3 September 2017

Ritual Tahunan Korut: Uji Coba Nuklir yang Bikin Gempar Tetangga

Oleh: Windu Jusuf - 3 September 2021
Dibaca Normal 2 menit
Korea Utara akan melakukan uji coba nuklirnya. Beijing berusaha menghentikannya dengan mengirimkan ribuan personel militer, dan memberikan sanksi ekonomi.
tirto.id - Pada 3 September 2017, tepat hari ini 4 tahun lalu, seluruh perhatian seluruh dunia tertuju ke perbatasan Korea Utara. Empat bulan sebelumnya, pemerintah Tiongkok dikabarkan mengirim 150 ribu personel militer ke perbatasan Korut, seperti dilansir Business Insider (12/4/17). Para pengamat Korut menyatakan kekhawatiran rencana uji coba rudal balistik dalam rangka peringatan 105 tahun kelahiran Kim Il Sung, presiden pertama Korea Utara. Uji coba nuklir ini adalah kali keenam yang dilakukan Korut dan yang terbesar.

Pengerahan pasukan ini terjadi setelah pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing. Kunjungan Trump meredakan tensi antara Washington dan Beijing sejak tahun lalu, yang berawal dari retorika anti-Tiongkok Trump selama kampanye presiden dan setelah Trum melakukan pembicaraan dengan presiden Taiwan sebelum dilantik. (Sampai hari ini Beijing masih mengklaim Taiwan sebagai milik Tiongkok).

Beberapa jam setelah pengerahan pasukan, Reuters melaporkan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengeluarkan pernyataan bahwa Korut memiliki kapasitas menggunakan gas sarin dalam situasi konflik bersenjata. Pernyataan ini patut dicermati dalam kaitannya dengan dua hal: Jepang mempunyai trauma tersendiri dengan gas sarin, dan kedua, isu penggunaan senjata kimia yang dituduhkan pada rezim Assa di Suriah baru-baru ini. Pada 1995, sekte Aum Shiri Kyo membunuh 12 orang dalam teror gas sarin di beberapa kereta bawah tanah secara bersamaan.

Ritual Tahunan

Pada Januari 2002, Presiden George W. Bush menyatakan Korut sebagai bagian dari Poros Setan (“Axis of Evil”) bersama dengan Irak dan Iran. Setahun kemudian, Korut mundur dari Traktat Nonproliferasi Nuklir yang diteken bersama Amerika Serikat pada 1994. Pada 2005, Korut menyatakan kepemilikan atas senjata nuklir. Sejak itu, setidaknya sekali dalam setahun, liputan pers tentang Korea Utara tidak pernah sepi dari insiden, pernyataan kontroversial, serta tarik-ulur diplomatik terkait isu nuklir.

Sepanjang 2015-2017, tercatat tiga peristiwa nuklir Korea Utara. Pada Januari 2016, Korut menyatakan telah sukses menyelenggarakan uji coba bom hidrogen. Maret 2016, Pyongyang mengklaim memiliki miniatur hulu ledak nuklir yang bisa dipasangkan ke misil balistik. Pada September 2016, Korut menyatakan telah melakukan uji coba hulu ledak nuklir. Menurut Badan Metereologi Korea Selatan, ledakan dari percobaan itu berkekuatan 10 kiloton.

"Ritual diplomatik" itu terjadi juga pada awal Maret 2017, ketika Korut meluncurkan empat rudal balistik sebagai percobaan ke arah Jepang. Tiga dari rudal tersebut mendarat di wilayah garis pantai Jepang. Menurut hukum maritim internasional, wilayah tersebut tergolong ke dalam zona eksekutif ekonomi, di mana negara yang berdaulat berhak menggali sumber daya alam.

Infografik Mozaik Nuklir Korea Utara
Infografik Mozaik Nuklir Korea Utara. tirto.id/Sabit

Daya Jelajah Nuklir Korut

Mengandalkan sumber dari Federation of American Scientists dan Global Security Center for Nonproliferation Studies, Washingtonpost pada 2013 mengurutkan jangkauan masing-masing rudal korea. Yang paling kecil adalah Hwasong-5 dengan daya jangkau 300 km; kemudian disusul Hwasong-6 500 km; Rondong 1.300 km; Musudan 3.000 km. Sementara itu Dua yang masih mengalami ujicoba, Taepodong-1 dan Taepodong-2 masing-masing berdaya jangkau 2.500 km dan 6.700 km (mampu mencapai sebelah utara Australia, Rusia, Tiongkok, India).

Seperti ditulis Vox, percobaan nuklir pada Maret 2017 merupakan respons terhadap latihan gabungan rutin tahunan antara AS dan Korea Selatan, yang menurut juru bicara Pentagon, adalah “bukti nyata atas komitmen AS terhadap aliansi [Korsel dan AS]” untuk meningkatkan kesiapan pertahanan terhadap kemungkinan agresi dari Korea Utara.

Tiongkok dikabarkan telah menekan Korut untuk mengurungkan berbagai uji coba nuklirnya. Pengiriman ratusan ribu pasukan sebelumnya telah didahului oleh keputusan Beijing untuk menghentikan impor batu bara dari Korut pada 7 April 2017. Sikap Beijing tersebut menandai pergeseran kebijakan luar negeri terhadap negeri yang dilindunginya selama ini, karena 40 persen ekspor Korut bergantung pada batu bara. Uji coba pada 3 September 2017 itu tampaknya juga bergeser dari sekadar ritual tahunan biasa.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 14 April 2017. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait NUKLIR KOREA UTARA atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Politik)

Penulis: Windu Jusuf
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight