Menuju konten utama

Psikologi Sosial Pelaku Bom Bunuh Diri

Radikalisasi dimulai dari lingkaran pergaulan yang terpapar ideologi ekstremis via internet.

 Psikologi Sosial Pelaku Bom Bunuh Diri
Polisi berjaga di area halte Bus Way Kampung Melayu pasca terjadi Bom Bunuh Diri, Jakarta, Kamis (25/5). tirto.id/Arimacs Wilander

tirto.id - Said dan Khaled, dua sahabat sejak kecil, memutuskan mencukur jenggot, mengenakan jas, dan bepergian ke Tel Aviv sebagai tamu resepsi pernikahan. Beberapa hari sebelumnya mereka telah direkrut sebagai "calon pengantin" oleh kelompok militan yang beroperasi di Tepi Barat, Palestina. Sasarannya: mengobrak-abrik sudut ibukota pemerintahan Israel. Seorang gadis membujuk Khaled agar membatalkan rencananya. "Di bawah pendudukan, kita semua sudah mati," jawab Khaled.

Pada bagian akhir film, Khaled mengurungkan niatnya. Bus yang mengantar Said dan bom bunuh diri di kopernya diperlihatkan melintasi check point serdadu Israel. Kamera mendekat ke mata Said. Setelah itu layar menjadi putih.

Film Paradise Now (2005) adalah ilustrasi tentang betapa kompleksnya kondisi psikologis seseorang menjelang aksi bunuh diri di Palestina. Di negeri yang tak pernah surut konflik itu, bom bunuh diri—sebagai respons atas perampasan tanah dan bombarbir teritori Palestina oleh pemerintah Israel—sudah jadi makanan sehari-hari.

Jauh-jauh hari sebelum kelompok agamis seperti Hamas atau Palestinian Islamic Jihad mensponsori serangan bunuh diri, situasi pendudukan di Palestina adalah lahan subur bagi pelbagai organisasi dan kelompok untuk melakukan tindakan yang sama.

Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) yang berhaluan kiri-sekuler, misalnya, melakukan lima serangan bunuh diri antara 2002-2004. Di Sri Lanka, gerilyawan Macan Tamil menemukan perangkat rompi bom yang kini umum dipakai dalam serangan teror. Pada Perang Dunia II, sebelum diterjunkan ke medan tempur dan melakukan serangan bunuh diri dengan menabrakkan pesawat ke kapal musuh, para prajurit Jepang telah menyelenggarakan pemakamanan ketika mereka masih hidup.

Motif-Motif Serangan Bunuh Diri

Beberapa pengamat menyatakan bahwa motif serangan bunuh diri bersifat politis dan teroganisir. Artinya sebuah serangan sudah terlebih dulu mengandaikan kejelasan komando, koordinasi, dan dampak yang diharapkan. Kasus-kasus yang dipaparkan di atas menunjukkan keterlibatan organisasi kombatan atau angkatan bersenjata suatu negara dalam aksi-aksi yang bertujuan memusnahkan musuh dan/atau menakut-nakuti khalayak. Ideologisasi dan pemahaman yang dalam tentang tujuan-tujuan politik memiliki peran penting di sini.

Namun, sejumlah pengamat lain juga memperlihatkan kasus-kasus di mana serangan bunuh diri dilakukan oleh perorangan yang tak berafiliasi dengan organisasi tertentu dan tak punya agenda politik yang jelas. Pelaku bom bunuh diri di Solo menjelang pilpres 2014, misalnya, bukan anggota kelompok ekstremis—demikian pula pada kasus serangan bunuh diri di Gereja Santo Yoseph, Medan, Agustus 2016 lalu.

Di tempat-tempat konflik seperti Palestina atau Sri Lanka era insurgensi Macan Tamil, pelaku bom bunuh diri didorong oleh motif rasional, seperti membela diri atau berkorban demi agenda-agenda politik tertentu. Sasarannya jelas: mengusir tentara pendudukan atau menciptakan kondisi yang tidak aman sehingga pemerintahan yang berkuasa kehilangan legitimasi. Namun, ada kalanya inisiatif perorangan muncul, bahkan di luar daerah konflik. Serangan-serangan teror yang dilakukan perorangan tanpa afiliasi organisasi yang jelas ini sering disebut sebagai fenomena lone wolf terrorism.

bom bunuh diri

Radikalisasi

Dalam studinya “The Social Psychology of Suicide Terrorism” (2014) Luis de la Corte Ibáñez, menyatakan bahwa visi politik yang dianut pelaku bom bunuh diri bisa saja rasional, akan tetapi pilihan tindakan yang diambil seringkali berasal dari kepercayaan yang irasional dan dilakukan tanpa koordinasi dan perencanaan organisasi. Tak ada tujuan-tujuan strategis yang disasar dari aksi-aksi semacam ini.

Radikalisasi dan komunitas adalah kata kuncinya. Ibáñez mengatakan bahwa beberapa individu yang melakukan serangan bunuh diri bukan bagian dari kelompok teroris, tapi bergaul dengan lingkaran-lingkaran sosial yang terpapar oleh ideologi ekstremis, yang menyebarluaskan propaganda melalui Internet dan teknologi komunikasi lainnya, via grup WhatsApp atau Telegram, misalnya.

Setiap orang mengidentifikasi diri sebagai anggota komunitas sosial di mana ia dibesarkan. Ketika ia merasa komunitasnya ditindas, dilecehkan, atau kepentingan dan nilai-nilai kolektifnya terancam, ia pun bereaksi. Organisasi ekstremis melakukan rekrutmen atau mendorong kekerasan dengan cara mengartikulasikan perasaan tertindas dan terancam melalui simbol-simbol kultural yang lekat dengan komunitas tersebut.

Macan Tamil di Sri Lanka misalnya mengklaim diri sebagai wakil “Bangsa Tamil”, sementara Al-Qaeda senantiasa membawa-bawa nama “Umat Islam” dalam pesan-pesan publiknya. Efeknya, segala kekerasan yang dilakukan kelompok atau perorangan atas nama komunitas yang lebih luas (bangsa, agama) seolah bisa dibenarkan atau setidaknya dimaklumi. Sasarannya kemudian terang dan harus dihancurkan dengan cara apapun (termasuk bom bunuh diri), yakni siapa-siapa yang dianggap telah menghancurkan komunitas (“pemerintah”, “orang kafir”, “bangsa asing”).

Pada level personal, lanjut Ibáñez, radikalisasi menyasar orang-orang yang gelisah, umumnya anak muda. Keresahan pribadi dan kebutuhan individu untuk menemukan makna hidup lantas menjadi celah yang dimanfaatkan ideologi ekstremis, atau jadi alasan untuk bergabung dengan kelompok ekstremis. Makna hidup yang diharapkan bisa bermacam-macam bentuknya. Katakanlah, dengan melakukan serangan bunuh diri, seseorang berharap menjadi pahlawan, atau bisa membuktikan kualitas iman, atau sekadar mengakhiri kehidupan dunia yang tak bermakna seperti yang dilakukan Said.

Baca juga artikel terkait BOM KAMPUNG MELAYU atau tulisan lainnya dari Windu Jusuf

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Windu Jusuf
Penulis: Windu Jusuf
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti