Aban Wong" atau "Gapuro Yakso Mongso Jalmo" yang artinya adalah tahun 1359 Saka (1437 M).

Sengkalan berbeda ditemukan di pintu selatan Candi Sukuh, yakni "Gapuro Bhuto Anahut Buntut," yang ditafsirkan sebagai tahun 1359 Saka (1432 M).

Dua angka tahun di atas merujuk kepada era kekuasaan Ratu Suhita, perempuan yang memimpin Kerajaan Majapahit selama periode 1429-1447 M. Namun, bukan sang ratu yang menginisiasi pendirian Candi Sukuh, melainkan kubu oposisi.

Penelitian pustaka yang dikerjakan oleh Achmad Syafi’i dan diterbitkan oleh ISI Surakarta (2019) menyimpulkan, Candi Sukuh kemungkinan didirikan keturunan bangsawan Kediri, Bhre Daha yang saat itu menjadi kubu penentang rezim Ratu Suhita.

Memasuki abad 15, banyak aristokrat Kediri kecewa dengan situasi Majapahit. Pengaruh Islam dan Kekaisaran Tiongkok kala itu menguat, sementara pemerintahan Ratu Suhita dinilai kelewat lunak dalam menyikapinya.

Konteks tersebut menjelaskan alasan di balik kesederhanaan arsitektur Candi Sukuh. Para peneliti menduga pemahat candi ini bukan empu istana, melainkan tukang pahat kayu di perdesaan. Kebutuhan akan tempat pemujaan yang mendesak diduga pula menyebabkan pendirian Candi Sukuh tampak dilakukan secara tergesa-gesa.

Di sisi yang lain, arsitektur Candi Sukuh memperlihatkan pengaruh tradisi Jawa dari masa pra-Hindu/Buddha (budaya Megalitik), sementara simbol-simbolnya mencerminkan ajaran Siwaisme yang berbeda dari masa sebelumnya.

Awal abad 14 ditengarai menjadi masa kebangkitan praktik Tantrik Siwaisme di Jawa yang berujung pada kultus Bima. Nah, bangunan Candi Sukuh mengekspresikan filosofi kultus Bima tersebut, dengan simbol-simbol alat kelamin ditampilkan secara vulgar.

Sejumlah relief di Candi Sukuh menyajikan fragmen Bima Suci yang dikisahkan memiliki kehendak kuat menggapai pencerahan dan kesempurnaan rohani. Fakta ini tersirat pula di penamaan "Sukuh" yang merupakan gabungan kata "su" (baik) dan "kukuh" (kuat).

Candi Sukuh ditemukan kembali pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson yang bertugas selama era pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Candi ini ditemukan dalam kondisi rusak.

Merujuk pada karya Bani Suhardi dan Hartini, Makna Filosofis Tata Ruang Dan Arsitektur Candi Sukuh dan Kaitannya Dengan Teks-Teks Jawa Kuna (2021), arkeolog yang pertama kali meneliti Candi Sukuh adalah C. J. van der Vlis.

Namun, hasil riset van der Vlis pada tahun 1842 itu dinilai kurang akurat, terutama dalam penafsiran sejumlah prasasti di Candi Sukuh.

Candi Sukuh lalu diteliti sejumlah arkeolog Belanda lainnya, termasuk N.W. Hoepermans. Kajiannya mengenai Candi Sukuh termuat dalam Hindoe-oudheden van Java 1864-1867, buku terbitan tahun 1913.

Penelitian arkeologi di Candi Sukuh juga dilakukan oleh R.D.M. Verbeek pada 1889, serta J. Knebel dan W.F. Stutterheim (1910). Beberapa riset lanjutan kemudian dikerjakan oleh arkeolog lainnya, termasuk ahli asal Indonesia, R.P. Soejono pada 1960-an.

Sekalipun ditemukan sejak abad 19 M, pemugaran pertama Candi Sukuh baru dikerjakan tahun 1917 oleh Jawatan Purbakala Hindia-Belanda. Pemugaran itu berlanjut pada 1970 atas prakarsa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Relief Candi Sukuh dan Maknanya

Kompleks Candi Sukuh menempati area seluas kurang lebih 5.500 meter persegi, terdiri dari 3 teras berundak. Di teras ketiga, terdapat monumen utama candi ini yang berbentuk trapesium.

Penampakan bangunan utama Candi Sukuh sekilas memang mirip piramida kuno buatan suku Maya. Namun, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan keterkaitan candi ini dengan budaya bangsa asli Amerika tengah tersebut.

Gerbang yang ada di Candi Sukuh untuk menuju teras utama disebut sebagai gerbang Paduraksa atau gerbang atap. Gerbang masuk dihiasi relief menggambarkan seseorang yang berlari sambil menggigit ekor ular. Di sayap selatan gerbang, relief menampilkan sosok raksasa.

Di selasar Candi Sukuh, terdapat sekelompok batu berbagai bentuk. Ada yang berlubang seperti Lingga, hingga menyerupai guci. Di halaman candi tersebut, terdapat banyak arca dan panel batu bergambar. Adapun di bagian depan bangunan utama, ada sebuah tiang batu berisi rekaman cerita Garudeya, sosok Garuda yang menjadi putra Dewi Kadru.

Dalam beberapa relief Candi Sukuh, terdapat pula ornamen Lingga dan Yoni yang menjadi lambang alat kelamin laki-laki dan perempuan serta simbol awal mula kelahiran manusia.

Banyak relief menarik dan arca unik di Candi Sukuh. Beberapa arca di candi ini bahkan menampilkan alat kelamin secara vulgar. Meskipun demikian, arca dan relief di Candi Sukuh menyimpan makna filosofis terkait keyakinan para resi yang membangunnya.

Relief-relief Candi Sukuh menampilkan sejumlah fragmen yang menarik untuk dipahami. Dalam laporan penelitian bertajuk "Simbolisme Relief Candi Sukuh" karya Achmad Syafi’i yang diterbitkan ISI Surakarta (2019), dijelaskan ada 6 fragmen cerita di candi tersebut.

Masih mengutip laporan riset yang sama, enam fragmen itu menyajikan kisah Garudeya, Sudhamala, Bima Bungkus, Samuderamantana, Nawaruci, dan adegan pandai besi.

Penjelasan singkat tentang 6 fragmen di relief Candi Sukuh itu adalah sebagai berikut:

1. Relief Garudeya

Berada di depan bangunan utama Candi Sukuh, relief Garudeya memuat prasasti bahasa kawi yang disertai sengkalan berbunyi "padamel rikang buku tirta sunya," dengan maksud 1361 Saka (1439 M).

Fragmen relief Garudeya bersumber dari bagian pertama Kitab Mahabharata (Adiparwa). Fragmen ini menceritakan kisah Sang Winata dan Dewi Kadru (istri Bagawan Kasyapa), serta perjalanan Garuda mencari tirta amerta.

Relief ini mencakup pula arca Garuda dengan kepak sayap seolah terbang, sementara kedua kakinya mencengkeram seekor gajah dan kura-kura.

2. Relief Sudhamala

Relief Sudhamala bertempat di bagian selatan halaman teras ketiga Candi Sukuh. Cerita dalam relief ini dibuat berdasarkan Kidung Sudhamala. Relief tersebut menceritakan kisah ksatria Pandawa, yakni Sadhewa melenyapkan kutukan dalam diri Dewi Uma, istri dari Bathara Guru.

Alkisah, Dewi Uma dikutuk jadi raksasa bernama Bathari Durga dan terbuang ke hutan Setra Gandamayit. Kutukan itu berasal dari suaminya sendiri, Bathara Guru yang murka karena sang istri menolak melayaninya. Bathara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi Bathari Durga yang berkuasa di hutan Gandamayit selama 12 tahun. Sosok yang bisa melenyapkan kutukan ini adalah anak bungsu Pandudewata, Sadhewa. Namun, bukan perkara mudah untuk meminta Sadewa mengubah kembali Dewi Uma menjadi bidadari cantik jelita.

3. Relief Bima Bungkus

Relief Bima Bungkus di Candi Sukuh mengisahkan fase kelahiran Bima. Salah satu ksatria Pandawa itu lahir dari rahim Dewi Kunti dalam kondisi terbungkus kulit ari luar biasa kuat, liat, dan tak bisa disobek.

Kondisi Bima itu membuat resah sang ayah, Pandu dan segenap keluarganya. Apalagi, semua alat dan senjata tidak dapat digunakan untuk menyobek kulit ari pembungkus bayi bima. Mendengar kabar itu, Bathara Guru lantas mengutus Dewi Uma, Bethara Narada, Bethara Bayu, dan Gajahsena untuk membantu menyobek kulit ari Bima.

4. Relief Nawaruci (Bima Suci)

Relief Nawaruci di Candi Sukuh memuat cerita yang bersumber dari Kitab Sang Hyang Tattwajnana (Kitab Nawaruci). Karya Empu Siwamurti itu ditulis antara tahun 1500 hingga 1619 M.

Fragmen di relief Nawaruci di Candi Sukuh mengisahkan upaya Bima pada saat menjalankan saran Durna untuk mencari tirta pawitra sari (air suci). Bima mencari air suci tersebut agar bisa menyatu kembali kepada asalnya (Moksa). Kisah di relief ini secara garis besar mengggambarkan perjalanan spiritual Bima untuk mencapai kesucian dan menyatu dengan sang pencipta.

5. Relief Samuderamantana

Relief Samuderamantana di Candi Sukuh mencakup arca kura-kura yang memuat cerita terkait pengadukan samudra susu untuk mencari air abadi atau tirta amerta.

6. Relief Pandai Besi

Relief ini menunjukkan adegan pandai besi tetapi belum bisa dipahami arti maupun kategori ceritanya.

Fungsi Bangunan Candi Sukuh

Dikutip dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, fungsi Candi Sukuh terlihat dari beberapa relief, susunan bangunan, serta arca dan prasasti yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Para ahli memperkirakan Candi Sukuh dibangun dengan tujuan menangkal atau melepas pengaruh kekuatan buruk. Dugaan ini didasari oleh keberadaan relief yang mengisahkan cerita Sudamala dan Garudeya.

Selain itu, Candi Sukuh juga dipercaya menjadi medium untuk penangkal roh jahat yang memiliki pengaruh buruk bagi kehidupan seseorang.

Candi Sukuh juga dipercaya berhubungan erat dengan penghormatan pada arwah leluhur yang diperkuat dengan susunan bangunan candi tersebut.

Sebabnya, Candi Sukuh tersusun dari beberapa teras menyerupai punden berundak pada zaman prasejarah yang berfungsi sebagai tempat pemujaan arwah maupun leluhur.

Baca juga artikel terkait CANDI atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Addi M Idhom