Pemilu Nigeria

Peter Obi, Om-Om Capres Pilihan Kawula Muda Nigeria

Penulis: Sekar Kinasih, tirto.id - 24 Jan 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Peter Obi (61) dari Partai Buruh menjadi kandidat presiden paling dijagokan oleh kaum muda Nigeria karena proposal kebijakannya dipandang paling progresif.
tirto.id - Artikel sebelumnya: Didominasi Kaum Muda, Dipimpin Orang Tua, Nigeria Namanya


Rakyat Nigeria sebentar lagi akan mengucap salam perpisahan pada Muhammadu Buhari, presiden dua periode berusia 81 yang sudah dilarang nyapres lagi. Politikus yang sama-sama uzur berlomba-lomba ingin jadi pengganti. Mereka adalah Bola Tinubu (70 tahun) dan Atiku Abubakar (76 tahun). Masing-masing disokong oleh All Progressives Congress dan Peoples Democratic Party, dua partai dominan sejak pemilihan umum demokratis berlangsung pada 1999.

Kandidat kakek-kakek di atas tampaknya kurang dilirik oleh kaum muda (18-34 tahun). Mereka, yang jumlahnya mencakup 75 persen dari pemilih terdaftar, punya idola lain.

Pemimpin idaman kaum muda jatuh pada kandidat ketiga, Peter Obi, pengusaha berusia 61 yang pernah jadi gubernur di negara bagian Anambra yang disokong oleh Partai Buruh (sebelumnya Peoples Democratic Party). Sampai sebulan menjelang pemilihan, nama Obi konsisten bertengger di urutan pertama dalam berbagai survei.

Kehadiran dan popularitas Obi cukup mengejutkan lanskap pemilu Nigeria karena selama ini terbiasa menampilkan politikus-politikus dari dua partai utama saja.

Apa sebabnya?


Idola Kaum Muda

Berbeda dari Tinubu dan Abubakar yang punya riwayat korupsi, Obi masih relatif bersih. Sampai saat ini, baru staf kampanyenya yang terjerat kasus tersebut. Paling-paling isu yang dipakai untuk memojokkannya adalah menolak melaporkan harta kekayaan di luar negeri atau mendiamkan tudingan bahwa namanya pernah muncul di Pandora Papers, dokumen berisi nama-nama orang kaya yang menghindar membayar pajak.

Obi tahu bahwa dia berpotensi dipilih anak-anak muda. Itu tercermin dari bahasa kampanye seperti “tiba saatnya untuk merebut kembali negara kita!” atau anggapannya bahwa Pemilu 2023 adalah kontestasi “orang tua dan kaum muda”. Manifestonya juga terdengar menggugah telinga anak muda, seperti: menggeser ketergantungan negara pada sumber daya minyak dengan ekonomi digital dan meningkatkan produktivitas kaum muda dalam proyek besar yang disebutnya menyerupai Marshall Plan, semacam program keahlian teknis dan vokasional termasuk kewirausahaan sampai pemrograman komputer.

Selain itu, janjinya untuk membuka lapangan kerja, salah satunya merekrut lebih banyak anak muda di sektor keamanan negara, terdengar meyakinkan.


Dukungan untuk Obi terutama datang dari kaum muda usia 30-an di kawasan urban yang relatif melek teknologi dan aktif menggunakan media sosial. Mereka biasa disebut “Generasi Kepala Kelapa” karena berkemauan keras dan gencar menentang politikus senior yang dianggap berpikiran kolot.

Pengikut setia Obi yang dijuluki Obidients ini dilaporkan sering melakukan perundungan di media sosial pada netizen yang tidak mendukung junjungannya.

Di samping gencar mencari donasi untuk membantu kampanye Obi, baru-baru ini mereka meluncurkan aplikasi canggih di telepon pintar untuk memobilisasi Obidients di level akar rumput agar semakin mudah menjalin komunikasi dan koordinasi menjelang pemilu.

Di sisi lain, oposisi menuding Obi sebagai simpatisan gerakan kemerdekaan yang ingin lepas dari Nigeria, Biafra, karena basis pendukungnya meliputi Indigenous People of Biafra (IPOB). Organisasi ini dikategorikan sebagai grup teroris oleh pemerintah Nigeria sejak 2017, status yang juga disematkan untuk Boko Haram dan ISWAP (Islamic State's West Africa Province).

Bisa dipahami kenapa Obi tampak merangkul beragam jenis pemilih suara. Sebabnya, sebagai seorang kristiani dari suku Igbo yang banyak mendiami kawasan selatan, dia sadar bakal kesulitan mendulang suara dari masyarakat mayoritas muslim dari etnis Hausa dan Fulani di sisi utara—yang selama ini dipandang sebagai kunci penentu kemenangan setiap presiden.


Gerakan #endSars

Pendukung Obi citranya lekat dengan kaum muda yang gencar menuntut perubahan. Sebagian pengikut Obi merupakan mesin di balik gerakan sosial yang meletus pada Oktober 2020 silam untuk memprotes kekerasan polisi. Aksi mereka, yang beririsan dengan gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat, kelak membesar jadi protes terhadap bobroknya pemerintahan sampai korupsi dan nepotisme di lingkaran pejabat.

Para anak-anak muda ini terutama gusar terhadap kebrutalan Special Anti-Robbery Squad (SARS), unit polisi khusus untuk kejahatan perampokan bersenjata dan penculikan. Anak muda kerap jadi sasaran. Mereka ditangkap malam-malam hanya karena dianggap berpakaian tidak senonoh atau dicurigai sebagai penjahat sebab bertindik, berambut gimbal, atau membawa barang elektronik yang terlihat mewah.

Sedininya pada 2016, Amnesty International sudah merilis laporan tentang penyiksaan oleh SARS terhadap warga yang ditahan secara ilegal. Mereka dipukuli, digantung, dibuat kelaparan, kakinya ditembak, bahkan diancam bakal dieksekusi sampai akhirnya diperas membayar mahal agar bisa bebas.

Aktivisme untuk menyerukan pembubaran SARS, atau merestrukturisasinya, mulai digaungkan sejak 2017 di Twitter dengan tagar #endSars.

Tiga tahun kemudian, jutaan kicauan bertagar sama kembali menyeruak di lini masa seiring ribuan demonstran yang didominasi anak muda turun ke jalanan melakukan protes damai. Itu terjadi setelah beredar video dugaan pembunuhan pemuda sipil oleh SARS. Mereka menggalang donasi sendiri, termasuk memanfaatkan bitcoin seperti dilakukan organisasi Feminist Coalitions, untuk membiayai logistik para demonstran.

Berbagai cara dilakukan otoritas untuk meredam protes, termasuk memblokir Twitter. Seiring itu aparat menyemprotkan gas air mata bahkan tentara dilaporkan melepaskan tembakan ke arah demonstran. Setidaknya 12 orang terbunuh dalam aksi massa selama dua minggu yang disebut-sebut sebagai Arab Spring-nya Nigeria tersebut.

Pemerintah akhirnya membubarkan SARS dan mengerahkan investigasi terhadap aparat yang melakukan kekerasan. Namun bukan berarti setelah itu kebrutalan polisi lenyap. Masih ada laporan tentang perlakuan semena-mena aparat.

Kendati demikian, aktivis #endSars percaya bahwa aksi mereka sudah membuktikan bahwa kaum muda mampu membawa perubahan, atau meminjam kutipan aktivis hak perempuan Chioma Agwuegbo dari BBC tahun 2021 silam: “merebut kembali negara.” Agwuegbo percaya, meskipun masih banyak yang perlu dipersiapkan, kelak kaum mudalah yang akan berperan besar pada Pemilu 2023.


Infografik Peter Obi
Infografik Peter Obi. tirto.id/Quita


Masih Ada Tantangan

Tidak semua pihak optimistis dengan kontribusi yang sudah diupayakan oleh kaum muda Nigeria.

Vladimir Kreck dalam artikel di situs yayasan politik Konrad-Adenauer-Stiftung memaparkan, gerakan #endSars terbatas pada segelintir anak muda yang berpendidikan dan melek teknologi di kota besar seperti Lagos dan ibu kota Abjua. Gerakan #endSars juga berlangsung secara terbatas di bagian selatan, yang mayoritas dihuni oleh warga Kristen.

Kreck menambahkan, “Kaum muda di Nigeria juga terlalu terpecah-belah secara etnis, agama, dan sosial.” Seperti Indonesia, Nigeria juga memiliki banyak etnis—lebih dari 250—yang gesekan sosialnya tinggi. Belum lagi masih kuatnya permusuhan antara muslim dan kristiani, dua mayoritas yang masing-masing mendominasi sisi utara dan selatan.

Pendek kata, bukan perkara mudah bagi kaum muda untuk menggerakkan massa secara kompak di penjuru negeri.

Tantangan pun muncul dari sisi kandidat yang diusung, Peter Obi. Betapa besar pekerjaan rumahnya kelak jika terpilih. Salah satunya tidak lain meningkatkan taraf hidup mayoritas pendukungnya yang masih kesulitan mengakses pendidikan dan berjibaku melawan kemiskinan.

Dilansir dari artikel karya Akanni Akinyemi dan Jacob Mobolaji di The Conversation yang terbit tahun lalu, Bank Dunia menyebut bahwa 40 persen penduduk, sekitar 95 juta jiwa, hidup di bawah garis kemiskinan dengan biaya sehari-hari kurang dari 1,9 dolar AS atau Rp30 ribu. Angka pengangguran menembus 33 persen—terutama di kalangan muda. Kualitas kesehatan pun memprihatinkan. Usia harapan hidup penduduk adalah 54—termasuk yang terendah di dunia.

Angka kesuburan perempuan yang tinggi juga perlu perhatian khusus (satu perempuan rata-rata melahirkan lima anak). Kesuburan ini cukup tinggi di kalangan muda (terdapat 20 ibu remaja dari setiap 100 remaja perempuan). Situasi ini dipandang meningkatkan risiko kematian ibu akibat komplikasi melahirkan, membatasi aktivitas perempuan untuk bekerja di luar rumah, sampai mendorong kemiskinan antargenerasi.

Akinyemi dan Mobolaji menegaskan bahwa pemerintah perlu mengimbangi pesatnya pertumbuhan penduduk dengan kemakmuran. Caranya tak lain dengan memberdayakan kaum muda melalui investasi di infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan.

Baca juga artikel terkait NIGERIA atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Politik)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Rio Apinino

DarkLight