Profil Mustafa Kemal Ataturk dan Perannya dalam Kemerdekaan Turki

Kontributor: Fadhillah Akbar Zakaria, tirto.id - 18 Sep 2022 17:43 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Profil Mustafa Kemal Ataturk (Mustafa Kemal Pasha) dan riwayat perannya dalam kemerdekaan Turki.
tirto.id - Mustafa Kemal Pasha atau Mustafa Kemal Ataturk lahir pada 19 Mei 1881 di Salonika, wilayah yang pernah dikuasai Kekaisaran Ottoman. Sekarang, Salonika telah berganti nama menjadi Tesalonika dan masuk wilayah provinsi Makedonia Tengah, Yunani.

Ataturk terlahir dengan nama kecil Ali Rıza oğlu Mustafa, berarti Mustafa anak dari Ali Riza. Buah hati pasangan Ali Riza Effendi dan Zubeyde Hanim tersebut sejak kecil hidup dalam keluarga Turki kelas menengah. Karena itu, ia bisa mengenyam pendidikan dasar yang layak.

Ayahnya, Ali Reza Effendi semula berkarier sebagai perwira militer tetapi banting setir menjadi juru tulis, juga pedagang kayu. Ali Reza Effendi meninggal dunia karena sakit paru-paru ketika Mustafa baru berumur 7 tahun. Adapun ibu Mustafa, Zubaeyde Hanim dikenang taat beribadah, tetapi buta huruf.


Mustafa kecil memulai pendidikannya di sekolah Hafiz Mehmet Efendi, kemudian dipindahkan ke sekolah Semsi Efendi. Di sekolah terakhir, ayahnya ingin Mustafa menempuh pendidikan modern.

Setelah sang ayah tutup usia pada 1888, Mustafa sempat tinggal bersama pamannya di Rapla (kini wilayah Estonia). Mustafa kemudian kembali ke Salonika guna menuntaskan pendidikan dasarnya.

Ketika berusia 12 tahun, Mustafa memasuki sekolah militer di Selanik dan kemudian Manastır (kini Bitola, kota di Makedonia Utara). Dari sekolah itulah, karier militer Mustafa bermula.

Di Selanik, nama Mustafa mendapat tambahan "Kemal" yang berarti "kesempurnaan." Julukan itu disempatkan oleh guru matematikanya sebagai pengakuan atas kecerdasan sang murid.

Saat berkuasa di Turki, ia dikenal bernama Gazi Mustafa Kemal Pasha dan Mustafa Kemal Ataturk. Ia menyandang nama Mustafa Kemal Pasha hingga tahun 1934. Mulai tahun yang sama, namanya berganti menjadi Mustafa Kemal Ataturk hingga ia meninggal dunia.

Nama Ataturk punya arti "Bapak Bangsa Turki." Gelar tersebut diberikan Majelis Agung Turki pada 24 November 1934 sebagai penghargaan atas apa yang telah dilakukannya untuk Republik Turki.

Mustafa Kemal Atatürk meninggal dunia pada 10 November 1938 di Istana Dolmabahce, Istanbul akibat penyakit liver yang dideritanya. Jenazahnya sempat disemayamkan di Museum Etnografi di Ankara pada 21 November 1938. Jasad Mustafa lantas dibawa ke pemakaman permanennya, pada 10 November 1953, di Anitkabir, Ankara.


Karier Militer Mustafa Kemal Ataturk

Mustafa lulus dari Akademi Militer Istanbul dengan pangkat letnan dua pada 1902. Hanya butuh 3 tahun bagi dia untuk naik pangkat sebagai kapten. Setelah itu, ia ditugaskan di Damaskus. Sempat ditarik ke Istanbul, Mustafa lalu dikirim angkatan darat Kekaisaran Ottoman ke Prancis pada 1910.

Pada 1911, ia bertugas untuk militer Ottoman dalam perang melawan Italia di Libya dan kemudian Perang Balkan (1912-1913). Karier militernya meroket saat Perang Dunia I berkecamuk.

Di bawah komando Mustafa, pasukan Ottoman berhasil menghalau serbuan angkatan laut Inggris dan Prancis yang hendak merebut Istanbul pada 1915. Kiprahnya dalam pertempuran Gallipoli itu segera mengerek pangkat Mustafa dari kolonel menjadi brigadir jenderal.

