Ramai-ramai Mendesak Percepat KLB dan Reformasi Internal PSSI

Oleh: Fadiyah Alaidrus - 25 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
KLB PSSI harus jadi momentum reformasi PSSI. Selama ini, orang yang menjabat di PSSI adalah orang lama dan diduga akrab dengan permainan kotor sepak bola.
tirto.id - Kondisi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bisa disebut dalam masa kritis. Mulai dari mundurnya Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi, kasus kematian suporter, hingga terkuaknya kasus pengaturan skor pertandingan yang menyeret nama-nama besar dalam industri sepak bola Indonesia.

Sejauh ini, Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola Polri telah menetapkan 15 tersangka terkait kasus pengaturan skor dan perusakan dokumen dalam penggeledahan di Kantor PSSI. Salah satu yang menjadi tersangka dalam kasus perusakan itu adalah Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono.

Satgas juga telah melimpahkan lima berkas perkara untuk enam tersangka ke Kejaksaan Agung. Jaksa Peneliti sekaligus Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) masih meneliti lima berkas perkara tersebut.

Terkuaknya kasus ini membuat PSSI segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Keputusan menggelar KLB pun diapresiasi sejumlah pihak, salah satunya budayawan Arswendo Atmowiloto.

Dalam acara diskusi bertajuk Sepakbola Indonesia di Persimpangan, di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (24/2/2019), Arswendo menilai KLB itu langkah yang tepat dan harus segera dilaksanakan.

Percepatan KLB itu penting dilakukan, kata Arswendo, lantaran kasus pengaturan skor dan perusakan dokumen terungkap selepas Edy Rahmayadi mundur. Sehingga, kata dia, mempercepat penyelenggaraan menjadi keharusan.

"Ini yang menang itu situasinya. Ini waktunya [perubahan], kalau lewat dari Pemilu, sudah kacau lagi," ujar Arswendo.


Segera Gelar KLB PSSI

Pernyataan serupa juga disampaikan pemerhati sepak bola, Andi Sururi. Menurut Andi, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggelar KLB.

"[Apa] Kita harus nunggu ada yang mati, kah? Ada korban lagi, kah?" tanya Andi.

Andi menilai masalah "kotornya" permainan sepakbola di Indonesia, bahkan diduga terjadi hingga ke Liga 1, berpangkal di PSSI. Sehingga, reformasi kelembagaan PSSI dalam KLB nanti juga penting dilakukan.

Selama ini, kata Andi, orang-orang yang menjabat di PSSI biasanya orang-orang lama. Mereka diduga akrab dengan permainan kotor sepak bola, termasuk pengaturan skor.

"[Sehingga] Kalau orangnya masih itu-itu saja, saya enggak percaya [akan terjadi reformasi]," ujar Andi.



Komite Eksekutif PSSI sebetulnya sudah memutuskan menggelar KLB yang ditujukan memilih kepengurusan baru organisasi, termasuk pergantian ketua umum. Keputusan ini diambil dalam rapat Eksekutif PSSI yang dipimpin Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono pekan lalu, Selasa (19/2/2019).

KLB memiliki dua agenda. Agenda pertama, membentuk perangkat Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP). Agenda kedua yaitu penetapan tanggal kongres pemilihan kepengurusan baru. Namun, belum diketahui pasti kapan kongres tersebut akan diselenggarakan.

"PSSI akan mengutus perwakilan ke Zurich, untuk berkoordinasi secara langsung dengan FIFA untuk mendapatkan arahan dan rekomendasi yang tepat,” kata Joko Driyono dalam laman resmi PSSI.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi pun sebelumnya pernah meminta KLB sebaiknya dilaksanakan secepat mungkin. Permintaan Imam ini dilatari adanya kabar yang menyebut KLB akan digelar selepas Pemilu 2019.

Penundaan KLB dinilai Imam tak bagus karena akan mengganggu skuat tim nasional Indonesia U-22 yang sedang bertanding di Piala AFF U-22. Selain itu, timnas Indonesia U-22 juga bakal menjalani kualifikasi Piala Asia U-23 pada 22 sampai 26 Maret mendatang.

"Ya, sudah secepatnya, biar tidak mengganggu konsentrasi timnas yang sedang berjuang maupun rencana berputarnya liga," kata Imam.



Seruan untuk Suporter

Sementara itu, suporter sepakbola sekaligus aktor Ronal Sunandar Surapradja menilai rencana KLB PSSI dan terungkapnya kasus pengaturan skor adalah momen yang baik bagi suporter untuk ikut terlibat dalam perbaikan PSSI.

Ia meminta seluruh suporter tanah air untuk ikut memantau rencana pelaksanaan KLB hingga proses hukum terhadap para tersangka terkait kasus pengaturan skor dan perusakan dokumen dengan menanggalkan identitas masing-masing.

"Suporter dari berbagai klub, di sinilah kita diuji. Di sinilah kita diuji, ke-Indonesiaan kita, bukan ke-kluban kita," ujar Ronal saat ditemui di Kawasan Jakarta Pusat, Minggu (25/2/2019).

Ronal mengatakan suporter juga terkena dampak kasus pengaturan skor ini. Untuk itu, ia mengimbau jangan sampai masalah ini membuat suporter klub sepak bola saling menyudutkan satu sama lain.

"Jadi jangan bilang dulu saya Bobotoh, saya Jakmania, jangan. Bilang, saya Indonesia. Saya mendukung perbaikan sepak bola Indonesia. Saya mendukung PSSI yang lebih bersih," ujarnya.

Baca juga artikel terkait PSSI atau tulisan menarik lainnya Fadiyah Alaidrus
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Fadiyah Alaidrus
Penulis: Fadiyah Alaidrus
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight