Menuju konten utama

Saat Cina Memoles Anak-anak Demi Ambisi Medali Emas

Pernah jadi juara umum Olimpiade 2008, Asian Games 2014, dan memimpin perolehan medali Asian Games 2018, Cina menyimpan potret-potret kehidupan atlet untuk ambisi bergengsi meraup medali emas.

Saat Cina Memoles Anak-anak Demi Ambisi Medali Emas
Pelatih Zhang Yanmao memberikan instruksi kepada timnya dalam sebuah pertandingan melawan tim sepakbola anak Myanmar sebagai bagian dari turnamen sepakbola anak di Qinhuangdao, Cina. Presiden Cina Xi Jinping bertekad merevolusi pembinaan serta kompetisi sepakbola Cina dan mentargetkan Cina menjadi juara Piala Dunia pada tahun 2050. AP Photo/Mark Schiefelbein

tirto.id - “Saya menulis dan berkirim surat hampir setiap hari kepada Ibu dan berharap ia membawa saya pulang dari asrama atlet, tapi itu tidak pernah dilakukan. Sekarang saya bersyukur Ibu saya bersikap demikian, sehingga saya bisa menjadi juara Olimpiade,” cerita Lin Dan dalam sebuah tayangan dokumenter singkat tentang dirinya yang dipublikasi pada tahun 2016.

Lin Dan, sang peraih emas Olimpiade 2008 di Beijing cabang olahraga bulutangkis, berlatih keras sejak usia 9 tahun. Sang ibunda merelakan anaknya jauh dari pandangan dan pelukan, lantaran pelatih melihat bakat yang besar pada diri Lin Dan. Sehingga, menurut Gao Xiu Yu, ibu dari Lin Dan, bakat anaknya akan sia-sia jika ia hanya menghabiskan waktu tumbuh besar di desa kecil tempat tinggal mereka.

“Sukses artinya harus merelakan dia keluar dari rumah dan pergi jauh” ucap Gao Xiu Yu.

Jauh dari anak tidak hanya dirasakan oleh Xiu Yu tetapi juga Ai Yan, ayah bocah 5 tahun, bernama Ai Jangnan, yang harus merelakan anaknya bersekolah sekaligus berlatih di Li Xiaoshuang Gymnastic School. Setiap tahun ada 100 anak usia antara 3 -10 tahun yang terdaftar di sekolah khusus senam gimnastik, yang menurut para orang tua di Cina, turut menempa mental para bocah ingusan agar dapat hidup mandiri sejak usia dini dan bercita-cita menjadi juara tingkat dunia.

“Saya mau menjadi juara olimpiade,” ucap Zhang Menghan, yang baru menjalani pelatihan selama empat bulan di sekolah pembinaan atlet khusus senam gimnastik seperti yang diunggah Nurture.

Impian sebagai juara dunia harus dibayar mahal oleh bocah cilik di Cina yang sedari usia balita telah menerima pelatihan layaknya disiplin tentara dan kehilangan kesenangan masa kecil. Tak jarang dari mereka menjalani latihan sambil berurai air mata karena menahan sakit. Tak pandang bulu, para pelatih di sekolah tersebut melatih bocah cilik layaknya atlet profesional dengan ketegasan dan disiplin tinggi.

Komersialisasi Sekolah Binaan Atlet

Li Xiaoshuang Gymnastic School terletak di Kota Xiantao, Provinsi Hubei, didirikan oleh mantan atlet senam gimnastik Li Xiaoshuang, peraih medali emas di Olimpiade Barcelona dan Atlanta. Nama besar Li Xiaoshuang ditambah deretan empat orang atlet peraih medali emas Olimpiade jebolan sekolah tersebut sepanjang 10 tahun terakhir, membuat orangtua di Cina berbondong-bondong mendaftarkan anak mereka di sana.

Sekolah pembinaan atlet cilik untuk senam gimnastik yang berjarak 1.235 Km dari Beijing, menjadi rumah bagi para bocah karena berbagai aktivitas di kehidupan mereka selama 330 hari dalam setahun dilakukan di sana. Aktivitas mereka di pagi hari dimulai dengan pendidikan umum selama tiga jam setiap hari, untuk mengimbangi kemampuan akademik mereka setara dengan perkembangan kemampuan fisik. Setelahnya, barisan panjang bocah ingusan yang tinggal berjauhan dari orang tuanya harus menjalani latihan fisik selama 10 jam.

Dahulu, calon atlet yang memiliki bakat diseleksi oleh pelatih untuk selanjutnya dibina di sekolah khusus atlet. Biayanya menjadi tanggungan pemerintah Cina sepenuhnya alias gratis. Namun kini, semua anak bisa menjadi calon atlet. Pasalnya, memasukkan anak ke sekolah binaan atlet seperti di Li Xiaoshuang Gymnastic School misalnya, para orangtua kudu merogoh kocek mencapai RMB9.000 sebagai bayaran sekolah. Jumlah yang 10 kali lebih besar dibanding biaya sekolah umum lainnya di Cina.

