Prabowo Janji Harga Sembako Turun: Realistis atau Bualan Politis?

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 9 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Prabowo janji turunkan harga sembako dalam 100 hari kerja. Persoalannya janji ini dianggap kontradiktif dengan janjinya untuk menyejahterakan petani dan menolak impor pangan.
tirto.id - Calon presiden (capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto umbar janji di depan masyarakat. Kali ini di depan Forum Komunikasi Majelis Ta'lim (FKMT) serta relawan Aliansi Pencerah Indonesia (API) Prabowo sesumbar bisa menurunkan harga-harga sembako seperti daging, beras gula, telur, hingga daging ayam hanya dalam 100 hari kerja.

"Kita (kami) akan bekerja untuk emak-emak semuanya. Inshaa Allah kalau hitungan saya harga daging, harga telur, harga ayam, bisa kita turunin dalam 100 hari pertama. Harga beras saya juga feeling hitungan saya bisa kita turunkan," ucap Prabowo di Desa Bojong Koneng, Bukit Hambalang, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, (8/2/2019).

Prabowo menyadari kebutuhan dan kesulitan para hadirin yang disebabkan mahalnya kebutuhan harga pokok bagi masyarakat kelas menengah bawah. “Kita dukung kebutuhan emak-emak semuanya, pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu yang boros akan kita tutup akan kita kurangi semuanya, kita tutup semua kebocoran negara," ujar Prabowo.

Kontradiksi Kesejahteraan Petani dan Import

Persoalannya meski gampang diucapkan namun janji macam itu lebih mirip bualan politik karena nyaris mustahil direalisasikan. Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah kasih kita penjelasan. Menurutnya siapa pun presiden yang akan dilantik pada Oktober 2019 nanti akan sulit menurunkan harga sembako terutama beras dalam 100 pertama. Ini karena menurutnya sejak 10 tahun terakhir terjadi semacam siklus dimana harga beras cenderung naik pada bulan Oktober alih-alih turun.

Ia mencontohkan harga beras pada tahun 2018 yang relatif terkendali dan didukung surplus tetap mengalami kenaikan. Rusli mencatat, dari 2017 ke 2018 beras dengan kualitas bawah dan medium naik rata-rata Rp400-500/kg.

Belum lagi data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan saat inflasi umum tahun 2018 di angka 3,13 persen saja, nilai inflasi volatile terpaut jauh di angka 3,39 persen. Hal ini mengindikasikan harga bahan pokok memang sulit diturunkan. "Itu tantangannya berat. Semua presiden belum bisa meredam gejolak harga di akhir tahun," ucap Rusli saat dihubungi reporter Tirto, Sabtu (9/02/2019).


Rusli memperikirakan pada 100 hari pertama usai pelantikan presiden, Indonesia belum mengalami panen beras cukup signifikan. Sehingga bila stok yang dimiliki Bulog tak cukup untuk menurunkan harga maka solusi yang tersedia adalah impor.

Namun impor juga tak gampang karena paling tidak prosesnya memerlukan waktu 2-3 bulan. Di saat yang sama langkah ini akan bertentangan dengan janji Prabowo yang ingin menghentikan impor untuk swasembada pangan. "Siapa pun dia terperangkap dalam siklus harga yang selalu meningkat di akhir tahun. Kalau mau impor saja enggak bisa satu bulan. Paling enggak tiga bulan," ucap Rusli.

Prabowo Tak Memahami Persoalan Pangan


Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan janji Prabowo merefleksikan kelemahan dalam memahami isu pangsan secara menyeluruh. Menurutnya, menurunkan harga pangan sangat kontradiktif dengan janji Prabowo menyejahterahkan petani.

Ia mengatakan petani memang membutuhkan harga yang layak untuk tetap dapat berproduksi. “Yang harus di-back up itu orang tidak mampu dan banyaknya petani. Tidak apa harga pangan itu mahal. Orang kaya enggak masalah, mereka mampu beli,” ucap Piter saat dihubungi reporter Tirto.

Tapi memback-up warga tidak mampu dan petani lewat subsidi juga tak gampang. Kebijakan ini bakal membebani APBN dan mendorong pemerintah menambah utang. Dan soal utang, kata Piter, adalah isu yang selama ini gencar dikritik Prabowo bersama pendukungnya. “Apa yang disampaikan Prabowo itu (turunkan harga sembako) kontradiktif. Kalau dia mau lakukan itu, akan melanggar janji dia yang lain,” ucap Piter.


Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Irma Suryani Chaniago menilai Prabowo cuma asal omong soal rencana menurunkan harga sembako dalam 100 hari kerja. Sebab menurutnya Prabowo tidak memberi detail pada tingkat berapa harga itu akan diturunkan.

Irma menilai harga pangan di pasaran saat ini sudah relatif baik. Kalaupun terjadi fluktuasi harga ia menilai itu wajar karena ada faktor hari raya dan musim yang tidak mudah dikendalikan. "Harga setiap bulan berfluktuasi apa lagi jika pas musim hujan dan bulan Ramadhan. Harus ada data dong jangan hanya bilang turun dan bocor-bocor. Bukan cuma muluk ini gak cerdas apalagi gak ada data," ucap Irma saat dihubungi Reporter Tirto.

Bisa Dilakukan Tanpa Import

Ekonom cum Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dradjad Wibowo mengklaim janji turunkan harga sembako dalam 100 hari kerja dapat direalisasikan. Caranya dengan melakukan operasi pasar. Drajad mengatakan Bulog akan menjadi lembaga yang ditugaskan menjalankan tujuan pengelolaan logistik itu.

Ia memastikan akan ada dana cukup dari APBN yang digelontorkan agar Bulog dapat melakukan pengadaan dan melepas stok. Ketika ditanya mengenai besaran anggarannya, Drajad belum mau menjawab. Ia mengklaim bahwa hal itu telah diperhitungkan dengan cermat.

“Saya tidak bisa sebutkan angkanya sekarang, tapi masih masuk dalam target belanja APBN Prabowo-Sandi. Masih aman,” ucap Drajad saat dihubungi Reporter Tirto.

Drajad mengatakan Prabowo-Sandi akan menggenjot peningkatan produksi dalam negeri melalui investasi sarana-prasarana produksi pertanian seperti irigasi hingga pengadaan gudang penyimpanan.

Ia membantah Prabowo-Sandi harus melakukan impor apabila ingin menurunkan harga sembako dalam 100 hari kerja. Menurutnya stok beras Bulog masih mencukupi untuk kebutuhan Oktober-Desember 2019. “Bulog masih punya stok. Kalau impor besar-besaran mau dikemanakan stoknya,” ucap Drajad.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Politik)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Jay Akbar