Menuju konten utama

Profil Yenny Wahid, Elektabilitas & Peluangnya Jadi Cawapres

Profil Yenny Wahid: berapa elektabilitas dan bagaimana peluangnya jadi cawapres?

Profil Yenny Wahid, Elektabilitas & Peluangnya Jadi Cawapres
Founder Islamic Law Firm Yenny Wahid, memberikan pidato saat peluncuran Islamic Law Firm di Jakarta, Jumat (25/10/2019). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Sosok Yenny Wahid, putri kedua dari Presiden ke-4 Indonesia Gus Dur, sempat dimunculkan akan maju sebagai cawapres Anies Baswedan. Lantas seperti apa perjalanan dan kiprahnya di dunia politik?

Meski isu itu ada, juru bicara Anies, Sudirman Said, mengatakan nama Yenny Wahid tidak pernah masuk dalam daftar cawapres yang diajukan oleh anggota Tim Delapan Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).

Menanggapi namanya masuk dalam bursa cawapres di Pilpres 2024, Yenny menyatakan kesiapannya jika salah satu dari capres meminta dia untuk maju sebagai cawapres.

Yenny Wahid Siap Maju Jadi Cawapres: Berapa Elektabilitasnya?

Yenny mengatakan pada Selasa, 8 Agustus 2023, sebagai seseorang yang sudah lama berkecimpung di dunia politik, pasti harus siap untuk menduduki jabatan publik.

Sebab, menurut dia, menduduki jabatan publik strategis untuk membuat perubahan positif di masyarakat adalah salah satu tujuan pelaku politik.

Yenny bilang jika memang ada kesempatan baginya untuk maju sebagai cawapres, maka dia harus siap dan bersedia.

Peluang Yenny menjadi cawapres sudah dipantau oleh sejumlah lembaga survei elektabilitas, salah satunya adalah Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Dalam surveinya, LSI mempertanyakan mengenai siapa pilihan wakil presiden para responden apabila Pilpres diadakan pada saat survei berlangsung. Hasilnya, nama Yenny Wahid muncul di urutan kedua belas dengan tingkat keterpilihan 1,3 persen.

Posisi Yenny sebanding dengan Susi Pujiastuti dan Tri Rismaharini yang masing-masing memperoleh 1,3 persen. Namun, kedua nama itu LSI tempatkan pada urutan di atasnya. Sementara itu, satu tingkat di bawahnya adalah Gatot Nurmantyo yang mengantongi 1,2 persen.

LSI melakukan survei elektabilitas cawapres pada rentang waktu 1–8 Juli 2023, hasil survei dirilis pada 11 Juli 2023.

Dalam melakukan survei, LSI menggunakan teknik pemilihan sampel melalui random digit dialing (RDD). RDD adalah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, validasi, dan screening.

Dari teknik pemilihan tersebut, didapat sebanyak 1242 responden. Margin of error survei diperkirakan ±2.8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih.

YENNY WAHID

Puteri Presiden keempat Abdulrahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Ariffah Chafsoh meninggalkan ruangan usai menghadiri Sidang Bersama DPD-DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/ama.

Profil Yenny Wahid dan Perjalanan Politiknya

Yenny Wahid lahir dengan nama asli Zannuba Ariffah Chafsoh pada 29 Oktober 1974 di Jombang, Jawa Timur. Dia merupakan anak kedua dari pasangan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid dan istrinya Sinta Nuriyah.

Dia memiliki satu orang kakak, Alisa Wahid dan dua orang adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid. Yenny memiliki suami bernama Dhorir Farisi, keduanya menikah pada 15 Oktober 2009, dan sudah dikaruniai tiga orang anak yaitu Malica, Amira, dan Raisa.

Yenny kecil tumbuh di lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama, datang dari keluarga priyayi, Yenny termasuk orang yang mengedepankan pendidikan, dia mengenyam pendidikan hingga jenjang pascasarjana.

Pada tahun 1992, dia tamat dari SMA Negeri 28 Jakarta. Kemudian, dia meneruskan pendidikan ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan Psikologi di Universitas Indonesia (UI).

