Polemik Nikita vs Rizieq: Tak Mendidik & Jauh dari Akhlak Nabi

Oleh: Zakki Amali - 17 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Polemik media sosial berisi kata kasar dari Rizieq Shihab dan pendukungnya tidak edukatif dan jauh dari nilai-nilai keindonesiaan.
tirto.id - Selebritas Nikita Mirzani menghadapi ancaman pengepungan rumah setelah melontarkan frasa ‘tukang obat’. Ia berseloroh menanggapi peristiwa pulangnya Rizieq Shihab, tokoh Front Pembela Islam (FPI) yang berdampak macet hingga penerbangan tertunda.

“Setahu guwe habib itu, nama habib itu tukang obat [...] jangan diagung-agungkan [..] sekalinya pulang bikin ulah. Kemacetan. Ini manusia bikin ulah terus,” kata Nikita.

Ungkapan itu memantik seorang penceramah bernama Soni Erata atau Ustaz Maher at Thuwailibi. Ia mengancam ratusan orang akan datang ke rumah model yang pernah ikut mata acara Take Me Out Indonesia ini. Ancaman itu dilontarkan di media sosial dengan kata-kata vulgar dan kasar.

Saat terjadi ancaman, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menawarkan diri untuk melindungi. Personel Polres Metro Jakarta Selatan juga bergerak menjaga rumah Nikita dari pengepungan.

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi tengah memonitor perkembangan kasus yang menimpa Nikita Mirzani dan siap memberikan perlindungan bila memang dibutuhkan.

“Bagi pihak yang merasa terintimidasi, bahkan mendapatkan ancaman secara langsung, LPSK meminta yang bersangkutan untuk mengajukan permohonan ke LPSK. Nanti akan kita telaah bagaimana posisi kasusnya,” kata Edwin.

Puncak polemik terjadi saat Rizieq Shihab membalas sebutan ‘tukang obat’. Nikita disebut sebagai wanita tunasusila oleh Rizieq saat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat.

“Ada lonxx hina habib [..] saya gak marah, cuma ada umat yang marah. Ngancam mau kepung,” kata Rizieq, Ahad (15/11/2020) dini hari.

Rentetan ancaman tak berhenti. Forum Masyarakat Pecinta Ulama (FMPU) DKI Jakarta melaporkan Nikita ke polisi terkait dugaan tindakan asusila, Senin (16/11/2020). Namun, petugas Polda Metro Jaya belum memprosesnya karena tak cukup bukti.


Diimbau Berbahasa Santun

Terkait ucapan Rizieq yang vulgar, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi meminta agar ke depan tak lagi terjadi.

“Seharusnya setiap tokoh masyarakat memberikan contoh yang baik kepada pengikutnya dalam ucapan maupun tindakannya,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (16/11/2020).

Ia menilai, bila ada ulama yang mengklaim punya garis keturunan dari Nabi Muhammad seharusnya memberikan teladan kepada masyarakat.

Ia mencontohkan akhlak Nabi Muhammad yang selalu menghormati dan memuliakan orang lain meski beda keyakinan. Orang tersebut bahkan menghina, merendahkan dan memusuhinya.

“Kami mengajak semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk tidak saling menghujat dan saling mencela karena hal tersebut bukan akhlak Nabi Muhammad,” imbuhnya.

Ia meminta kepada semua pendakwah dan tokoh agama agar dalam menyampaikan pesan-pesan agama dengan menggunakan bahasa yang santun, akhlak yang baik dan tidak melanggar norma hukum dan susila.

“Mari kita saling mengingatkan atau berwasiat baik dalam hal kebenaran maupun kesabaran demi menjaga ukhuwah atau persaudaran, baik persaudaraan keislaman maupun kebangsaan,” ungkapnya.


Perang Kata Tidak Mendidik

Nikita Mirzani justru mendapat dukungan dari masyarakat atas protesnya. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyesalkan ujaran kebencian kepada perempuan di ruang publik.

“Kata-kata yang dipertontonkan Maher sangat tidak pantas disampaikan kepada perempuan mana pun, termasuk kepada Nikita. Nikita seorang perempuan, seorang ibu. Bayangkan perasaaan anak dan keluarganya ketika dihina seperti itu,” kata Wakil Sekjen DPP PSI, Danik Eka Rahmaningtiyas.

PSI juga berharap agar peristiwa ini membuka mata kita, terutama pemerintah, agar lebih serius mengkampanyekan penggunaan media sosial secara baik dan bernorma.

"Terus terang apa yang dipertontonkan kepada publik beberapa hari terakhir sangat memprihatinkan. Banyak caci-maki bertebaran, tidak edukatif dan jauh dari nilai-nilai keindonesiaan," ungkap Danik.

Rizieq Shihab akhirnya kembali ke tanah air pada 10 November lalu, setelah lebih dari tiga tahun berada di Arab Saudi. Kedatangan Rizieq memicu terjadinya pengumpulan massa di Bandara Soekarno Hatta. Pengumpulan massa kembali terjadi saat perayaan Maulid di Tebet yang dihadiri Rizieq dan pernikahan putri Rizieq Shihab. Pengumpulan massa itu seluruhnya melanggar protokol kesehatan, sebagaimana tertuang dalam Mengacu Peraturan Gubernur DKI Jakarta 101/2020.

Pengumpulan massa tanpa penindakan oleh aparat ini memicu protes dari berbagai kalangan. Senin (16/11/2020), pemerintah akhirnya serius menyikapi pelanggaran protokol kesehatan di tengah kasus Corona yang masih tinggi.

Presiden Jokowi menegaskan pemerintah tidak akan bernegosiasi dalam penegakan protokol kesehatan. Jokowi pun meminta Kapolri, Panglima TNI, dan Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 untuk menindak secara tegas apabila ada pihak-pihak yang melanggar pembatasan-pembatasan yang sebelumnya telah ditetapkan.

"Jadi jangan hanya sekadar imbauan, tapi harus diikuti dengan pengawasan dan penegakan aturan secara konkret di lapangan," kata Jokowi Senin (16/11/2020).

Sebagai bentuk sanksi, sejumlah perwira tinggi kepolisian dicopot dari jabatannya karena membiarkan pelanggaran. Di antaranya Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Suja dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi.

Baca juga artikel terkait POLEMIK NIKITA VS RIZIEQ atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Rio Apinino
DarkLight