Perubahan "Wajah" Anies: Dari Konservatif Jadi Moderat

Reporter: Riyan Setiawan, tirto.id - 22 Nov 2023 11:08 WIB | Diperbarui 1 Des 2023 01:44 WIB
Dibaca Normal 10 menit
Pada Pilpres 2024 ini, Anies memang seperti menunjukkan "wajah" berbeda dibandingkan saat maju calon gubernur DKI Jakarta 2017 silam.
tirto.id - Anies Baswedan beringsut saat dipecut pakai pelintiran sarung Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Tentu itu hanya candaan. Namun videonya viral, membetot publik menjelang akhir Oktober kemarin. Alih-alih marah, calon presiden nomor urut satu itu justru tergelak saat dikerjai calon wakil presidennya.

Pada Pemilihan Presiden 2024 ini, Anies memang seperti menunjukkan "wajah" berbeda dibandingkan saat maju calon gubernur DKI Jakarta 2017 silam. Kini Ia bisa dibilang lebih nyantri. Blusukan ke pondok pesantren, sowan ke kiai-kiai, nyarkub (Istilah para Nahdliyin untuk menyebut orang yang gemar ziarah makam), termasuk membuat video kocak tutorial memakai sarung bareng Muhaimin saat momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2023.

Apa yang terjadi dengan Anies? Menurut peneliti politik Islam dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo, Anies memang menampilkan wajah berbeda pada pilpres ini. Ia nampak ingin menggaet suara kalangan Islam moderat. Strategi ini jelas berbeda saat maju di pilgub lalu. Saat itu Anies lebih condong bersama kelompok Islam konservatif.

"Iya benar. Dengan menggandeng Cak Imin, strategi politik Anies berubah atau bertambah, yang sebelumnya menggaet kelompok Islam konservatif, kini menjadi kelompok Islam moderat," kata Wasisto yang juga penulis buku Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia itu kepada Tirto, Rabu (8/11/2023).

Bisa jadi, perubahan gaya politik Anies ini juga berkaitan dengan posisi calon wakil presidennya yang merupakan ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Cak Imin sangat merepresentasikan kultur Nahdiliyin yang dikenal berhaluan Islam moderat.

Di sisi lain, partai utama yang mendukung dan menyorongkan nama Anies pertama kali merupakan Partai Nasdem yang berhaluan nasionalis. Meskipun di koalisi sama ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berideologi Islam dan dicitrakan berhaluan konservatif, namun belakangan PKS juga berubah. Partai ini kini lebih banyak mendorong isu-isu populis dan berusaha diterima oleh kalangan Islam moderat.

Sejauh ini, suara pemilih berbasis Islam memang selalu menjadi rebutan dan menjadi tolak ukur potensi kemenangan. Ini karena secara demografi penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam. Data The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) mencatat, populasi muslim Indonesia mencapai 240,62 juta jiwa pada 2023. Jumlah ini setara 86,7% dari populasi nasional yang totalnya 277,53 juta jiwa.

Sementara Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang telah dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum pada Pemilu 2024 nanti mencapai 204.807.222 pemilih. Dengan jumlah sebesar itu, bisa dibilang dalam DPT nanti profil pemilih pun mayoritas pasti orang Islam. Inilah kenapa banyak survei yang kemudian meneliti arah dukungan muslimin-muslimat kepada tiga kandidat capres dan cawapres tersebut.

Lembaga Survei Nasional (LSN) misalnya. Pada Juni 2023 lembaga itu merilis hasil risetnya, yakni sebanyak 99,1% responden beragama Islam mendukung Anies, sementara dukungan non-Islam hanya 0,9%. Lalu Ganjar meraih dukungan sebanyak 84,9% responden beragama Islam dan 15,1% dukungan dari non-Islam. Adapun Prabowo didukung 87,8% reponden beragama Islam dan 12,2% dari non-Islam.

Hasil survei mirip dirilis Lingkar Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Survei pada 19 September lalu itu bahkan memprediksi kalau banyak suara pemilih partai-partai Islam bakal ke Anies pada pilpres nanti. Basis prediksi LSI ini didasarkan pada hasil survei terhadap responden dari kalangan pemilih partai Islam (PKB, PKS, PAN dan PPP). Hasilnya sebesar 37,1% responden memilih Anies. Sedangkan Prabowo Subianto 28,3% dan Ganjar Pranowo sekitar 28,1%.

Lalu bagaimana dengan responden berdasar organisasi keagamaan, Muhammadiyah dan NU? LSI Denny JA mengungkap hasil survei berbeda. Suara pemilih dari Muhammadiyah masih banyak yang ke Anies, mencapai 45,2%. Sedangkan kepada Prabowo sebanyak 20,8% dan 33% memilih Ganjar.

Sedangkan pemilih dari kalangan NU berbeda. Meskipun menggandeng Cak Imin, Anies hanya memperoleh 17,0% suara Nahdliyin. Prabowo 36,2% dan 35,5% memilih Ganjar.

BACA JUGA: Anies & Cak Imin Janjikan Kursi Menteri untuk Muhammadiyah

Survei Poltracking juga agak bertolak belakang. Responden muslim tertinggi ternyata tetap ke Prabowo yaitu 40,2%. Sementara suara Ganjar sebesar 29% dan Anies 25,5%. Ini agak mirip dengan riset Indikator Politik periode 16 - 20 Oktober 2023, di mana pemilih muslim masih banyak yang ke Prabowo sebesar 38%. Sedangkan Ganjar 31,4%, lalu Anies hanya 24,8%.

Balik lagi soal "wajah" Anies. Bisa dibilang perubahan taktik Anies yang lebih moderat tersebut memang untuk mencari legitimasi simbolik demi menggaet suara kalangan Nahdliyin. Caranya, kata Wasisto, dengan berkunjung ke pesantren-pesantren, sowan ke kiai-kiai, termasuk ziarah kubur.

"Itu kan untuk mencari legitimasi simbolik ya. Pak Anies sendiri ingin menunjukkan kalau Ia juga seorang santri gitu loh sebenernya ya. Itu yang bisa kita tangkap sebenarnya," katanya.

Pada Pilgub DKI lalu, menurut Wasisto, Anies lebih mengedepankan sisi religiusitas yang disesuaikan dengan komposisi tim pemenangannya. "Nah kalau yang kita lihat sekarang itu agak beda. Artinya yang kita lihat dengan pas adanya Cak Imin di kubu Anies dan tim pemenangannya banyak kubu keberagaman," Wasisto menambahkan.

Peneliti dari Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI Aryojati Ardipandanto, sempat menuliskan jurnal yang menganalisis Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017: Strategi Politik Kandidat. Dalam jurnal tersebut, Ia menyebut kalau strategi bernuansa SARA diterapkan secara compultion, di mana masyarakat Jakarta, khususnya yang beragama Islam, “dikondisikan” untuk “tidak memiliki pilihan lain” selain calon pemimpin yang satu agama atau satu iman dengan mereka.

Secara tidak langsung, pengkondisian itu kentara dalam imbauan-imbauan yang dikaitkan dengan ancaman dosa bagi umat Islam yang tidak memilih pemimpin satu aqidah dengan mereka: "Itu merupakan salah satu teknik coercive juga, walaupun seringkali tidak disadari, atau dengan kata lain. Metode penyampaian pesan politik ini adalah merupakan strategi politik coercive secara eksplisit."

Kelompok Islam konservatif seperti Persaudaraan Alumni (PA) 212, Front Pembela Islam (FPI), hingga Ormas Islam lainnya memang berada di belakang Anies waktu itu. Gerakan kelompok ini menguat ketika kompetitornya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terpeleset lidah dalam kasus Surat Al-Maidah. Kasus yang dilabeli penistaan agama itu bahkan sampai menyeret Ahok ke penjara.

BACA JUGA: Citra 'Gemoy' Prabowo, Bongbong Marcos & Politik Amnesia

Dukungan kelompok konservatif pada waktu itu bahkan disinyalir mampu meng-upgrade perolehan suara Anies, dan men-downgrade perolehan suara Ahok-Djarot. Saat itu Anies memenangi pilkada dengan perolehan 57,96% suara, membenamkan pasangan incumbent Ahok-Djarot yang memperoleh suara 42,04%.

Infografik Expose Perubahan Taktik Politik Anies
Infografik Expose Perubahan Taktik Politik Anies. tirto.id/Parkodi


Merebut hati Nahdliyin

Tim pemenangan Anies memang melakukan rupa-rupa strategi untuk menggaet suara kalangan Islam Moderat, terutama warga Nahdliyin. Salah satunya dengan menggaet Cak Imin sebagai cawapres yang diharapkan bisa menambal lubang kelemahan Anies tersebut.

Anies juga memberi ruang bagi Muhaimin berbicara lebih banyak untuk menarik dukungan warga NU yang menjadi basis suara PKB. Dalam beberapa kesempatan, Cak Imin bahkan sampai memastikan kantong suara NU aman. Di Jatim misalnya, Ia tidak merisaukan kompetitornya, Mahfud MD, yang berpasangan dengan Ganjar Pranowo.

Ia yakin bakal menang di kantong suara Nahdliyin itu. "Optimisnya (Pilpres) satu putaran. Kalau empirisnya, tiga calon biasanya dua putaran. Tapi kita tahu apa yang terjadi, gejolak pemilih ini kan fluktuatif," kata Cak Imin, seperti dikutip dari Antara, akhir Oktober 2023 lalu.

Sekretaris Jenderal DPP PKB Hasanuddin Wahid seirama dengan bosnya. Ia juga tak kalah optimis kalau suara warga NU bakal mengalir ke Anies-Muhaimin. "Saya pastikan PKB dengan Gus Muhaimin lebih banyak berbuat untuk warga Nahdliyin baik untuk kesejahteraannya, untuk memperjuangkan hak-hak mereka, atau aspirasi," kata dia.

BACA JUGA: Anies akan Setarakan Sekolah Swasta & Negeri jika Menang Pilpres

Anies-Muhaimin boleh optimis. Namun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sudah menegaskan posisi organisasi netral dalam pemilu nanti. Ini seperti disampaikan salah satu Ketua PBNU Savic Ali. Namun Ia menegaskan kewajaran bila Anies-Imin mengklaim didukung warga NU. Sebab PKB dalam sejarahnya memang lahir dari rahim PBNU.

Namun, Savic menegaskan PBNU secara organisasi tidak memihak ke parta politik atau kandidat mana pun pada pemilu ini. Termasuk kepada Cak Imin atau PKB yang lahir dari PBNU. Termasuk kepada capres lain, sebut saja Ganjar Pranowo, Prabowo, atau bahkan Mahfud MD yang juga dikenal sebagai tokoh Madura dan dianggap merepresentasikan NU mengingat kedekatannya dengan Gus Dur.

Mantan Pemimpin Redaksi NU Online ini menegaskan jika terdapat pihak yang mengatasnamakan organisasi NU mendukung salah satu paslon atau partai politik, maka organisasi akan memberikan sanksi kepada mereka. Misalnya seperti PCNU Banyuwangi-Sidoarjo yang dipanggil dan ditegur oleh PBNU karena mendeklarasikan dukungan kepada Cak Imin pada Februari 2022 lalu.

Bahkan baru-baru ini juga ratusan warga NU membentuk Musyawarah Warga (Musra) NU Mojokerto dan mendeklarasikan dukungan kepada Cak Imin. "Itu yang ditegur, Karena pengurus PCNU kan menggunakan kantor PCNU, nah itu yang tidak boleh," kata Savic kepada Tirto Senin (13/11/2023).

Ia juga membantah anggapan kalau PBNU mengganjal PKB ataupun Muhaimin dalam Pemilu 2024. "Itu kan reaksi karena PKB mengklaim NU. NU enggak bisa diklaim oleh siapa pun, enggak bisa diklaim oleh partai mana pun," ujarnya.

Beda gaya politik Anies

Medan perang beda, taktik harus berbeda pula. Bagaimanapun, pilpres dan pilgub tidaklah sama. Hal itu diamini Wasisto, peneliti BRIN. Tim pemenangan Anies jelas sudah menangkap hal itu sehingga tidak mungkin menggunakan strategi sama.

Anies tidak akan menggunakan taktik politik identitas lagi seperti pada Pilgub DKI lalu. Dan andai kata bakal kembali digunakan, kemungkinan pendekatan isu dan eskalasinya bakal berbeda. Namun Ia cenderung menyarankan agar model taktik politik indetitas itu dihindari dalam pilpres ini.

"Saya pikir hal demikian (politik identas) idealnya dihindari karena itu bisa berpotensi menjadi bumerang politik. Terlebih lagi ada trauma publik soal politisasi identitas pada pemilu-pemilu sebelumnya," tuturnya.

Menurut Wasisto, saat ini Anies lebih condong menampilkan citra sebagai sosok yang visioner dengan mengedepankan narasi perubahan. "Inilah yang menurut saya agak menjadi pembeda dengan yang dulu. Kalau dulu itu narasi polarisasi (Agama) kan terasa ya," tuturnya.

BACA JUGA: Jadwal Lengkap Debat Capres-Cawapres Mulai 1 Desember 2023

Selanjutnya, Wasisto melihat pada pilpres tahun ini Anies mengedepankan dirinya sebagai seorang teknokrat. Misalnya dengan mengangkat isu-isu tentang perkotaan, kesetaraan, pemerataan. "Itu kan aslinya seorang teknokrat ya kalau kita lihat dalam kebijakan publik, pertanian," ujarnya.

Wasis juga melihat ada perbedaan dengan cara Anies mengkritik kebijakan Pemerintahan Joko Widodo, terutama ketika dianalisis dalam rentang waktu ketika masih menjabat sebagai calon gubernur, menjadi gubernur, menjadi bakal calon presiden, dan ketika sudah ditetapkan sebagai calon presiden.

Pada pilgub lalu, Anies lebih menyampaikan sekadar hal-hal yang konseptual. Misalnya ketika Anies mengkritisi program normalisasi untuk menangani banjir. Namun, program tersebut harus menggusur permukiman warga di pinggir kali untuk melakukan pelebaran kali.

Anies lebih mendorong konsep berbeda, misalnya bagaimana menangani banjir dengan program naturalisasi. Pada program tersebut, Anies membuat sumur resapan untuk menampung air hujan dan tanpa menggusur permukiman warga. Sumur resapan bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air warga. Meski pada akhirnya kebijakan naturalisasi tidak berjalan efektif dan dikritisi oleh pemerintah pusat.

Namun pada pilpres sekarang, Anies seolah ingin menyambungkan narasi perubahan dengan cara mengoreksi kebijakan pemerintahan Jokowi. "Artinya, dia (Anies) itu ingin memasukkan perubahannya dengan mengkritisi kebijakan yang berjalan sekarang ini," tuturnya.

Berikutnya, Anies juga saat ini mulai menggunakan gaya komunikasi yang membumi atau merangkul semua kalangan. Ia mencoba menangkap pandangan atau gagasan dari berbagai kalangan: mulai dari orang awam sampai intelektual. Misalnya saja ketika Anies mengunjungi forum-forum diskusi. Ia mencoba tampil dengan wajah intelektual, visioner, dan teknokrat.

Berbeda ketika melakukan kampanye ke masyarakat awam. Wajah Anies lebih sederhana dan terlihat begitu populis. "Memang di sini Anies berusaha untuk bisa meniru cara Obama ya. Obama kan juga menampilkan dua sisi kan, sebagai seorang intelektual, juga seorang pemimpin yang populis kan," katanya.

Sementara itu Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio mengatakan gaya komunikasi Anies pada saat pilgub lalu hanya sebatas wilayah provinsi. Isu-isu yang dijabarkan hanya skala mikro, tidak seluas pilpres yang cakupannya nasional. Karena itu, kata dia, Anies mengubah gayanya lebih lugas, bisa beradaptasi dengan adat istiadat dan budaya di seluruh Indonesia.

"Nah, saat ini lebih banyak mengedepankan contoh-contoh yang pernah dia lakukan di Jakarta, salah satu kata-kata dia bagus menurut saya adalah jawab dengan kata-kata. Pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan dia itu dijawab dengan kenyataan," jelas dia.

Menurut Hendri Satrio, perubahan gaya komunikasi Anies yang dilakukan saat ini cukup diterima oleh masyarakat. Apalagi gaya bahasa Anies yang santun dan retorikanya yang baik.

"Bahasa yang digunakan kalau di masyarakat juga tidak terlalu akademis. Selain itu, memberikan contoh yang mudah dimengerti, seperti apa saja yang sudah dilakukan selama menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta," kata Hendri.

Bagaimana respons Anies? Saat ditanya soal perbedaan strategi tersebut Ia tidak menjawab terang. Ia justru mengatakan kalau semua hal yang dilakukannya bersama calon wakilnya, Muhaimin Iskandar, sudah terangkum dalam visi misi capres dan cawapres.

Ia misalnya, lebih ingin bicara dan berfokus menambah lapangan pekerjaan, sektor kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. "Itu area fokus kita, dan mengembalikan kehidupan bernegara dengan menjunjung tinggi prinsip nilai dan etika," ujarnya saat peluncuran Timnas AMIN di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2023).

Pandangan berbeda justru disampaikan Sekjen PKS Aboe Bakar Al-Habsyi. Ia menilai gaya atau strategi politik Anies dalam pilpres ini tidak jauh berbeda dari pilgub lalu. PKS sendiri juga mendukung Anies saat pilgub. Ia mengatakan, terpenting dalam strategi politik adalah menarik minat pemilih dengan program kerja yang merakyat yang mampu mengubah nasib mereka.

"Berikan bahasa yang benar-benar menyentuh hati mereka. Perubahan ini sebuah niscaya yang diharapkan semua orang," kata Aboe di Kantor KPU RI, Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2023).

Namun Aboe Bakar menjamin tidak akan ada lagi politik identitas yang menyebabkan polarisasi di masyarakat layaknya pesta demokrasi sebelumnya. Sebab saat ini masyarakat sudah mulai sadar bahayanya dan tidak ingin ada lagi pesta demokrasi mencekam.

Ia menegaskan justru menukil ungkapan "Islam Rahmatan Lil Alamin". Ketika kelompok Islam yang menang, agama lainnya akan aman dan dijamin kebebasan beragama hingga tempat ibadah umat lainnya. Ia pun mengimbau kepada umat Islam, terutama pendukung Anies-Imin agar tidak melakukan politik identitas hingga polarisasi agama pada pilpres kali ini.

"Pokoknya dalam situasi demokrasi ini kita harapkan berjalan dengan baik, ini tidak gampang, karena ini euforia pergantian dengan kejadian yang diawali drama," ujarnya.

Perbincangan Anies di Media Sosial

Lembaga analis media sosial Drone Emprit telah merilis perbincangan dan pemberitaan Anies Baswedan, terkait elektabilitas para capres dan cawapres dan penggunaan Jakarta Internasional Stadium (JIS) pada gelaran Piala Dunia U-17 periode 5 sampai 11 November 2023.

Lead Analyst Drone Emprit Rizal Nova Mujahid, mengatakan perbincangan positif tentang Anies di media sosial sebesar 88%. Pemicunya, kata dia, karena amplifikasi dari kelompok-kelompok pro-Anies atau relawannya tentang JIS yang menuai pujian dari Timnas Brasil beberapa waktu lalu.

"Pujian tersebut ramai diamplifikasi mengingat sebelumnya proyek tersebut banyak menuai kontra," kata Rizal kepada Tirto, Jumat (17/11/2023).

Kemudian perbincangan positif juga diisi oleh pemaparan visi-misi dan gagasan Anies dalam beberapa forum yang menuai pujian dari warganet.

Perbincangan negatif diisi oleh komentar warganet yang tak sepakat dengan gagasan Anies terkait dengan isu tertentu, seperti komentar Ernest Prakasa mengenai kesalahan Anies dalam mengidentifikasi masalah perfilman.

"Sementara itu, kelompok kontra Anies masih melayangkan serangan dengan menyebut Anies mempolitisasi isu Palestina di media sosial sebesar 13%," ucapnya.

Selanjutnya, pemberitaan positif Anies di media online diramaikan oleh putusan Mahkamah Konstitusi yang berdampak positif bagi pasangan AMIN dan keunggulan elektabilitasnya di DKI Jakarta sebanyak 64%. Kabar soal Timnas AMIN juga mengisi pemberitaan positif pada periode ini.

"Di sisi lain, elektabilitas AMIN yang kerap terbawah masih mendominasi pemberitaan negatif sebanyak 11%," tuturnya.

BACA JUGA : Ketika Kinerja KPU dan Taji Bawaslu Dipertanyakan di Pemilu 2024

Pada periode ini, lanjut Rizal, popularitas Anies unggul di media online maupun media sosial yaitu sebanyak 175.782 mention. Sementara Ganjar Pranowo 172.800, disusul Prabowo Subianto hanya 90.559 mention.

"Kemudian sentimen negatif terhadap Anies juga cenderung rendah dibandingkan tokoh politik lainnya," imbuhnya.

Rizal mengatakan, dalam periode ini, Cak Imin menjadi tokoh yang paling banyak dibahas dengan 97% sentimen positif. Posisi kedua ditempati oleh Anies dengan 81%. Kemudian diikuti oleh Ganjar miliki 78%.

Adapun tokoh yang banyak dibahas dalam nada negatif adalah Gibran dengan 49% sentimen negatif. Diikuti oleh Mahfud dengan 23% dan Ganjar dengan 14%. Kemudian ia mengatakan tren perbincangan Anies mencapai puncaknya pada 9 November yaitu sebanyak 46.712 mention.

Hal tersebut karena perbincangan Anies yang dipicu oleh amplifikasi gagasan pasangan AMIN untuk memperjuangkan pendidikan yang berkeadilan bagi masyarakat. "Perbincangan tersebut utamanya diamplifikasi oleh loyalis PKB," tuturnya.

Survei Anies-Muhaimin rendah

Berdasarkan hasil riset sejumlah lembaga survei, elektabilitas Anies selalu terendah. Dalam survei terbaru Indo Barometer periode 25-31 Oktober 2023, dari 1.230 responden rupanya elektabilitas Prabowo-Gibran unggul dengan 34,2%. Setelah itu, pasangan Ganjar-Mahfud menyusul dengan 26,2%, kemudian Anies-Muhaimin dengan perolehan 18,3%.

Kemudian Poltracking Indonesia 28 Oktober melakukan survei hingga 3 November 2023, Prabowo-Gibran mendapatkan 40,2% suara. Ganjar-Mahfud menyusul dengan 30,1% suara, kemudian Anies-Muhaimin memperoleh 24,4% suara.

Kemudian Indikator Politik periode 27 Oktober - 1 November 2023 kepada 1.220 responden, Prabowo memperoleh 40,6% suara, Ganjar Pranowo 27,8%, dan Anies Baswedan 23,7%. Lalu survei Charta Politika merilis elektabilitas Ganjar-Mahfud 36,8%, Prabowo-Gibran 34,7%, dan Anies-Muhaimin 24,%.

Terkait rendahnya elektabilitas Anies-Muhaimin ini, Peneliti Charta Politika Indonesia Ardha Ranadireksa menilai terdapat beberapa faktor. Pertama, karena Anies bersama koalisinya merupakan oposisi dari Presiden Jokowi.

Berdasarkan survei Charta Politika periode 2-7 Mei, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin sebesar 79,1% responden. Sehingga kemungkinan, kata dia, banyak dari responden tersebut tidak memilih Anies-Imin. Sementara selebihnya 20,9% suaranya terbagi ketiga paslon.

Kemudian faktor kedua karena Anies selama menjadi gubernur pandai bermain kata-kata ketika merespons kinerjanya yang kurang baik. Lalu, Anies kerap diasosiasikan oleh kelompok kanan garis keras atau Islam Konservatif. "Tapi umumnya biasanya memang kinerjanya atau kurang terbukti kinerjanya sebagai gubernur," ucapnya.

Selain itu ketiga juga karena faktor Cak Imin yang kurang populer. Di antara tiga cawapres, kata Ardha, Cak Imin lah yang paling rendah popularitasnya.

"Ada peningkatan popularitas Cak Imin pas deklarasi dengan Anies. Tapi masyarakat kita masih ragu-ragu setelah AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) hengkang dan masuk Cak Imin, apakah menambah popularitas? Kita belum tahu," ujarnya.

Berbagai hasil survei itu pun direspons Co-captain Timnas AMIN Sudirman Said. Menurut dia mayoritas pemilih Anies-Muhaimin tidak terdeteksi oleh lembaga survei. Oleh karena itu tim pemenangan lebih mengincar pada ceruk suara swing voters, yakni pemilih yang belum menentukan pilihan atau memilih calon lain tetapi belum yakin secara mantap.

"Kelompok ini jumlahnya masih cukup besar dan itu yang bisa mendukung besar," kata Sudirman di Rumah Koalisi Perubahan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Jumat (10/11/2023).

Berdasarkan data Indo Barometer periode 25-31 Oktober 2023 dari 1.230 responden, suara swing voters mencapai 13,4%. Sedangkan survei dari Charta Politika pada 26-31 Oktober 2023, ada 4,3% responden yang menjadi swing voters.

Pakar Komunikasi Politik, Hendri Satrio mengatakan diperlukan strategi khusus untuk mengambil suara swing voters. Sebab, mereka merupakan orang bimbang yang perlu diyakinkan.

Cara menggaet suara swing voters, dengan mengkomunikasikan apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti penanganan harga pangan yang kini kian membumbung tinggi, adanya dugaan nepotisme di Mahkamah Konstitusi, hingga isu genosida yang terjadi di Palestina yang bisa dijadikan momentum oleh Anies.

Dengan visi misi yang diwacanakan itu, Anies harus mampu melakukan gerakan perubahan tersebut. "Kalau Anies mau memimpin gerakan itu secara terbuka, kegelisahan masyarakat secara nyata, pasti bisa dia meraup swing voters," katanya.

Hal itu kemudian direspons oleh Sekjen PKS Aboe Bakar Al-Habsyi. Ia merasa optimis jika Anies-Imin mampu meraup suara dari swing voters, terutama dari kalangan milenial. "Setelah Anies-Imin terlihat visi misinya nampak, akan lari mereka (swing voters) semua," tuturnya.

Baca juga artikel terkait EXPOSE atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Muhammad Taufiq

DarkLight