Jika memang memiliki bakat dan terhindar dari cidera, bocah-bocah cilik ini bisa siap mengikuti seleksi atlet tingkat provinsi di usia mereka yang ke-9 tahun, bersaing dengan 400 ribu anak seantero Cina yang terdaftar di berbagai sekolah binaan atlet lainnya, berdasarkan data The Economist. Lolos dalam seleksi tahunan di tingkat provinsi, sama dengan menggenggam tiket emas untuk masuk dan mengikuti pelatihan di jajaran tim elite atlet senam nasional, di mana masih melansir data The Economist, ada 51 ribu atlet yang menjalani latihan di pusat latihan nasional Cina.

Jumlah itu tentu menciut ketimbang hampir setengah juta anak-anak Cina yang masuk sekolah binaan atlet setiap tahunnya. Ini artinya, yang gagal setelah pelatihan dini jauh lebih banyak ketimbang yang berhasil. Laporan koresponden ITV News, Debi Edward di Cina yang dipublikasi tanggal 3 Agustus 2016 menyebutkan, hanya 10 persen dari jumlah 400 ribu atlet cilik Cina yang berhasil melangkah hingga ke kompetisi tingkat nasional dan bahkan level olimpiade.

Menjadi atlet nasional dan bisa berlaga di olimpiade menjadi dambaan para atlet Cina, karena dengan begitu hidup mereka bisa berubah seperti mendapat tawaran pekerjaan berkedudukan tinggi di pemerintahan dan menerima uang sekira $200 ribu. Jika seorang atlet gagal dapat medali terutama emas, maka dianggap mempermalukan ibu pertiwi dan dicap sebagai ‘aib nasional’, seperti yang dialami Wu Jingbiao dan Zhou Jun, dua atlet cabang olahraga angkat beban yang hanya mendapat perak dan perunggu di laga Olimpiade London.

Infografik Pembinaan Atlet di cina

Tekanan bagi atlet Cina untuk mendapatkan medali emas dalam acara olahraga bertaraf internasional justru bukan datang dari pemerintah pusat, melainkan pemerintah daerah seperti dari gubernur maupun walikota. “Setiap provinsi diberikan kuota untuk memenangkan medali emas dan promosi pejabat olahraga di setiap provinsi tergantung pada berapa banyak medali yang dimenangkan atlet yang berasal dari provinsi mereka,” jelas Chen, mantan Direktur Biro Olahraga Provinsi Zhejiang, Cina seperti melansir The New York Times.

Tak jarang bahkan, seorang atlet Cina gagal meraih medali emas padahal ia merupakan unggulan yang digadang-gadang, maka media setempat seperti menghukum mereka dengan berbagai artikel buruk dan vonis dari masyarakat turut diterima keluarga sang atlet berupa pelemparan batu ke rumah mereka. “Tidak dapat medali emas, artinya kamu tidak mendapat apa-apa kecuali luka di sekujur tubuh. Tidak ada kuliah gratis, gelar diploma maupun pekerjaan dari pemerintah dan keterampilan,” imbuh Chen.

Ini seperti yang dialami Zhang Shangwu, mantan atlet pesenam gimnastik tim nasional Cina terpaksa menjadi seorang tuna wisma dan hidup di jalan dengan berjualan cinderamata berupa gelang giok di salah satu jalur kereta bawah tanah di Beijing. Cidera membuatnya harus pensiun dini dari gelanggang olahraga dan memupuskan mimpinya untuk terus menjadi atlet dan meraih emas di ajang olimpiade, meski prestasinya menjanjikan.

Kala itu ia baru menginjak usia 18 tahun saat cidera tendon achilles kaki kirinya dalam sesi latihan pada 2002. Impiannya berlaga di Olimpiade Athena 2004 pun sirna seketika. Shangwu kemudian harus menjual dua medali emas yang dia dapatkan dari kejuaraan di World University di 2001 seharga Euro 10 sekira RMB79 saja. Padahal, ia telah berlatih di sekolah akademi senam gimnastik lokal di Provinsi Hebei, sejak usia 5 tahun. Setelah tujuh tahun pelatihan yang menguras keringat dan air mata ia dipilih masuk di tim nasional Cina.

Saat pensiun tahun 2005, Zhang Shangwu hanya berbekal uang RMB38.000 yang ia terima dari pemerintah provinsi Hebei. “Uang itu berarti tim lokal tidak lagi bertanggung jawab atas masa depan saya,” kata Shangwu melansir The Telegraph.

Uang pensiunnya habis untuk membiayai pendarahan otak yang diderita sang kakek. Masih dengan cidera kaki yang diderita, Shangwu beralih profesi menjadi pengantar makanan yang tidak bisa ia lakoni dengan lama karena cidera bertambah parah. “Saya sampai tidak bisa berlari dan berjalan dalam waktu yang lama,” imbuh Shangwu masih melansir sumber yang sama.

Xing Aowei, peraih medali emas di Olimpiade Sydney 2000 dan mantan rekan satu tim Shangwu mengungkapkan kekhawatirannya atas hal tersebut. Sebab, “Jika seorang mantan juara dunia menjalani kehidupan seperti itu, siapa yang ingin menjadi pesenam di masa depan?” tanya Aowei melansir The Telegraph.

Baca juga artikel terkait CINA atau tulisan lainnya dari Dea Chadiza Syafina

tirto.id - Ekonomi
Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra