Saat Susu Formula "Menggerogoti" ASI

Oleh: Agung DH - 2 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Ini tentang dua jenis susu: susu ibu dan susu formula. Ketika ibu kesulitan menyusui—dengan latar belakang kendalanya—susu formula dari susu sapi itu diberikan kepada buah hati. Namun, ada yang keliru dari produsen susu formula ini, yakni ketika mereka menampilkan produknya jauh melebihi kehebatan susu ibu.
tirto.id - World Health Organization (WHO) dan peneliti sudah menyarankan bahwa pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif untuk bayi 0-6 bulan terus dilanjutkan sampai bayi mencapai usia dua tahun.

WHO menyebut jika setiap bayi diberikan ASI sejak kelahiran sampai usia dua tahun, sekitar 800 ribu jiwa anak akan diselamatkan setiap tahun pertama kehidupan. ASI berfungsi menjadi antibodi alami. Sementara bagi ibu, menyusui bisa mengurangi risiko kanker payudara dan ovarium, diabetes tipe II, dan depresi postpartum.

Di luar manfaat langsung itu, ASI juga memberikan kontribusi positif bagi kesehatan jangka panjang bagi si anak. Remaja dan orang dewasa yang diberi ASI semasa masih bayi kemungkinan obesitas dan mengidap diabetes tipe-II lebih rendah dibanding yang tidak diberikan ASI. Manfaat lainnya, anak dengan ASI maksimal akan lebih baik dalam tingkat kecerdasan mereka.

Soal kecerdasan ini, para peneliti dari JAMA Pediatrics pada 2013 lalu juga berani menyebut ASI berdampak baik terhadap kemampuan bahasa dan intelligence quotient (IQ) anak. Menurut hasil penelitian mereka, pemberian ASI pada bayi pada tahun pertama kehidupan diperkirakan akan meningkatkan kemampuan pemahaman bahasa sebanyak 2,5 poin dan IQ sampai empat poin.

Persolannya, tidak semua ibu dapat menyusui dengan maksimal anak-anak mereka sampai usia dua tahun. Ada yang terkendala fisik, penyakit, kesibukan bekerja atau bahkan “malas” menyusui. Dari alasan inilah titik persoalan berawal. Produsen-produsen susu formula memanfaatkan berbagai “kelemahan” tersebut dengan menciptakan produk susu formula sebagai pengganti ASI berkelanjutan.

Pertarungan Susu Formula

Iklan-iklan susu formula untuk bayi usia 0 hingga 6 bulan memang tidak lagi ada karena dilarang oleh pemerintah. Para produsen susu pun mengincar pangsa pasar susu formula untuk anak usia lebih dari enam bulan. Di segmen ini, pertarungannya cukup ketat.

Data dari Adstensity, sebuah platform digital monitoring iklan televisi, menunjukkan pada periode Januari-Juni 2016 total belanja iklan produk-produk susu formula untuk bayi dengan usia lebih dari enam bulan menembus sekitar Rp2,1 triliun. Sedangkan total ads spot mencapai 73,4 ribu spot iklan selama enam bulan terakhir.

Tiga pemain besar, di antara sekian banyak produk susu formula yang memborbardir televisi antara lain Frisian Flag, SGM, dan Dancow. Pada Semester I 2016 Frisian Flag bisa menguasai hampir 22 persen belanja iklan produk susu formula. Brand berikutnya yang jor-joran belanja iklan antara lain SGM Eksplor menguasai 16 persen dan Dancow 1+ sebesar 12 persen.

Dari jumlah jumlah tayang iklan, Frisian Flag juga tercatat paling banyak yakni 18.092 spot, artinya iklan produk tersebut tayang setidaknya 100 kali sehari. Sedangkan dua pesaing terdekat, SGM Eksplor ads spot mereka mencapai 10.245 spot dan Dancow 1+ sebanyak 8.550 spot iklan.

Selain melalui tv commercial (TVC) penjulan produk susu pengganti ASI juga didongkrak melalui promosi di waralaba, supermarket, toko online, hingga e-commerce. Pantauan tirto.id di waralaba seperti Indomaret, produk-produk formula dijual dengan potongan harga hingga 10 persen untuk masa promosi 15-30 Juli 2016.

Sementara di ­e-commerce seperti blibi.com misalnya, setiap pembelian Dancow Coklat 1+ Susu Formula 800 g dapat bonus gratis Wafer Tango 350 g.

Data tersebut selaras dengan laporan Global Index 2016 yang dikutip UNICEF pada Mei 2016 silam. Penelitian Global Index menunjukkan penjualan produk susu formula di Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp25,8 triliun. Angka ini mengindikasikan betapa besar potensi duit dari produksi susu pengganti ASI di Indonesia.

Pro Kontra Susu Formula

Namun materi iklan-iklan susu formula untuk bayi di atas enam bulan itu dinilai berlebihan oleh para pemerhati kampanye ASI. Mereka menilai susu-susu formula menampilkan dirinya “lebih baik” daripada ASI. Hal ini akan berdampak serius terhadap kepercayaan diri ibu-ibu untuk menyusui.

Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Mia Sutanto menilai kehadiran iklan susu formula saat ini cenderung membodohi. Ia berpendapat sebelumnya pasar susu formula tidak ada malah sekarang menciptakan pasar tersendiri.

"Iklan susu formula dikemas semenarik mungkin sehingga muncul pandangan jika diberikan kepada bayi, maka akan terpenuhi semua nutrisi yang dibutuhkan dan anak menjadi cerdas," ujarnya kepada Antara.




Kepala Gizi UNICEF Indonesia, Harriet Torlesse juga risau. Menurutnya, saat ini ada kecenderungan rasa percaya diri ibu-ibu untuk menyusui bayinya mulai menurun. Bombardir iklan susu formula untuk menggantikan ASI berperan besar dalam penurunan angka ibu menyusui.

“Ini sangat mengganggu karena informasi yang salah dan menyesatkan melalui iklan dan promosi oleh perusahaan susu bayi dan retailer membingungkan orang tua dan menurunkan percaya diri para ibu untuk menyusui” katanya pada keterangan pers Mei 2016 silam.

Sementara Adenita penulis buku “BreastFriend” menilai iklan produk susu formula itu membuat citra ibu menyusui merosot. Kegiatan menyusui, katanya, dipandang hanya dilakukan oleh para ibu dari golongan menengah ke bawah karena tidak mampu membeli susu formula.

"Entah bagaimana mulanya sebuah tren itu muncul. Namun yang pasti semua itu ada kaitannya dengan cara pemasaran susu formula yang masih 'brutal' dan melanggar kode pemasaran makanan pengganti ASI. Yang jelas, di masa itu bayi-bayi dianggap keren sebagai hasil produk 'kaleng silver' atau 'kaleng emas' (susu formula) lainnya," tulis Antara April dua tahun silam.

Baca juga artikel terkait PEKAN ASI SEDUNIA 2016 atau tulisan menarik lainnya Agung DH
(tirto.id - Marketing)

Reporter: Agung DH
Penulis: Agung DH
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti