Sejarah Mujahidin Indonesia Timur (MIT): Sumpah Setia kepada ISIS

Oleh: Iswara N Raditya - 2 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Cikal-bakal sejarah Mujahidin Indonesia Timur (MIT) berawal pada 2010. Tahun 2014, MIT pimpinan Santoso menyatakan sumpah setia kepada ISIS.
tirto.id - Sejarah terbentuknya kelompok militan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah, bermula dari andil Santoso alias Abu Wardah Asy Ayarqi pada 2010 dengan mengumpulkan dan melatih kader-kadernya. Santoso dikukuhkan sebagai pemimpin tertinggi pada 2012. Dua tahun berselang, MIT bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS.

Sumpah setia MIT kepada ISIS itu diucapkan pada Juli 2014. Selanjutnya, pada November 2015, MIT merilis video dan menyebut diri mereka sebagai “Prajurit Negara Islam”. Video ini juga berisi ancaman terhadap pemerintah dan Kepolisian RI.

Tanggal 3 April 2015, terjadi bentrokan bersenjata antara MIT melawan pasukan Detasemen Khusus (Densus) 88. Daeng Koro, salah seorang petinggi MIT yang juga tangan kanan Santoso, tewas. Sedangkan Santoso dan para pengikutnya berhasil kabur untuk menyelamatkan diri.

Dikutip dari BBC, penghubung utama antara MIT di Poso dan ISIS di Timur Tengah diyakini adalah Bahrun Naim yang pernah ke Suriah pada 2014. Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) juga memberikan konfirmasi bahwa pria kelahiran Pekalongan ini adalah anggota ISIS asal Indonesia.


Kepolisian RI kemudian menggelar jumpa pers di Mapolda Sulawesi Tengah, Palu, pada 4 April 2015. Komjen Badrodin Haiti yang saat itu menjabat Wakapolri membenarkan bahwa Santoso dan MIT berkaitan erat dengan ISIS.

“Santoso ini termasuk Mujahidin Indonesia Timur, salah satu pendukung dan pengikut ISIS,” jelas Badrodin kepada media.

Dukungan MIT dan Santoso kepada ISIS membuat dunia internasional waspada. Bahkan, pada Maret 2016, pemerintah Amerika Serikat memasukkan nama Santoso ke dalam daftar teroris global.

“Sebagai dampak dari penunjukan ini, seluruh properti dalam yurisdiksi AS yang terkait dengan Santoso diblokir dan semua warga AS dilarang terlibat transaksi apapun dengan Santoso,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS, dikutip dari Antara, Rabu (23/3/2016).

Dalam daftar teroris global versi pemerintah AS itu, Santoso disebut sebagai pemimpin Mujahidin Indonesia Timur yang bertanggung jawab atas sejumlah pembunuhan dan penculikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Dari Santoso ke Ali Kalora

Perburuan terhadap Santoso pun kian digencarkan. Dalam baku-tembak dengan Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala bentukan Polda Sulawesi Tengah di pedalaman Poso pada 18 Juli 2016, Santoso tewas kena tembak.

Setelah itu, pucuk pimpinan MIT diteruskan oleh Muhammad Basri alias Bagong, salah seorang tangan kanan Santoso dan wakil pemimpin gerakan itu. Namun, kepemimpinan Basri di MIT tidak bertahan lama. Ia berhasil ditangkap pada 14 September 2016.

Kematian Santoso disebut-sebut telah membuat ISIS murka. Ali Fauzi, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI), dalam wawancara dengan VOA Indonesia, mengungkapkan, ada perintah khusus dari pimpinan ISIS di Suriah agar seluruh kelompok militan di Indonesia segera melakukan aksi balas dendam.


Namun, sepeninggal Santoso, juga ditahannya Basri, ternyata sangat berpengaruh terhadap MIT. Mereka pun terpaksa menahan diri. Kehilangan dua pimpinan sekaligus rupanya membuat kelompok militan ini semakin berhati-hati sebelum bergerak.

Hingga pada 30 Desember 2018 lalu, seorang penambang emas di Parigi Mountong, Sulawesi Tengah, ditemukan tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Sehari berselang, terjadi serangan terhadap anggota Polres Parigi Mountong dan menyebabkan dua polisi terkena tembakan.

MIT kini dipimpin oleh Ali Kalora, pria asli Poso sekaligus salah satu pengikut setia Santoso yang mulai memiliki pengaruh lebih besar setelah tewasnya Daeng Koro pada 2015. Hingga saat ini, Satgas Tinombala masih memburu Ali Kalora dan kelompoknya.


Baca juga artikel terkait MUJAHIDIN INDONESIA TIMUR atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight