Persediaan Daging Ayam Terancam Kurang untuk Ramadan & Lebaran 2018

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 15 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Produksi daging ayam hidup saat ini sekitar 50 jutaan ekor per minggu, sedangkan kebutuhan konsumsi pada masa Ramadan bisa naik 20 persen per kapita.
tirto.id - Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) memprediksi ketersediaan daging ayam pada Ramadan dan Lebaran ke depan terancam kurang, karena jumlah produksi lebih rendah dari pada konsumsi.

Ketua Dewan Pembina PPUN, Sigit Prabowo menyatakan produksi daging ayam hidup saat ini sekitar 50 jutaan ekor per minggu, sedangkan kebutuhan konsumsi pada masa Ramadan hingga Lebaran bisa naik 20 persen per kapita.

"Artinya kebutuhan konsumsinya 70 jutaan ekor per minggu. Kalau kebutuhan di angka itu kurang. Sekarang saja sudah terasa saat kondisi normal, harga melejit, apalagi dalam kondisi minggu-minggu Lebaran," kata Sigit kepada Tirto pada Selasa (15/5/2018).

Ia menerangkan, masalah dalam produksi ayam yaitu karena belakangan pertumbuhan ayam mengalami keterlambatan berkisar 3-5 hari. Usia panen ayam yang biasanya sekitar 30 hari, sekarang 35 hari. Selain itu, tingkat kematian ayam tinggi dengan persentase 8-15 persen, bahkan bisa 15-20 persen.

"Kalau pertumbuhan telat pasti gangguan di saluran sistem pencernaan. Kalau gangguan pencernaan pasti dari nutrisi pakan, persoalan dalam penggunaan bahan baku di pabrikan industri pakan. Sekarang kelihatannya pabrikan dapat seadanya, kadar air tinggi yang berisiko toksin yang jika terserap usus si ayam maka timbul penyakit," ungkapnya.

Sementara itu, harga daging ayam menunjukkan kenaikkan dalam beberapa hari ini. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga daging ayam dari Senin (7/5/2018) Rp35 ribu per kilogram (kg). Lalu, pada hari ini naik menjadi Rp36.650 per kg.


Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, menyebutkan harga acuan pembelian di petani Rp18 ribu per kg dan harga acuan penjualan di konsumen Rp32 ribu per kg.

Kemudian, ia menekankan bahwa kenaikkan tersebut lebih karena gangguan produksi, bukan karena kenaikkan harga pakan yang berasal dari impor.

"Harga pakan cuma naik Rp150 per kg. Dengan kenaikkan Rp150 per kg, maka harga pakan saat ini Rp6.950 per kg. Tertinggi di Rp7.000 lah," kata Sigit.

Harga Ayam dan Telur Jelang Ramadan

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendardi mengakui telah terjadi kenaikkan harga 2-3 hari belakangan terhadap komoditas daging ayam dan telur.

"Jadi, memang saya akui daging dan telur naik karena harga pakan naik," ujar Agung dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kementerian Komunikasi dan Informatika Jakarta pada Jumat (11/5/2018).

Harga daging ayam naik sekitar Rp4.000 per kg, dari semula Rp32 ribu per Kg menjadi Rp36 ribu per Kg. Kenaikkan ini dipengaruhi oleh kenaikkan konsentrat pakan ayam ternak sekitar Rp100-500 per Kg, yang masih impor.

"Harga pakan naik karena dolar menguat. Pakan itu bukan seluruhnya, itu hanya konsentratnya naik karena dolar naik," kata dia.

Kendati demikian, Kementerian Pertanian menjamin ketersediaan kebutuhan konsumsi daging selama Ramadan hingga Lebaran. Berdasarkan prognosa ketersediaan, produksi daging ayam 2018 adalah sebesar 3.565.495 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi sebesar 3.047.676 ton.

Sehingga, terjadi neraca surplus sebanyak 517.819 ton. Khusus untuk bulan puasa dan Lebaran yang jatuh pada bulan Mei dan Juni 2018 diperoleh ketersediaan daging ayam sebanyak 626.085 ton dengan kebutuhan konsumsi sebanyak 535.159 ton, sehingga terjadi neraca surplus sebanyak 90.926 ton.


Baca juga artikel terkait HARGA PANGAN atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Dipna Videlia Putsanra