tirto.id - Sejarah perkembangan nasionalisme di Indonesia telah melewati berbagai fase dan terus berkembang hingga sekarang. Bagaimana latar belakang perkembangan nasionalisme di Indonesia dan apa saja prinsip-prinsipnya?
Nasionalisme berasal dari kata "nation" mengandung arti “bangsa”. Secara etimologis, kata ini berakar dari bahasa Latin “natio” atau “nascor” yang bermakna “saya lahir” dan dari kata “natus sum" yang artinya “saya dilahirkan”.
Adapun nasionalisme merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara. Paham nasionalisme ini terus mengalami perkembangan hingga diartikan sebagai suatu gejala psikologis, yakni berupa rasa persamaan dari sekelompok manusia yang menimbulkan kesadaran sebagai bangsa.
Perkembangan Nasionalisme Indonesia
Sejarah perkembangan nasionalisme di Indonesia tidak terlepas dari kesadaran berbangsa. Adapun bangsa adalah sekelompok manusia di suatu wilayah yang memiliki rasa persatuan karena kesamaan pengalaman sejarah dan cita-cita.
Secara politik, nasionalisme menjadi ideologi yang mengutamakan prinsip kebebasan, kesatuan, kesamarataan, serta kepribadian selaku orientasi nilai kehidupan kolektif suatu kelompok dalam usahanya merealisasikan tujuan politik. Tepatnya untuk pembentukan dan pelestarian negara secara nasional.
Secara garis besar, menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam Kolonialisme dan Nasionalisme di Indonesia (1967), nasionalisme Indonesia mulai berkembang sejak adanya perjuangan R.A. Kartini saat menghendaki emansipasi perempuan.
Kendati masyarakat lebih mengenal Kartini sebagai pejuang wanita, tetapi sepak terjangnya masuk pada fase paling awal pembentukan nasionalisme Indonesia. Adapun tahapan perkembangan nasionalisme di Indonesia selanjutnya adalah mulai terbentuknya organisasi-organisasi kebangsaan.
Periode kemunculan berbagai organisasi di Indonesia ini menjadi pertanda bahwa kesadaran berbangsa sudah mulai bangkit. Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan mengenai fase perkembangan nasionalisme di Indonesia.
Fase Pertama
Pada 1908, organisasi Boedi Oetomo menjadi pembuka gerakan kebangkitan nasionalisme Indonesia dalam dinamika sejarah. Para mahasiswa Kedokteran Stovia, sekolah anak priyayi Jawa yang disediakan Belanda di Jakarta, memotori kelahiran organisasi ini.Fase Kedua
Fase kedua perkembangan nasionalisme di Indonesia adalah kebangkitan nasionalisme pada tahun 1928. Pada fase ini, kesadaran untuk menyatukan negara, bangsa dan bahasa ke dalam satu negara, bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemuda yang sudah mulai terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan.Di antaranya seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, dan lain sebagainya. Untuk mewujudkan berbagai cita-cita nasionalisme di atas, berbagai organisasi dan lapisan masyarakat menyelenggarakan Sumpah Pemuda pada 1928.
Fase Ketiga
Fase ketiga perkembangan nasionalisme di Indonesia merupakan masa “Revolusi Fisik Kemerdekaan”. Peranan nyata para pemuda pada masa revolusi fisik kemerdekaan tampak ketika mereka menyandera Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.Para pemuda kala itu meminta agar proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan. Berbagai tokoh sangat bersemangat untuk mewujudkan nation state yang berdaulat dalam kerangka kemerdekaan.
Fase Keempat
Fase perkembangan nasionalisme di Indonesia keempat adalah perkembangan nasionalisme pada 1966. Fase keempat ini menjadi pertanda tatanan baru dalam pemerintahan Indonesia.Selama 20 tahun setelah kemerdekaan, terjadi berbagai pemberontakan Gestapu dan eksesnya. Tampaknya, tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara akan sulit untuk memperoleh kekuasaan dari penguasa orde-lama Soekarno.
Adapun penguasa Orde Baru mencampakkan para pemuda dan mahasiswa yang telah menjadi motor utama pendorong terbentuknya NKRI. Bahkan sejak akhir tahun 1970-an, para mahasiswa mengalami keterbatasan gerak dalam berpolitik dan lebih diarahkan ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus.
Fase Kelima
Pergolakan masa Orde Baru melahirkan nasionalisme fase kelima atau “Masa Reformasi”. Nasionalisme tidak selesai pada masa pemerintahan Soeharto, melainkan terus bergulir ketika reformasi menjadi sumber inspirasi perjuangan bangsa.Latar Belakang Munculnya Nasionalisme Indonesia
Kehidupan bangsa Indonesia pada awal abad ke-20 silam masih di dalam bayang-bayang kolonialisme Belanda. Mengutip tulisan Afandi dkk. dalam "Nasionalisme di Indonesia" (Nusantara Hasana Journal, vol. 3, no. 1, 2023), nasionalisme muncul untuk menanggapi situasi tersebut.
Perasaan senasib dan sepenanggungan akibat pendudukan melahirkan persatuan dan nasionalisme. Pasalnya, meskipun sudah berjuang secara kedaerahan, langkah para pendahulu terus saja mengalami kegagalan.
Faktor lainnya adalah perluasan pendidikan. Kaum pelajar sudah mulai bertebaran pada awal abad ke-20 hingga melahirkan berbagai organisasi nasional yang fokus ke bidang-bidang tertentu.
Dari pembelajaran ini, pers dan penggunaan bahasa terus mengalami perkembangan juga. Saat itu, bahasa Melayu menjadi alat komunikasi yang populer untuk berinteraksi antardaerah.
Berbagai pergerakan nasional yang terjadi di Asia pada masa yang sama juga turut memberikan pengaruh. Contohnya seperti perjuangan nasional oleh Jose Rizal di Filipina dan Gerakan Turki Muda.
5 Prinsip Nasionalisme
Secara umum, semangat nasionalisme dalam negara kebangsaan mengandung lima prinsip utama. Berikut ini daftar 5 prinsip nasionalisme yang perlu masyarakat ketahui.
- Kesatuan (unity): dalam wilayah teritorial, bangsa, bahasa, ideologi, dan doktrin kenegaraan, sistem politik atau pemerintahan, sistem perekonomian, sistem pertahanan keamanan, dan kebudayaan;
- Kebebasan (liberty, freedom, independence): dalam beragama, berbicara atau berpendapat lisan dan tertulis, serta berkelompok dan berorganisasi;
- Kesamaan (equality): dalam kedudukan hukum, hak dan kewajiban;
- Kepribadian (personality) dan identitas (identity): yaitu memiliki harga diri (self estreem), rasa bangga (pride) dan rasa sayang (depotion) terhadap kepribadian serta identitas bangsanya yang tumbuh dari sekaligus sesuai dengan sejarah maupun kebudayaannya;
- Prestasi (achievement): yaitu cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan (welfare), kebesaran, dan kemanusiaan (the greatnees and the glorification) dari bangsanya.

Demikian penjelasan mengenai perkembangan nasionalisme di Indonesia, fase, beserta prinsip-prinsipnya. Pastikan juga untuk memantau informasi terkait sejarah lainnya di sini.
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id






































