Rob Aernout, Opsir Belanda yang Tewas Saat Mengusut Korupsi

Oleh: Petrik Matanasi - 14 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Novel Baswedan dicelakai dengan air keras. Semasa Agresi Militer, Rob Aernout terbunuh saat menyelidiki kasus penyelundupan oleh tentara Belanda.
tirto.id - Malam itu, kalender menunjukkan 28 Februari 1948, tepatnya pukul 22.30. Suara lolongan anjing mengganggu Vandrig Rob Aernout dan Otto Muller von Czernicki yang berdiskusi soal penyelidikan rahasia. Mereka berada di sebuah rumah di Kampung Genteng, Jayagiri, Lembang.

Keduanya bersenjata. Rob memegang sepucuk senapan karaben semi otomatis dan Muller mempesenjatai diri dengan senapan mesin ringan Thompson alias Tommy Gun.

Setelah berdiskusi, mereka berdua keluar cari angin. Di sekitar Jalan Junghuhn, di dekat sebuah warung, tiba-tiba mereka mendapat tembakan dari tiga arah berbeda. Muller berusaha membalas tembakan. Tommy miliknya telah memuntahkan 18 peluru.

Namun, Rob Aernot roboh. Muller menyeretnya ke sebuah rumah. Berapa tentara Belanda dan polisi akhirnya menuju tempat kejadian. Setelah kontak senjata berakhir, Rob dibawa ke Rumah Sakit Juliana Bandung dan akhirnya meninggal dunia.

Menurut catatan Pieter Schumacher dalam De Zaak Aernout (2009), tiga setengah bulan kemudian, 10 Juni 1948, pihak kepolisian meringkus empat tersangka.

Mereka dianggap berada di lokasi kejadian ketika dua opsir Belanda itu menghadapi serentetan tembakan. Mereka adalah Soekrija bin Nurhaja alias Gerong, Raub bin Sumitra, Lekem bin Maduchri, dan Mahdi bin Alpian. Setelahnya, Sukarji bin Kalwan alias Pa Satu juga kena ciduk.

Spekulasi pun muncul.

"Ada yang mengatakan bahwa mungkin pelaku-pelakunya juga di kalangan perwira, yang diduga terlibat perdagangan senjata dan korupsi, dan merasa dikejar-kejar Spoor," tulis Jaap de Moor dalam biografi Jenderal Spoor, mengutip buku Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia (2015).

"Yang dimaksud ini adalah para perwira KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische Leger) dan KL (Koninklijk Leger) yang dikira terlibat pembunuhan Vandrig Rob Aernot,” lanjut Jaap de Moor.

Infografik Rob Aernout


Tentu Aernout dianggap yang tahu banyak soal kasus korupsi di kalangan petinggi Belanda di Indonesia. Namun, Jaap de Moor tidak yakin ada konspirasi atas terbunuhnya Aernout.

Dalam catatan kaki buku tersebut, Jaap menulis: “Peter Schumacher telah membuat solusi yang masuk akal untuk pembunuhan Aernout. Calon perwira itu dibunuh oleh gerombolan orang Jawa yang mengacau di sekitar Bandung.”

Buku Peter Schumacher menurutnya telah membantah mitos adanya konspirasi keterkaitan para pejabat Belanda atas kematian Aernout yang berkembang selama 60 tahun.

Lepas dari benar tidaknya para pejabat Belanda terlibat dalam pembunuhan Aernout, sebelum kematiannya, Aernout memang sedang menangani kasus penyelundupan di Bandar Udara Wirasaba Purbalingga, yang kini menjadi Lanud Jenderal Sudirman.

Menurut Peter Schumacher, Robert Carel Leo Aernout, yang lahir di Den Haag pada 18 April 1911, ini tidak punya latar belakang penyidik atau intelijen. Ia semula supir di bagian kesehatan militer di Bandung, lalu ditempatkan di Coördinatie Militair Vervoer (CMV), koordinasi transportasi militer, pada akhir 1946 dengan pangkat Vaandrig (Letnan Muda). Tugasnya mengatur transportasi barang dan para pegawai militer lewat jalur darat maupun udara.

