Saat Wiranto Ditantang Tinggal Lebih Lama di Lokasi Karhutla

Oleh: Haris Prabowo - 19 September 2019
Dibaca Normal 1 menit
Wiranto menyebut udara di lokasi karhutla tidak terlalu parah. Ia lantas diminta warga tinggal lebih lama.
tirto.id - Laras Olivia (23) kesal bukan kepalang kepada Menkopolhukam Wiranto karena mengatakan kualitas udara di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) "tidak separah yang diberitakan [media massa]." Wiranto juga bilang: "jarak pandang masih bisa [jauh], pesawat mendarat masih bisa, masyarakat juga belum banyak yang pakai masker. Kami juga tidak pakai masker. Saat siang, sangat jelas awan-awan terlihat."

Dia mengatakan itu semua Rabu (18/9/2019) lalu setelah mengunjungi Riau, salah satu lokasi terdampak.

Laras, mahasiswi tingkat akhir Universitas Islam Riau (UIR), menuduh Wiranto tengah meremehkan masalah sekaligus menunjukkan kalau dia tidak paham apa yang dirasakan masyarakat.

"[Wiranto] bikin emosi. Beliau itu datangnya kapan? Saya merasakan kabut asap tebal itu [di Pekanbaru, ibu kota Riau] sejak awal September. Tanggal 13 dan 14 itu paling parah. Langit dan udara menguning," kata Laras kepada reporter Tirto, Kamis (19/9/2019) pagi.

Dia juga menyebut Wiranto "lancang sebagai pejabat negara," karena seharusnya dia melindungi warga.

Seorang warga pernah mengatakan kepada reporter Tirto kalau karhutla membuat masyarakat "seperti dikurung dalam sebuah ruangan tertutup bersama tungku kayu bakar yang menyala."

Bahkan, sebuah festival musik internasional pun dibatalkan. "Banyak yang kecewa. Gila aja mau ikut konser dan habis itu kena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) berjemaah," kata Laras.


Saking parahnya udara di Riau, aktivitas kampus dan sekolah diliburkan, kata Laras. Memang warga tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa—barangkali memang tak ada pilihan lain. Tapi, Laras bilang, mereka harus pakai masker agar tidak menghirup partikel berbahaya.

"Wiranto itu harus tahu efek dari kabut asap yang dihirup terus-menerus di dalam tubuh," katanya dengan nada kesal. "Wiranto harus banyak baca-baca lagi soal efek jangka panjang dari hasil menghirup kabut asap yang mengandung partikel-partikel berbahaya."

Laras lantas meminta Wiranto lebih bertindak konkret setidaknya dengan cara menyumbang masker N95 dan vitamin untuk anak-anak sekolah karena "tidak semua warga bisa beli itu."

Ditantang Tinggal Lebih Lama


Laras lalu menantang Panglima ABRI terakhir itu untuk tinggal lebih lama di Riau.

"Aku tantang bapak itu untuk stay di Pekanbaru seminggu. Lalu, beraktivitas di luar ruangan. Hari ini udara dan langit kuning lagi dan keruh. Datang ke lokasi pas waktu yang benar-benar parah. Akan tahu bagaimana langit menguning, jarak pandang tak sampai 100 meter, dan debu-debu beterbangan kayak salju. Jangan menunda-nunda kedatangan.”

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Barat Anton P. Widjaya mengatakan pada dasarnya asap dari karhutla itu fluktuatif. Angin kencang, misalnya, bisa sesaat menghilangkan atau meminimalisir asap.


Karena itulah penting bagi seorang pejabat seperti Wiranto untuk tinggal lebih lama, semata demi memahami apa yang sebenarnya terjadi di wilayah tersebut sebelum menilai.

"Kita tidak bisa menilai satu kondisi kebencanaan dari satu kali datang yang hanya beberapa jam, enggak sampai sehari," katanya.

Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Made Ali mengatakan ucapan Wiranto tidak sejalan dengan pernyataan Jokowi yang bilang kalau kebakaran di Riau merupakan "kesengajaan terorganisir."

Jokowi bahkan salat minta hujan, yang, menurut Made, "tanda kondisi sudah parah dan pemerintah bingung mau ngapain lagi."

Ketimbang membuat pernyataan kontroversial, Made menyarankan Wiranto istirahat saja. Sebab Wiranto ia anggap "enggak cocok jadi menteri."

Baca juga artikel terkait KASUS KARHUTLA atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Rio Apinino
DarkLight