Pundi-pundi Uang dari Para Pemburu

Reporter: Yantina Debora - 13 Nov 2016 12:06 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Wisata berburu memberi sumbangan besar pada ekonomi negara-negara di Afrika, dan membuka ribuan lapangan kerja bagi penduduk setempat. Namun, wisata ini berdampak pada semakin menurunnya populasi hewan khususnya singa di Afrika.
tirto.id - Anda masih ingat dengan kisah kematian singa tertua dan paling terkenal di Zimbabwe bernama Cecil? Singa malang itu terkena anak panah yang dilepaskan oleh pemburu asal Amerika Serikat, Walter James Palmer. Saat itu Palmer sedang wisata berburu di Zimbabwe. Peristiwa ini memicu reaksi dunia karena singa ini adalah objek penelitian terkait kehidupan satwa liar dan paling terkenal di Taman Nasional Hwange.

Petisi dibuat di dunia maya guna mendesak pihak berwajib untuk mengadili Palmer. Tidak hanya satu atau dua, tetapi ada enam petisi soal singa Cecil di situs care2.com. Salah satunya yakni "Demand Justice for Cecil Lion in Zimbabwe" yang telah ditandatangani lebih dari 210 ribu orang.

Pengguna media sosial Twitter juga menanggapi kematian Cecil dengan tagar #CecilTheLion untuk mengutuk tindakan Palmer. Seperti cuitan aktris Debra Messing, “mengecewakan! Aku ingin dia dicabut hak-haknya sebagai warga Amerika Serikat. Saya kecewa dan malu terhadapnya. #CecilTheLion.” ungkapnya.

Namun Palmer yang berprofesi sebagai dokter gigi itu berdalih tidak melakukan pelanggaran hukum. Ia mengaku telah membayar 50 ribu dolar AS atau sebesar Rp672,8 juta kepada Thoe Bronkhorst dan Honest Ndlovu, dua orang pemandu sekaligus penanggung jawab dalam wisata berburu.

“Dalam perburuan tersebut saya melakukan secara legal dan sesuai dengan aturan. Saya benar tidak mengetahui bila singa itu adalah binatang yang sangat disayangi dan menjadi kebanggaan Taman Nasional Hwange, dalam setiap berburu saya selalu menaati aturan dan hukum yang berlaku serta tidak sembarangan,” kata Palmer yang dikutip dari Al Jazeera.

Menteri Lingkungan Zimbabwe, Oppah Muchinguri, mengungkapkan Palmer tidak bisa diadili karena semua dokumennya memenuhi syarat. Palmer dianggap tidak melanggar hukum ketika membunuh singa dengan menggunakan busur dan panah, alias legal.

Tarif Tinggi dan Ekonomi Afrika

Kegiatan berburu singa, zebra, bison, kijang dan hewan lainnya menjadi hal legal di Zimbabwe dan beberapa negara di Afrika. Ini menjadi paket wisata mahal yang ditawarkan kepada para turis mancanegara. Turis pergi ke Afrika untuk berburu binatang eksotis, dan legal. Dalam paket wisata berburu juga disediakan tur yang dipimpin oleh pelacak dan pemburu profesional.

Kegiatan berburu ini biasanya dilakukan oleh orang-orang kaya dengan julukan Trophy Hunting. Kenapa hanya orang kaya? biaya untuk sekali berburu mencapai ratusan juta rupiah bahkan miliaran rupiah. Bagian hewan hasil buruan seperti kepala, gading, gigi taring, kulit dan lainnya, biasanya diambil sebagai trofi.

Wisata berburu jadi pendapatan negara bagi Afrika Selatan selain sektor pertambangan. Mengelola taman berburu binatang dengan paket wisata berburu memang sangat menguntungkan. Binatang-binatang yang diburu ada tarifnya, sesuai dengan tingkat kesulitan dan jenisnya. Seekor zebra dihargai Rp6 juta sampai Rp9 juta. Bison sekitar Rp10 juta sampai Rp30 juta. Singa adalah yang paling mahal mulai dari Rp200 juta sampai Rp500 juta.

Luxury Hunts yang beroperasi di Afrika Selatan dan Zimbabwe menawarkan pengalaman berburu singa dengan membayar 49 ribu dolar AS atau sekitar Rp659 juta. Para berkantong tebal bisa bersafari memburu singa dalam 10 hari. Kemudian ada juga African Sky Hunting di Zimbabwe yang juga menawarkan berburu gajah selama 10 hari dengan biaya 35 ribu dolar AS atau sekitar Rp472 juta.