Setelah ambil bagian dalam pertempuran melawan pasukan Rusia dengan capaian merebut Bitlis dan Mur, serta menjalankan tugas singkat di Damaskus kemudian Aleppo, ia kembali ke Istanbul pada 1917. Di tahun itu, Mustafa menjadi ajudan putra mahkota Ottoman, Vahideddin (kelak jadi Sultan Mehmed VI), saat berkunjung ke Jerman memantau front pertempuran di Eropa Barat.


Sempat jatuh sakit dan dirawat, Mustafa kembali ke front Perang Dunia I pada 15 Agustus 1918 sebagai Panglima Angkatan Darat ke-7 di Aleppo. Di front ini, dia memimpin pertempuran paling sukses dalam sejarah upaya militer Ottoman membendung serbuan Inggris.

Mustafa kemudian ditunjuk menjabat panglima tertinggi Grup Tentara Yildirim atau Grup Tentara Petir Kekaisaran Ottoman (Grup F), tepat sehari setelah perjanjian gencatan senjata di Moudros.

Perjanjian Mudros pada 30 Oktober 2018 menandai kekalahan Ottoman di Perang Dunia 1. Akibat perjanjian ini, gencatan senjata dengan Sekutu (Blok Entente) ditukar dengan penyerahan banyak wilayah Ottoman pada negara-negara pemenang PD I, terutama Inggris, Prancis, Rusia, dan Italia.

Gencatan Senjata Mudros memaksa Ottoman melakukan demobilisasi tentara. Mustafa pun tidak lama memimpin Grup Yildirim, karena divisi militer itu segera dibubarkan. Dia lantas ditarik untuk bertugas di Kementerian Perang Ottoman pada November 1918.


Karier Politik Mustafa & Sejarah Kemerdekaan Turki

Kekalahan Ottoman (Kesultanan Utsmaniyah) di Perang Dunia I tidak hanya memantik pergeseran politik drastis di Turki dan Timur Tengah, tapi juga memicu belokan karier Mustafa. Pengaruh besar di militer menjadi modal Mustafa untuk naik tangga ke pentas politik.

Setelah kekuasaan Ottoman merosot akibat Gencatan Senjata Mudros, Mustafa menduduki posisi strategis. Dia menjabat Inspektur Jenderal Angkatan Darat ke-9 yang berbasis di Samsun (kota di Turki Utara), sejak 19 Mei 1919.

Manuver politik Mustafa bermula pada 22 Juni 1919, saat ia membidani Surat Edaran Amasya yang menyerukan agar para pejabat sipil dan militer segera membentuk organisasi nasional. Edaran itu menegaskan penguasa Ottoman telah lumpuh dan tidak akan mampu melindungi wilayahnya.

Surat Edaran Amasya juga mendorong pelaksanaan kongres di Erzurum dan Sivas. Para delegasi dari sejumlah provinsi Ottoman lantas berembug dalam kongres di Erzurum (kota di Turki Timur), pada 23 Juli-7 Agustus 1919. Pertemuan berlanjut dengan kongres di Sivas (kota di Turki Tengah) pada 4-11 September 1919.

Dua kongres itu menyediakan pondasi bagi identitas nasional Republik Turki. Kongres Erzurum dan Sivas menyatukan provinsi-provinsi Ottoman di Anatolia (kelak wilayah Turki modern).

Kongres di Sivas menyepakati pembentukan Asosiasi Pertahanan Hak Anatolia dan Rumelia dengan Mustafa didaulat sebagai pemimpinnya. Mengutip Sejarah Kebudayaan Islam di Turki (1997) karya Syafiq A. Mughni, organisasi ini mengobarkan perang kemerdekaan Turki sekaligus jadi kendaraan politik paling vital bagi Mustafa untuk berkuasa.


Pendudukan Sekutu di banyak wilayah Ottoman dan kekecewaan rakyat Anatolia pada kesultanan benar-benar dimanfaatkan oleh Mustafa. Dia membangun legitimasi sebagai pemimpin Turki ddari 2 ranah sekaligus, politik dan militer.

Mustafa dan para pendukungnya membentuk Majelis Nasional Agung Turki pada 23 April 1920 di Ankara. Dari sana, dukungan politik untuk Mustafa mengkristal. Lembaga ini melucuti kekuasaan Ottoman dan menentang pendudukan Sekutu.

Majelis Agung Nasional mengklaim menjadi representasi tertinggi rakyat Turki serta berperan jadi lembaga legislatif sekaligus eksekutif. Alhasil, Mustafa yang didaulat sebagai ketua pertama Majelis Agung Nasional memegang kekuasaan ganda: memimpin legislatif serta pemerintahan "tandingan" di Turki. Berkat ini, Mustafa dan kelompoknya tanpa alangan berarti mendorong kelahiran undang-undang yang menjadi dasar kuat perang kemerdekaan Turki.

Perang Kemerdekaan Turki dianggap meletup pertama kali pada 15 Mei 1919, saat tentara Yunani menduduki Izmir (Symirna), kota besar di ujung barat Anatolia. Perlawanan terhadap pendudukan Yunani semula dimotori oleh para milisi Kuva-i Milliye (Angkatan Nasional). Majelis Agung Turki lalu mengintegrasikan para milisi dan tentara untuk membentuk angkatan militer resmi.

Maka, sejak 1920, perang kemerdekaan Turki di bawah komando Mustafa segera meluas. Satu per satu kota di Anatolia direbut oleh pasukan Mustafa hingga mereka memenangkan Perang Sakarya (1921) melawan tentara Yunani. Kemenangan yang menjadi titik balik dalam perang kemerdekaan Turki ini menjadi alasan bagi Majelis Agung Turki menyematkan gelar Gazi (pejuang kemenangan) di nama Mustafa Kemal Pasha.

Jalan untuk kelahiran negara Turki modern terbuka setelah pasukan Mustafa meraih kemenangan final atas tentara Yunani di Perang Dumlupinar pada 30 Agustus 1922. Kesuksesan tentara Turki di pertempuran berat itu memaksa Sekutu berunding di Lausanne, Swiss.

Perjanjian Lausanne yang disepakati oleh Sekutu dan Turki pada 24 Juli 1923 merealisasikan Pakta Nasional yang dirumuskan di dalam kongres Erzurum dan Sivas. Melalui Perjanjian Lausanne, kubu Sekutu mengakui kekuasaan Turki atas kesatuan wilayah etnisnya.

Menukil buku Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern (2022) karya Siti Maryam et.al, dengan adanya Perjanjian Lausanne, kedaulatan negara-bangsa Turki (versi pasca-Ottoman) mendapat pengakuan internasional. Perjanjian ini menjadi kemenangan kelompok nasional Turki di bawah pimpinan Gazi Mustafa Kemal Pasha karena melenyapkan campur tangan asing sama sekali dari urusan dalam negerinya.

Hanya tiga bulan setelah Perjanjian Lausanne diteken, tepatnya 29 Oktober 1923, Majelis Agung Nasional mengabulkan proposal Mustafa untuk mengubah konstitusi negara sehingga menjadikan Turki sebagai negara republik. Pada saat yang sama, Majelis Agung Nasional dengan kesepakatan bulat mengangkat Mustafa Kemal Pasha sebagai Presiden pertama Republik Turki.

Meski ditentang oleh kaum konservatif, menurut Ahmad Feroz dalam The Making of Modern Turkey (2003), Mustafa dan pendukungnya (Kemalis) bersikeras membentuk Republik Turki serupa negara modern yang sekuler. Turki era Mustafa Kemal Pasha membuang sama sekali anasir Ottoman, dan menampakkan wajah paling keras dari sekulerisme di wilayah berpenduduk muslim.

Pada saat Mustafa Kemal Pasha menunjuk perdana menteri Ismet Inönü membentuk pemerintahan pertama Republik Turki mulai 30 Oktober 1923, Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah) secara de jure dan de facto pun lenyap dari Anatolia.

Baca juga artikel terkait TOKOH DUNIA atau tulisan menarik lainnya Fadhillah Akbar Zakaria
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Fadhillah Akbar Zakaria
Penulis: Fadhillah Akbar Zakaria
Editor: Addi M Idhom

DarkLight