Pada November 1947, ia menemukan ketidakcocokan barang (beras dan gula) yang terangkut dengan yang tertera dalam daftar. Barang-barang itu melewati Bandara Wirasaba. Atas penemuan ini, Rob melapor ke atasannya. Namun, menurut Peter, laporannya tidak dapat ditemukan dalam arsip negara.

Setelah membuat laporan pada 30 November 1947, ia harus ke Jakarta dan bertemu beberapa perwira atasannya dan kehakiman pada 2 Desember 1947.

Laporannya didengar oleh pimpinan CMV Kolonel Schummelketel dan Letnan Kolonel Warmenhoven, serta Mayor Brouwer dari Pusat Kehakiman di Jakarta. Rob Aernout akhirnya diberi tugas menyelidiki dugaan penyelundupan tersebut. Ia lantas ke Cilacap beberapa hari kemudian.

Rob Aernout tiba di Banyumas pada 8 Desember 1947. Rob sudah sangat berusaha untuk menjaga dirinya. Ia menginap di markas Polisi Militer Belanda Banyumas. Malamnya, Rob bertemu dengan oditur militer Mr. K. Bieger. Mereka makan malam bersama.

Kepada Bieger, Rob menyatakan ia akan pergi ke Cilacap esok hari untuk urusan penyelidikan. Namun, setelah makan malam, perut Rob mengalami nyeri. Setelah diberi pil dan suntikan dokter, Rob beristirahat.

Esok pagi, 9 Desember 1947, ia agak sehat dan menuju Cilacap. Ia hanya seharian di kota itu dan pulang hari itu juga ke Banyumas. Ia tinggal di tempat istirahat paling aman di sana, di markas polisi militer.

Sialnya, pada malam hari, perutnya kambuh lagi. Ia harus dirawat di rumah sakit lapangan di Banyumas. Atas saran dokter, Rob tak bisa dirawat lagi di rumah sakit lapangan itu. Sakit perut Rob memunculkan spekulasi jika ia diracun. Namun, isu ini ditepis Polisi Militer Belanda.

Ia lalu diterbangkan ke Bandung dan dibawa ke Rumah Sakit Cimahi. Rob menghabiskan lebih dari separuh Desember 1947 di rumah sakit Cimahi.

Pada hari Natal, ia sempat sebentar pulang ke rumahnya di Bandung, untuk menghabiskan waktu keluarga bersama istrinya Henriëtte Royaards dan anaknya. Namun, malam itu, ia harus balik lagi ke rumah sakit hingga menjelang tahun baru, 30 Desember 1947.

Setelah menjalani perawatan sekitar 20 hari, Rob mulai masuk kantor pada 2 Januari 1948. Ia kembali bekerja di Coördinatie Militair Vervoer dan menuliskan laporan penyelidikannya dari perjalanan ke Banyumas dan Cilacap.

Pada Jumat malam yang nahas itu, 28 Februari 1948, Rob tak tidur di rumah. Ia bersama rekannya, Letnan Otto Muller von Czernicki, menghadapi para penembak di Kampung Genteng. Von Czernicki selamat, Rob Aernout tidak.

Setelah kematiannya, seperti ditulis koran Telegraph (21/10/1961), janda Rob Aernout serta kedua anaknya, Alice dan Rob Jr, pulang ke Belanda dengan Kapal Johan de Witt pada 25 Mei 1948.

Hingga kini, tak diketahui siapa pembunuh Rob Aernout. Satu hal yang pasti: tewasnya Rob membuat kasus yang sedang ditanganinya menguap.

Baca juga artikel terkait NOVEL BASWEDAN DISIRAM AIR KERAS atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani