Sejarah April Mop: Mengapa Sejumlah Negara Membatasinya Sejak 2020?

Kontributor: Endah Murniaseh - 31 Mar 2021 17:03 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Berikut adalah sejarah perayaan April Mop dan daftar negara yang membatasinya sejak 2020.
tirto.id - Pernahkah Anda mendengar istilah April Mop yang jatuh setiap tanggal 1 April? Biasanya, di tanggal tersebut, orang-orang sering menyebarkan kabar bohong tentang suatu hal, lalu disertai dengan ucapan “April Mop”.

Hingga saat ini, asal-usul dari April Mop ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, mengutip History, beberapa sejarawan menyampaikan bahwa April Mop telah ada sejak tahun 1582.

Saat itu, Perancis mengalami peralihan dari kalender Julian ke kalender Gregorian, sebagaimana yang diminta oleh Dewan Trente di tahun 1563. Kalender Julian merupakan kalender tahun baru yang dimulai dengan titik balik musim semi, sekitar 1 April.

Namun, perubahan kalender tersebut tidak diketahui oleh semua orang dan mereka masih merayakan tahun baru di minggu terakhir bulan Maret sampai 1 April. Padahal, saat itu, tahun baru telah dirayakan setiap 1 Januari. Peristiwa ini akhirnya menjadi gurauan dan kabar bohong yang dikenal dengan “April Mop”.

April Mop juga dirayakan dengan menaruh ikan kertas di punggung atau dikenal dengan istilah “poisson d’avril”, yang dalam bahasa Perancis berarti "ikan April". Hal ini melambangkan ikan yang mudah ditangkap dan seseorang yang mudah ditipu.

April Mop juga dikaitkan dengan festival seperti "Hilaria" dalam bahasa Latin berarti "kegembiraan", yang dirayakan di Roma kuno pada akhir Maret oleh para pengikut kultus Cybele. Pada perayaan ini, orang-orang berdandan, menyamar dan mengejek orang lain.

Namun, ada yang berspekulasi bahwa April Mop dikaitkan dengan titik balik musim semi, atau hari pertama musim semi di belahan bumi utara. Sebab, biasanya kondisi alam tidak dapat ditebak dan dianggap membodohi mereka.

Pada abad ke 18, April Mop akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Inggris. Sementara di Skotlandia, tradisi ini dirayakan selama dua hari, dimulai dengan berburu burung Cuckoo, dan hari kedua dirayakan dengan gurauan yang dimainkan di pantat seseorang dengan memberikan tanda untuk menendang pantat mereka.

April Mop dirayakan karena dianggap membuat banyak orang senang dan tertawa yang dapat mengurangi stres. Namu,n April Mop juga memicu kontroversi, hal ini dikarenakan ada masyarakat yang menilai bahwa April Mop memberikan dampak negatif seperti kebingungan, kekhawatiran, serta membuang waktu dan tenaga.

Ditambah lagi dengan maraknya berita bohong (hoax) saat ini, masyarakat diminta harus lebih berhati-hati agar tidak termakan berita bohong. Saat perayaan April Mop, masyarakat harus ekstra waspada dengan berita bohong yang semakin banyak di hari tersebut.


Sejumlah Negara Membatasi April Mop

Melansir The Sydney Morning Herald, COVID-19 yang melanda seluruh dunia di tahun 2020 membuat perayaan April Mop mengalami sedikit perbedaan. Bahkan, di sejumlah negara, April Mop 2020 dibatasi dan dilarang membuat lelucon yang berkaitan dengan COVID-19.

Thailand, India, dan Taiwan menindak tegas bagi masyarakat yang menjadikan COVID-19 sebagai lelucon saat perayaan ini.

Pemerintah Thailand akan memberikan hukuman hingga lima tahun penjara bagi mereka yang melanggar. Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen juga menyampaikan bahwa hukuman tiga tahun penjara atau denda hingga 3 juta dolar Taiwan atau setara dengan 160 ribu dolar AS.

Sementara itu, pemerintah India akan memberikan tindakan hukum bagi siapa pun yang menyebarkan berita bohong pada April Mop.

Kementerian Kesehatan Jerman dengan imbauan “Corona is no joke” meminta masyarakat untuk tidak mengarang cerita tentang virus tersebut.

Agensi Humas di Inggris, Taylor Herring juga menyarankan semua perusahaan yang bekerja sama dengannya untuk tidak melakukan lelucon ini di tahun 2020.

Google, sebagai raksasa teknologi, juga mengimbau untuk tidak ikut merayakan tradisi ini untuk menghargai siapa pun yang tengah berjuang melawan COVID-19.



Baca juga artikel terkait APRIL MOP atau tulisan menarik lainnya Endah Murniaseh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Endah Murniaseh
Penulis: Endah Murniaseh
Editor: Alexander Haryanto

DarkLight