Namun, dia tidak menuntaskan pendidikannya di UI, karena atas anjuran dari ayahnya, dia memutuskan untuk keluar dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Trisakti dengan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Yenny kemudian terjun ke dunia jurnalis. Selama menjadi seorang jurnalis, Yenny pernah meliput Reformasi 1998, pada saat itu dia pernah mengalami todongan senjata dari anggota ABRI.

Dia juga pernah ditugaskan sebagai reporter di wilayah konflik Timor-Timur (sekarang Timor Leste) dan Aceh. Kala itu, liputannya tentang Timor Timur pasca referendum, dianugrahi The Walkey Awards dari The Walkey Foundation.

Yenny lalu memutuskan untuk berhenti sebagai jurnalis ketika ayahnya Gus Dur terpilih menjadi Presiden. Inilah titik balik awal mula Yenny berkecimpung di dunia politik.

Gus Dur dari PKB resmi menjadi Presiden pada tahun 1999, dia memperoleh 373 suara mengalahkan lawannya Megawati dari PDIP yang hanya mengantongi 313 suara.

Pada saat ayahnya menjabat sebagai Presiden, Yenny menjabat sebagai Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik. Dia selalu mendampingi ayahnya dalam menjalankan tugas sebagai Presiden.

Namun, kepemimpinan Gus Dur tidak berlangung lama. Pada tahun 2001 terjadi pergolakan politik. Pasalnya, Gus Dur hendak mengeluarkan dekrit membubarkan DPR/MPR. Mahkamah Agung menilai tindakan tersebut bertentangan dengan hukum. Sehingga, memakzulkan kepemimpinanya.

Pasca-Gus Dur turun dari Istana, Yenny melanjutkan pendidikan pasca sarjana ke Amerika Serikat. Dia memperoleh gelar masternya dari Harvard Kennedy School pada jurusan Administrasi Publik.

Setelah menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2004, Yenny kembali ke Tanah Air. Kala itu, Yenny mengabdikan diri ke PKB, partai besutan ayahnya yang masih menempati posisi kuat meski sudah tidak menjadi partai penguasa.

Pada Pemilu tahun 2004 PKB berhasil menduduki posisi ketiga dengan mengantongi suara sebanyak 10,57 persen dan meraih 52 kursi di DPR RI.

Setelah Pemilu 2004, Yenny resmi dilantik sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKB untuk periode 2005–2010. Kala itu, dia sempat menjadi Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bidang Komunikasi Politik selama setahun.

Dia memutuskan berhenti karena tidak ingin ada perbedaan kepentingan politik terkait dengan jabatannya sebagai Sekjen PKB.

Pada titik ini, Yenny tampil sebagai tokoh politik perempuan muda dengan rentetan peluang dan dukungan. Namun, karier politik Yenny mengalami ujian ketika PKB mengalami pergolakan politik pada tahun 2008.

Kala itu, terjadi perseteruan antara dua tokoh PKB yaitu Gus Dur dan Cak Imin (Muhaimin Iskandar). Menurut pernyataan Yenny pada 22 Juni 2022 lalu, bahwa kondisi internal PKB pada masa itu menghadapi masa kelam.

Pasalnya, kata dia, lewat Muktamar Ancol yang diadakan oleh Cak Imin, Gus Dur yang merupakan pendiri PKB dikeluarkan dari partai. Pada saat itu, Yenny sebagai Sekjen di PKB juga dilengserkan dari jabatannya. Padahal, Cak Imin adalah keponakan Gus Dur.

Setelah resmi hengkang dari PKB, Yenny lalu membentuk Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) pada tahun 2012. Yenny dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa masyarakat perlu mengetahui bahwa PKB yang saat ini bukan lagi PKB Gus Dur, melainkan PKB Cak Imin.

Meski tidak terlalu sering wara wiri di media, Yenny masih aktif di dunia politik. Setiap gelaran Pemilu arah politik Yenny selalu jadi sorotan publik. Pada tahun 2018 lalu dia menyatakan dukungannya kepada pasangan Jokowi–Ma’aruf kepada publik.

Yenny adalah salah satu politikus perempuan muda yang patut diperhitungkan. Selain memiliki basis pendukung dari Nahdlatul Ulama, dia adalah cucu dari Menteri Agama Pertama Indonesia, Wahid Hasyim, dan cicit dari Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Baca juga artikel terkait URGENT atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Politik
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Alexander Haryanto