tirto.id - Mantan bek Tottenham Hotspur dan Timnas Swiss, Ramon Vega, maju sebagai penantang pertama Gianni Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2027. Hal tersebut menegaskan ambisinya untuk meruntuhkan dominasi Infantino yang telah bertahan selama 3 periode kepengurusan beruntun di badan tertinggi sepak bola dunia, sejak 2015 silam.
Dikutip dari Reuters, mantan pesepak bola profesional berdarah Swiss, Ramon Vega, pada Rabu (7/10/2026) waktu setempat menyatakan niatnya untuk maju kembali dalam pemilihan Presiden FIFA tahun 2027.
Di sisi lain presiden petahana saat ini, Giani Infantino, juga sudah memastikan diri maju kembali dalam pemilihan. Tapi kali ini situasi Infantino kurang ideal, lantaran tengah menghadapi badai kritikan besar. Ia menghadapi tentangan besar ketika sempat berencana melibatkan investor lebih jauh, di antaranya dengan menjual saham Piala Dunia.
Situasi tersebut agaknya bakal menjadi angin segar bagi para penantang Infantino, termasuk Ramon Vega. Mengingat saat ini presiden petahana dalam citra yang relatif buruk.
Ramon Vega Tak Kenal Lelah Kejar Takhta FIFA
Ramon Vega kini berusia 55 tahun, merupakan seorang mantan pesepak bola profesional berkebangsaan Swiss. Sepanjang kariernya di lapangan hijau, ia pernah membela sejumlah klub besar di Eropa.
Deretan klub yang pernah diperkuat Ramon Vega antara lain: Grashopper (1990-1996), Cagliari (1996-1997), Tottenham Horspur (1997-2000), Celtic (2000-2001), Watford (2001-2002), serta Creteil (2002-2003) sebelum gantung sepatu.
Sepanjang perjalanan karier profesionalnya sejak 1990, Ramon Vega kerap menempati posisi bek tengah. Ia membukukan total 315 penampilan, dengan menyumbang 27 gol di level klub.
Sementara di level internasional, sosok kelahiran 14 Juni 1971, sudah tampil bersama Timnas Swiss sebanyak 23 kali dengan sumbangan 1 gol.
Selama berkarier sebagai pemain sepak bola profesional, Ramon Vega menyabet sejumlah prestasi. Ia 3 kali juara Swiss Super League dan 1 kali juara Swiss Cup bersama Grashopper. Ramon juga pernah mengantar Tottenham kampiun di Football League Cup, ditambah 3 trofi Liga Skotlandia bersama Celtic.
Selepas pensiun pada 2002, Ramon termasuk dalam anggota pendiri Duet Group, yang fokus pada manajemen aset dan ekuitas swasta. Di tahun 2006, ia mendirikan Matterhorn Capital Rosalp, sebuah perusahaan real estate Swiss serta membuka sekolah sepak bola di Spanyol.

Tahun 2015, Ramon Vega mulai menampakkan ambisinya untuk menduduki kursi nomor satu dalam federasi sepak bola internasional (FIFA). Tahun itu ia mempertimbangkan pencalonan, usai Sepp Blatter pejabat petahana yang kembali maju terkena skors. Akan tetapi niat Ramon untuk mencalonkan diri sebagai presiden FIFA tidak benar-benar terjadi.
Periode berikutnya tahun 2019, Ramon sempat menyatakan niat menantang Gianni Infantino yang terpilih pada 2015. Akan tetapi rencana Ramon kembali gagal, lantaran tak mampu memenuhi syarat dukungan minimal 5 federasi anggota FIFA.
Pantang menyerah, pada 2022 Ramon Vega kembali berambisi menantang Gianni Infantino. Ketika itu Infantino tengah mengejar periode ketiga masa jabatan sebagai Presiden FIFA. Sayang sekali, Ramon kembali gagal maju karena kurang dukungan.
Gagal maju dalam 3 kali pemilihan tak lantas membuat Ramon Vega patah arang. Ia kembali menunjukkan ambisi untuk mengejar kursi Presiden FIFA.
Jelang pemilihan Presiden FIFA 2027, Ramon kembali menyatakan niat untuk menantang Infantino. Ia juga tercatat sebagai orang pertama yang mendeklarasikan diri menantang dominasi Infantino.
"Saya mencalonkan diri untuk menyatukan kembali keluarga sepak bola global, mewujudkan reformasi yang tulus dan berkelanjutan, memodernisasi FIFA untuk abad 21, memulihkan stabilitas dan kredibilitas, serta membangun kembali kepercayaan yang sangat dibutuhkan oleh olahraga kita," jelas Ramon, dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Reuters.
Kontroversi Ramon Vega Penantang Gianni Infantino
Jelang pemilihan Presiden FIFA terbaru pada Maret 2027, Ramon Vega sudah menegaskan niat untuk menantang kembali Gianni Infantino. Pada awal Oktober 2026, eks penggawa Timnas Swiss itu sempat melontarkan pernyataan yang secara tidak langsung menyerang Infantino.
Usai gelaran Piala Dunia 2026, Gianni Infantino berada di bawah tekanan selepas niatannya melibatkan investor swasta secara lebih jauh di dalam tubuh FIFA, termasuk melepaskan saham Piala Dunia. Rencana Infantino ditolak oleh 3 anggota konfederasi termasuk badan sepak bola Eropa, UEFA.
Bahkan buntut dari rencana kontroversial itu, Asosiasi Sepak Bola Swiss yang notabene negara kelahiran Infantino turut menarik dukungan dari petahana. Sebelum itu ada pula asosiasi Inggris, Wales, Prancis, Serbia, dan asosiasi negara Eropa lain yang tegas menolak rencana Infantino.
Seakan memanfaatkan momentum, Ramon kemudian mengeluarkan pernyataan yang secara tidak langsung menyerang kepengurusan FIFA di bawah Gianni Infantino.
"Sepak bola berada di ruang gawat darurat, dalam kondisi kritis. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. FIFA membutuhkan arah baru dan reformasi mendasar," tegas Ramon dalam sebuah pernyataan, dikutip dari ESPN, hari Kamis (8/10/2026).
Pernyataan lainnya, eks benteng Tottenham Hotspurs itu juga mengungkapkan niat mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA. Ramon berjanji bakal membawa perubahan untuk sepak bola serta organisasi FIFA.
“Saya mencalonkan diri karena hidup saya telah mempersiapkan saya untuk mengabdi pada olahraga ini. Saya percaya saya memiliki kewajiban dan tanggung jawab sosial untuk melindungi dan membela sepak bola – integritasnya, orang-orangnya, dan masa depannya," jelas Ramon Vega, dikutip dari Strait Times.
Ramo Vega juga menyinggung soal banyaknya federasi yang mulai menarik dukungan dari kepengurusan FIFA saat ini. Menurutnya hal itu harus segera diubah untuk memulihkan kredibilitas FIFA.
“Kepercayaan dan keyakinan di seluruh keluarga sepak bola telah sangat rusak. Kita harus membangun kembali keduanya, memulihkan kredibilitas FIFA dan menyatukan kembali keluarga sepak bola global," imbuhnya.
Tak berhenti di situ, kontroversi berlanjut ketika Ramon Vega secara blak-blakan menyerang Infantino, dengan menggunakan isu yang tengah menimpanya di internal FIFA. Ia juga menyebut bahwa kepemimpinan saat ini telah merusak moral sepak bola global.
"Kepemimpinan saat ini telah merusak moral sepak bola... Tata kelola yang lemah telah merusak kredibilitas FIFA dan mengikis kepercayaan di seluruh keluarga sepak bola global. Kita harus menghentikan konflik ini agar tidak makin memburuk," tegas Ramon Vega, mengutip dari Reuters.
Sampai saat ini belum ada konfirmasi resmi dari FIFA terkait apakah Ramon Vega sudah memenuhi syarat untuk maju dalam pemilihan Presiden FIFA 2027. Atau mungkin eks pemain Spurs tersebut bakal kembali menemui jalan buntu untuk ketiga kalinya.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































