Putri Sulung daripada Soeharto Jadi Mensos Selama 2 Bulan 5 Hari

Oleh: Petrik Matanasi - 15 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut diangkat menjadi Menteri Sosial setelah Presiden daripada Soeharto berkuasa lebih dari tiga dekade.
tirto.id - Suatu hari, Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut berniat menjadi pemborong proyek jalan tol Cawang-Priok-Cengkareng. Hal ini membuat Menteri Pekerjaan Umum, Radinal Mochtar, menghadap presiden daripada Soeharto.

”Itu pekerjaan sulit, dan Mbak Tutut belum berpengalaman mengerjakan proyek besar demikian,” kata Radinal kepada bosnya.

Soeharto menjawab, ”Kalau dia tidak tahu, saudara ajari anak itu.”

Maka yang terjadi, terjadilah. Tutut menjelma menjadi pengusaha jalan tol. Demikian seperti diceritakan Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:134).

Putri sulung Soeharto itu adalah pemilik kelompok bisnis Citra Lamtoro Gung. Sementara suaminya, Indra Rukmana, putra pengusaha Edy Kowara. Tutut juga sempat dikenal sebagai pemilik stasiun televisi swasta bernama Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) pada awal 1990-an. Stasiun televisi ini kemudian menjadi Media Nusantara Citra Televisi (MNC TV) yang kini dipegang Hary Tanoesoedibyo.


Bahkan menurut George Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan (2006:37,41&98), usaha Tutut di bidang jalan tol merambah beberapa negara di Asia.

”Dari keluarga Soeharto yang berbisnis, Siti Hardiyanti Rukmana yang paling berwawasan ASEAN. Di Filipina, Tutut secara langsung terlibat dalam proyek jalan layang Metro Manila, investasi senilai US$ 475 Juta,” tulisnya.

Di Filipina juga dia terlibat dalam bisnis konstruksi lainnya. Selain itu, Tutut juga pernah menjadi pemegang saham penting di Bank Central Asia (BCA). Setelah era 1980-an, Tutut mulai terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial dan kepemudaan, salah satunya Kirab Remaja Nasional (KRN). Ribuan pemuda terserap dalam program tersebut.

”Pada masa pemerintahan Orde Baru, saya pernah menggerakkan kesadaran pemuda dalam mempersiapkan diri melanjutkan perjuangan pembangunan bangsa melalui program 'Kirab Remaja Nasional (KRN). Para alumni KRN itu kini telah berperan serta membangun bangsa melalui keahlian masing-masing di berbagai sektor,” ujarnya. Lalu antara 1992 hingga 1998, Tutut menjadi Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI).

Setelah Tien Soeharto tutup usia pada 1996, Tutut harus mendampingi ayahnya. Pada 16 Maret 1998, Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan VII yang terdiri dari 34 menteri. Selain kembali mengangkat para ahli menjadi pembantunya, pada tahun itu Soeharto juga mengangkat Bob Hasan sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dan Tutut sebagai Menteri Sosial.


Infografik Mbak Tutut
Infografik Mbak Tutut. tirto.id/Rangga


Bob Hasan atau Mohammad Hasan adalah pengusaha besar di zaman Orde Baru. Ia merupakan anak angkat Jenderal Gatot Subroto, atasan Soeharto di militer sejak ia masih berpangkat kolonel di Semarang pada tahun 1950-an.

Seingat Tutut, seperti tercatat dalam Ibu Tien Soeharto dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita: Rangkaian Melati (1996:13), ibunya pernah berpesan: "Bapak (Soeharto) memang dipercaya rakyat, tetapi kita janganlah memanfaatkan kepercayaan itu." Selain itu, Tien Soeharto juga berharap anak-anaknya menjadi insan yang sopan kepada siapapun.


Soeharto sendiri sudah "teramat sopan" dengan baru memasukkan putrinya ke dalam kabinet setelah 30 tahun dirinya berkuasa. Padahal sangatlah mungkin bagi Soeharto mengangkat Tutut sebagai salah satu menterinya sebelum 1998. Apapun bisa menjadi mungkin pada zaman Soeharto.

Sebagai Menteri Sosial Kabinet Pembangunan VII, masa jabatan Tutut tidak sampai lima tahun seperti kabinet-kabinet sebelumnya, karena kabinet tersebut keburu bubar pada 21 Mei 1998. Tutut tersingkir pada kabinet berikutnya, yakni Kabinet Reformasi Pembangunan pimpinan B.J. Habibie, dan posisinya sebagai Menteri Sosial digantikan oleh Justika Baharsyah.

Baca juga artikel terkait MENTERI SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight