Saudi Gunakan Minyak Sebagai Senjata Diplomasi

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara - 19 April 2016
Dibaca Normal 1 menit
Keputusan Saudi Arabia untuk mematikan negosiasi yang dilakukan di Doha, Qatar, mengenai pembekuan tingkat produksi minyak secara terkoordinasi memastikan adanya pergeseran besar dalam kebijakan minyak negara itu.
tirto.id - Keputusan Saudi Arabia untuk mematikan negosiasi yang dilakukan di Doha, Qatar, mengenai pembekuan tingkat produksi minyak secara terkoordinasi memastikan adanya pergeseran besar dalam kebijakan minyak negara itu.

Selama beberapa dekade, Saudi menegaskan bahwa mereka tidak akan menggunakan minyak sebagai senjata diplomasi. Namun, akhir pekan ini, negeri itu malah semakin intensif menggunakan minyak sebagai senjata diplomasinya dalam konflik dengan Iran.

Posisi Saudi mengenai produksi minyak Irak menjadi semakin keras dalam setahun terakhir dan telah mencapai kesimpulan logisnya akhir pekan lalu. Saudi tidak akan menerima pengetatan produksi minyak apa pun kecuali Iran sepakat pada pengawasan serupa.

Irak sendiri diketahui menolak upaya pembekuan produksi hingga produksi minyak mereka mencapai level sebelum negera tersebut dikenai sanksi atas kebijakan nuklirnya atau prasanksi.

Dengan posisi garis keras ini, Saudi telah memastikan gagalnya negosiasi pembekuan minyak. Namun demikian, Saudi merasa nyaman dengan hasil akhir tersebut.

Saudi lebih memilih harga minyak terus rendah dan pendapatan minyak yang terus rendah pula untuk semua produsen minyak, tak terkecuali dirinya sendiri, ketimbang mencapai kesepakatan produksi yang akan menaikkan pendapatan Iran, si negeri kaya minyak yang menjadi pesaing Saudi di kawasan Teluk.

Iran sendiri sejak lama sudah berulangkali menyampaikan niatnya untuk menaikkan tingkat produksi ke level prasanksi sebelum negara tersebut mempertimbangkan segala pengetatan produksi demi stabilnya harga minyak dunia. Posisi yang secara diam-diam diamini oleh banyak negara produsen minyak yang lain.

Menggenjot ekspor minyak dan pendapatan sebagai imbalan dari pengawasan atas aktivitas nuklir Iran adalah bagian utama dari kesepakatan antara negara tersebut dan para anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dicapai pada Juli 2015.

Sementara itu, Saudi terus menentang kesepakatan itu karena khawatir hal itu akan memperkuat perekonomian Iran sehingga negeri itu bisa terus mendanai konflik-konflik terselubung di Lebanon, Suriah, Irak dan Yaman.

Sebelumnya, kebijakan minyak Saudi tampaknya berada di tangan para teknokrat di kementerian perminyakan dan BUMN minyak Aramco, ketimbang dijalankan sebagai salah satu cabang dari kebijakan luar negerinya, demikian seperti dikutip dari Reuters.

Pasca gagalnya negosiasi di Doha, harga minyak mentah sempat jatuh di bawah $40 per barel. Namun demikian, hari ini patokan global Brent naik 1,42% pada $43,52 per barel untuk pengiriman Juni, sementara patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate, naik 1,56% pada posisi $40,40 di New York Mercantile Exchange.

Baca juga artikel terkait DEWAN KEAMANAN PBB atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara

DarkLight