Riset Nielsen: Iklan yang "Menyusup" di Program TV Makin Banyak

Oleh: Mohammad Bernie - 22 November 2017
Dibaca Normal 1 menit
Tingkat penanyangan iklan, yang kerap tiba-tiba muncul di dalam program acara televisi di Indonesia, lumayan tinggi, yaitu setara 22 persen dari keseluruhan slot iklan.
tirto.id - Tayangan iklan saat ini semakin sering muncul dalam program acara siaran stasiun televisi di Indonesia berdasarkan hasil riset Nielsen Indonesia. Riset itu mencatat tingkat penayangan iklan dalam banyak program siaran televisi terus menanjak.

"Di TV itu sekarang ada running text (teks berjalan), misalnya 'Alfamart promo!' 'by 1 get 1' di tengah-tengah sinetron atau tiba-tiba layarnya ada framenya. Itu semua adalah iklan," kata Hellen Katherina, Executive Director Media Businesess Nielsen Indonesia di Jakarta (22/11/2017).

Menurut Hellen, riset terbaru Nielsen Indonesia menyimpulkan kemunculan iklan di dalam program acara televisi mengisi 22 persen dari keseluruhan slot iklan. Penayangan promosi di dalam program siaran televisi juga tercatat setara 13 persen dari total keseluruhan durasi iklan.

Dia menjelaskan data itu merupakan hasil pemantauan Nielsen terhadap iklan di dalam program televisi sejak Mei hingga Oktober 2017. Nielsen memantau semua tayangan di 15 stasiun Televisi nasional dan merekap semua iklan di dalam program yang berdurasi di atas 2 detik.

"Kalau dari segi jumlah spot iklan dari Mei sampai Oktober, ada 2,7 juta spot, 22 persennya di dalam program," kata Hellen.

Selain itu, ada 11 jenis bentuk iklan di dalam program siaran televisi di Indonesia. Bentuk product placement paling mendominasi dengan 29 persen dari jumlah tayangan, disusul Running text yang mencapai 18 persen.

Iklan berbentuk product placement adalah penempatan produk dalam suatu acara dengan sedemikian rupa sehingga tersorot oleh kamera. Sementara yang iklan dalam bentuk running text ialah kalimat atau grafis promosi suatu produk yang muncul dari satu sisi layar televisi ke sisi lainnya.

Ada beberapa pertimbangan perusahaan memilih beriklan di dalam program. Tapi yang pasti, menurut Hellen, rating program televisi menjadi alasan utama.

Hellen menjelaskan, ketika jeda pariwara muncul, rating siaran televisi umumnya cenderung menurun karena penonton gemar mengganti saluran. Karena itu, ketika iklan masuk di dalam acara, maka kegiatan promosi bisa mendompleng rating program acara tersebut.

Dia menambahkan produk minuman menjadi industri dengan jumlah iklan di dalam program televisi terbanyak dengan mengisi 27 persen dari keseluruhan tayangan, diikuti produk telekomunikasi dan obat-obatan dengan masing-masing mengisi 12 persen dari total tayangan iklan di dalam program.

Di laporannya, Nielsen menyebutkan produk-produk minuman lebih banyak beriklan lewat jeda pariwara di acara serial dan acara berita, dan beriklan di dalam program saat acara hiburan dan acara spesial seperti ulang tahun stasiun TV atau malam penghargaan.

Hellen mengimbuhkan ada kecenderungan pelaku e-Commerce menjadikan laki-laki sebagai target iklan mereka. "Kalau commercial break, mereka (Industri E-commerce) pilihnya di news (acara berita). Ketika mereka beriklan di dalam program, mereka pilihnya program sport (olah raga). Jadi rupanya ini fokusnya di program-program yang lebih dominan laki-lakinya (penonton). Jadi ternyata e-commerce targetnya (konsumen) laki-laki," kata Helen.

Baca juga artikel terkait IKLAN atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Addi M Idhom
DarkLight