“Anda akan diperlakukan seperti raja di sana. Anda pergi ke sana pasti ingin kembali lagi,” ucap safari konsultan Amerika yang merupakan klien Wild Africa Hunting Safaris, Mick Jameson seperti dilaporkan CNN.

Meski mahal, wisata berburu ini banyak peminatnya. Menurut laporan Safari Club International Foundation, sebanyak 8.387 turis mancanegara mengunjungi Afrika Selatan untuk wisata berburu pada 2014. Namibia berada di posisi berikutnya. Sebanyak 7.076 turis mancanegara mengunjungi negara di Afrika Barat itu untuk berburu. Selanjutnya ada Zimbabwe yang dikunjungi 1.361 turis mancanegara.

Infografik Wisata Berburu


Selain tiga negara di atas, ada juga Tanzania, Mozambik, Zambia, Botswana, dan Aethiopia yang menjadi tujuan turis mancanegara untuk berburu hewan-hewan buas dan hewan lainnya pada 2014. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa di tahun itu, rata-rata pengeluaran untuk sekali berburu adalah 26.000 dolar AS atau sekitar Rp349 juta.

Tentunya ini membawa manfaat bagi ekonomi negara-negara yang menyediakan wisata berburu ini. Pada 2014, wisata berburu ini menyumbang 206,14 juta dolar AS untuk ekonomi Afrika Selatan. Wisata berburu di Namibia menyumbang 115,5 juta dolar AS. Sedangkan sumbangan sebesar 44,77 juta dolar AS di Zimbabwe.

Kegiatan berburu juga membuka banyak lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat. Misalnya saja di Tanzania, ada lebih dari 14 ribu lapangan pekerjaan yang tersedia, untuk separuh atau penuh waktu. Di Afrika Selatan, ada lebih dari 12 ribu lapangan pekerjaan di kegiatan berburu legal. Roda ekonomi dan lapangan kerja jadi sisi positif dari kegiatan berburu, tapi wisata kelas atas ini juga punya dampak negatif.

Dampak Negatif

Meski kegiatan berburu ini memberi sumbangan yang besar bagi Afrika, tapi sangat berdampak pada populasi hewan yang diburu. Kelompok pecinta lingkungan International Union for Conservation of Nature menyebutkan pemburu bisa membunuh 105.000 ekor hewan per tahun di Afrika.

Laporan dari National Geography menunjukkan satu abad lalu ada sebanyak 200.000 ekor singa yang hidup di daratan Afrika. Sedangkan kini, hanya kurang dari 30.000 ekor yang tersisa. Perburuan yang dilegalkan ini tentu akan terus mengurangi populasi singa termasuk hewan lainnya.

Bagi Afrika Selatan, wisata berburu ini dilakukan untuk membiayai konservasi alam mereka. Negara lainnya juga berdalih bahwa mereka memilih singa yang sudah tua untuk diburu. Namun, laporan dari In Defense of Animals pada situsnya mengungkapkan bahwa ketika berburu, para pemburu yang sudah membayar mahal itu kadang tidak peduli. Merek akan membunuh singa yang paling kuat dan singa terbaik untuk membawa pulang tropinya.

Dampaknya, populasi hewan-hewan ini tentu akan semakin berkurang karena menurut laporan Safari Club International Foundation, lebih dari 80 persen para pemburu yang datang ke Afrika, tak mau pulang sebelum mendapat kesempatan untuk berburu. Para wisatawan juga enggan untuk mengganti destinasi ke wisata lain bila paket wisata berburu tidak tersedia. Mereka yang sudah mendapat trofi pun berencana untuk kembali ke Afrika suatu saat nanti. Artinya, semakin banyak pemburu, maka akan semakin banyak permintaan paket wisata berburu.

Orang Indonesia juga ada yang rela mengeluarkan ratusan juta rupiah hingga miliaran rupiah untuk merasakan sensasi berburu singa di Afrika. Berdasarkan laporan Antara, pada 2013 ada 89 kuota yang dipesan dari Indonesia. Pemburu dari Indonesia disukai di Afrika karena royal membuang uang dan tak pilih-pilih target hewan.

Selagi masih ada wisata berburu dan orang yang mencintai kesenangan dari berburu, maka populasi hewan liar seperti singa akan terus terancam. Barangkali negara-negara di Afrika berpikir daripada hewan-hewan itu mati di tangan pemburu ilegal, menyelenggarakan berburu secara legal jadi sebuah pilihan. Namun, setiap pilihan punya sisi plus dan minusnya.

Baca juga artikel terkait WISATA atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Suhendra

DarkLight