Piala Dunia 2018

Sejarah Alternatif Sepakbola: Jika VAR Berlaku Sejak Dulu...

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 22 Juni 2018
Dibaca Normal 5 menit
FIFA bisa saja memberlakukan teknologi garis gawang dan virtual wasit sejak dulu kala. Sejarah sepakbola pun bisa berubah total.
tirto.id - Kemenangan 2-1 Perancis atas Australia tak lepas dari bantuan teknologi. Gol penalti oleh Antoine Griezmann pada menit 58 tidak akan terjadi jika tidak Virtual Assistant Referee (VAR). Setelah melihat tayangan ulang, Cunha menilai Griezmann telah dijegal di dalam kotak penalti.

Bantuan teknologi lainnya datang pada menit 81. Bola lambung Paul Pogba gagal dihalau Australia, kiper Mather Ryan. Bola mengenai tiang atas dan memantul ke bawah tepat di atas garis. Secara kasat mata tak terlihat bahwa itu gol.

Selama beberapa detik, Cunha terdiam. Hal serupa dilakukan hakim garis yang tak memberi tanda. Namun beberapa detik kemudian jam di tangan Cunha bergetar. Sistem goal line technology (GLT) yang terintegrasi dengan jam tangan yang dikenakan wasit memberi isyarat bahwa bola sudah melewati garis gawang. Gol.

Teknologi VAR baru kali ini diaplikasikan FIFA di turnamen sekelas Piala Dunia. Sebelum sistem ini sudah diuji coba di liga-liga Eropa dan turnamen dunia junior. Sedangkan GLT sudah diuji pada ajang Piala Dunia 2014 lalu.

Kehadiran VAR dan GLT mau tak mau membuat kejelian wasit kini mendekati sempurna. Tipis kemungkinan terjadi kesalahan vital, kekeliruan fatal atau kecerobohan bodoh yang membuat wasit jadi rundungan. Bagi mereka yang kontra, kehadiran teknologi dinilai membuat sepakbola sudah tak mendebarkan lagi.

Salah satu kesenangan dalam sepakbola adalah kontroversi. Itulah yang membuat orang berdebat dan berbicara selama berhari-hari, berminggu-minggu atau bertahun-tahun setelah kontroversi itu terjadi.


Dulu FIFA penganut mazhab yang bersikukuh menolak teknologi ikut campur terlalu jauh dalam sepakbola.

"Tidak ada gunanya berdebat tentang itu (penggunaan VAR dan GLT). Kontroversi itu bagian dari sepakbola," tulis FIFA dalam rilis pada 5 Januari 2005 lalu. Namun sekarang mereka telah melunak bahkan memuji dua teknologi ini membuat sepakbola menjadi lebih baik dan adil.

Pada gelaran Piala Dunia 2018, panitia mengklaim teknologi VAR dan GLT yang dipakai amatlah canggih. Mereka menggandeng perusahaan teknologi olahraga Hawk-Eye Innovations untuk mengerjakan GLT. Sedangkan VAR dikerjakan Crescent Comms (audio) dan Hawk-Eye Innovations (video).

Dua teknologi ini sebetulnya bukan hal baru. Temuan GLT dan VAR versi sederhana terjadi hampir berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sejumlah olahraga sudah menggunakannya, salah satunya tenis.

Jika saja FIFA menerapkan dua teknologi ini sejak dulu, muncul pertanyaan tentang "sejarah alternatif": apa jadinya sejarah sepakbola?

Teknologi Bola dan Garis Gawang

Saat ini ada dua sistem GLT yang populer dipakai di sepakbola. Pertama, teknologi Hawk-Eye diciptakan ahli kecerdasan buatan (artificial intelligence) asal Inggris Dr. Paul Hawkins. Kedua, GoalRef yang dikembangkan lembaga penelitian Jerman, Fraunhofer IIS, yang bekerja sama dengan FIFA. Sistem ini mulai populer dipakai di kriket sejak awal 2000-an. Sedangkan GoalRef mulai diteliti sejak 2012 awal.

Sistem GoalRef yang dikembangkan FIFA sebetulnya sudah lahir nun jauh sebelumnya. Secara lebih sederhana sistem itu sudah ditemukan sejak 1970an oleh perusahaan Jerman bernama Precitec. Mereka menyebutnya sebagai "Apparatus for monitoring a boundary line". Sirkuit osilatori yang ditanam di dalam bola akan menjadi pelatuk yang mengirim tegangan pada receiving line yang dipasang di garis dan sekeliling tiang gawang.

Sistem sirkuit sederhana sudah didaftarkan ke Kantor Paten dan Merek Dagang Amerika Serikat sejak 19 Juli 1978. Pengembangan GoalRef yang dilakukan FIFA merujuk pada sistem milik Precitec, perusahaan yang kini telah bubar itu.

Sistem lebih rumit kemudian ditemukan pada 1987 oleh Ronald Brandon dan Winger James. Metode elektronik yang dipadukan dengan komputer dan pemancar radio ini mampu melacak di area lapangan manakah bola berada. Sistem akan berbunyi saat bola meninggalkan area lapangan atau masuk ke gawang. Sistem ini mulai dipakai American Football.

Pada 1998, James D. Crawford menyempurnakan electronic goal detector dan mengaplikasikannya pada olahraga hoki es. Berbeda dengan sepakbola, memprediksi apakah lempeng bola itu gol atau tidak amatlah sukar dalam hoki es. Sensor dari Crawford ini mulai dipakai di kompetisi NHL beberapa tahun kemudian. Sejak itulah di tiap gawang dipasang strobolight dan sirene yang keduanya akan menyala saat keping masuk garis gawang.


Pengembangan GLT semakin berkembang pada dekade 2000-an. Di ajang kompetisi domestik kebutuhan pemakaian GLT semakin mendesak sebab banyak insiden gol-gol hantu terjadi. GLT hadir memang untuk meminimalisir adanya gol-gol hantu ini.

Gol hantu adalah istilah yang dipopulerkan Jose Mourinho pada 2005 lalu. Saat itu ia kecewa terhadap gol penyerang Liverpool, Luis Garcia, yang menurutnya tidak sah dan belum masuk ke gawang Chelsea pada laga semifinal Liga Champions musim 2005. Di Jerman, istilah gol hantu ini disebut Phantomtor.

Di ajang turnamen Piala Dunia dekade 70-an, 80-an, 90-an dan awal 2000-an saat teknologi GLT sebetulnya sudah ada, kemunculan gol hantu yang kontroversial tidak pernah terjadi. Momen itu akhirnya terjadi Pada 27 Juni 2010 saat Inggris menghadapi Jerman di babak 16 besar Piala Dunia.

Pada menit ke-38, Frank Lampard menembak bola dan bola mengenai bagian bawah mistar gawang lalu memantul ke dalam gawang. Namun wasit tak melihat ini sebagai gol. Padahal dari rekaman, tembakan Lampard ini memang seharusnya menjadi gol. Jika gol ini disahkan Inggris akan menyamakan kedudukan jadi 2-2. Dianulirnya gol Lampard diklaim membuat Inggris menjadi tertekan dan akhirnya terbantai 4-1 oleh Jerman.

Publik Jerman menyebutnya sebagai "gol balas dendam untuk Wembley". Sindiran ini merujuk saat mereka ditekuk Inggris pada final Piala Dunia 1966. Gol kemenangan yang dicetak Geoff Hurst mestinya dianulir wasit karena boleh melewati garis gawang.

Saat Piala Dunia 1966, teknologi GTL memang belum muncul. Namun VAR sebetulnya bisa dijadikan solusi untuk menganulir gol Inggris.

VAR Bisa Memberikan Sejarah Alternatif Piala Dunia

Berbeda dengan GTL, teknologi VAR lahir dari hal sederhana yang sebenarnya sudah tersedia sejak dulu kala. Video yang dianalisis wasit keempat di dalam ruangan VAR berasal dari siaran pertandingan.

Siaran televisi secara langsung sudah dimulai sejak Piala Dunia 1954 di Swedia. Masalahnya pada Piala Dunia 1954, 1958 dan 1962, teknologi instant replay belum ditemukan. Tanpa instant replay, sulit melihat tayangan ulang yang terjadi saat pertandingan. Mereka yang menonton di rumah akan merasakan pengalaman yang sama seperti yang dialami penonton di stadion.

Pada era itu rekaman tayangan ulang bukan hal baru. Sejak 1955 televisi CBC sering melakukannya di acara hoki dengan menggunakan sistem kinescope atau Ampex Quadruplex. Hanya saja rekaman ini amat tak instan karena baru bisa ditayangkan dengan jeda cukup lama hingga bermenit-menit. Sistem ini juga tak mampu menampilkan gerakan lambat, freeze-frame, dan memajukan atau memundurkan poin indeks waktu yang fleksibel.

Direktur Olahraga CBS Tony Verna yang kali pertama menemukan sistem instant replay ini. Ia membuat sebuah sistem yang memungkinkan sebuah mesin kaset video standar diputar ulang secara langsung. Mesin ini beratnya 590 kg dan kali pertama diuji pada 7 Desember 1963.

Infografik Var dan Teknologi Goal Line


Dengan sistem ini penggunaan banyak kamera dalam satu event pun mulai lazim dilakukan. Saat satu kamera merekam adegan secara wide, maka satu kamera lagi akan memantau aksi "langsung" para bintang lapangan secara close-up dari berbagai sudut dan dengan gerakan lambat. Dan mesin Verna bekerja memadukan itu semua secara live.

Tayangan instant replay ini mulai dipakai di Piala Dunia 1966. Stasiun BBC yang kala itu menyiarkan laga final, menampilkan rekaman ulang saat Hurst menjebol gawang kiper Jerman Barat, Hans Tilkowski. Ada tiga kamera yang dipakai: dari atas tribun, dari pinggir lapang dan dari belakang gawang. Dari rekaman ini terlihat bahwa bola memang belum melewati garis gawang.

Saat proses gol terjadi, wasit asal Swiss, Gottfried Dienst, tak yakin apakah itu gol atau tidak. Ia pun berlari menghampiri dan berkonsultasi dengan hakim garis, Tofiq Bahramov asal Uni Soviet. Secara mengejutkan Bahramov meyakini itu sudah menjadi gol. Kerumunan fans pun bersorak.


Jika VAR berlaku pada era itu, wasit Dienst mungkin akan berlari menghampiri kru penyiaran dan melihat rekaman ulang. Dari rekaman terlihat bahwa bola memang belum masuk. Penelitian mahasiswa Oxford beberapa puluh tahun berikutnya membenarkan bahwa butuh 6 cm lagi agar bola bisa masuk ke gawang.

Andai VAR berlaku sejak 1966, Inggris belum tentu pernah jadi juara Piala Dunia. Sejarah alternatif ini juga berlaku saat Piala Dunia 1986 di Meksiko. Jika VAR berlaku tak akan pernah ada "gol tangan tuhan" yang dibikin Maradona. Saat pelanggaran itu terjadi, alih-alih meniup peluit tanda terjadi gol, wasit Tunisia Ali bin Naseer akan berlari melihat rekaman ulang di pinggir lapang. Setelah itu ia akan menganulir gol Mardona dan memberinya kartu kuning.

Roberto Rosseti, kepala proyek VAR FIFA, dalam video yang dirilis media resmi FIFA, menyebut ada empat poin yang bisa dievaluasi oleh VAR di Piala Dunia kali ini. Salah satunya, kata Rosetti, meminimalisir gol-gol offside. Para asisten wasit di ruang VAR akan menegur wasit di lapangan jika gol offside terjadi.

Jika VAR berlaku sejak lama, Belgia tak akan pernah mencapai prestasi paling tinggi dalam sepakbola mereka yakni lolos ke semifinal Piala Dunia 1986. Dua gol offside yang dilesakkan ke gawang Uni Soviet pada fase perempatfinal akan dianulir wasit membuat mereka kalah 2-3, bukan menang 4-2.

Poin kedua dari VAR, kata Rosseti, adalah mengecek potensi penalti. Ada banyak gol penalti kontroversial selama Piala Dunia.

Italia belum tentu akan juara Piala Dunia 2006 sebab penalti yang dieksekusi Totti, yang jadi satu-satunya gol ke gawang Australia pada babak 16 besar, tidak sah sebab dari rekaman video terlihat Fabio Grosso melakukan diving.



Begitu juga dengan Senegal pada Piala Dunia 2002. Penalti didapat pada laga melawan Uruguay pada fase grup sangat tidak sah. EL Hadji Diouf jelas menipu wasit. Senegal otomatis kalah 2-3 dan tak lolos ke babak 16 besar. Faktanya, Senegal sukses menahan imbang dengan skor 3-3 dan lolos menemani Denmark ke fase knock-out.

Selama Piala Dunia 2014 lalu, amat banyak tingkah menyebalkan para pemain yang berpura-pura jatuh di kotak penalti. Mulai dari Arjen Robben, Marcelo, Thomas Muller, sampai Gonzalo Higuain. Sialnya, wasit selalu terkecoh dengan trik itu. Jika VAR berlaku sejak Piala Dunia tahun lalu, niscaya hasil sekarang akan berubah banyak.

Poin ketiga dan kempat dari VAR adalah mengecek potensi kartu dan evaluasi kesalahan wasit. Hampir setiap turnamen ada saja kesalahan wasit, kadang terlalu galak atau terlalu lunak. Pada Final Piala Dunia 2010, Spanyol mungkin akan menang lebih mudah dan cepat tanpa harus melalui babak tambahan waktu sebab Nigel De Jong mestinya sudah diusir wasit sejak menit 28 akibat tendangan kungfu yang mengarah telak ke dada Xabi Alonso.

VAR juga akan mengubah hasil pada Piala Dunia 1990. Jerman belum tentu akan juara. Trik Juergen Klinsmann yang berpura-pura jatuh lalu kemudian merintih kesakitan hingga meronta-ronta dan mengecoh wasit Edgardo Codesal hingga menghukum kartu merah Pedro Monzon pada menit 85. Bermain 10 pemain, Argentina pun ditekuk lewat gol tunggal Andreas Brehme menit 85.

Cerita-cerita di atas hanyalah gambaran kecil. Yang pasti, akan ada banyak sejarah yang berubah jika VAR berlaku sejak dulu kala. Yang pasti sejarah Piala Dunia akan terlihat kalem tanpa adanya kontroversi.

Namun sejarah tak pernah kenal kata "andai". Pengandaian bisa mempertajam perspektif atas masa silam.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Zen RS