Periksalah, Jangan Sampai Anda Memakai Pembalut Kedaluwarsa

Infografik Kedaluarsa tampon atau pembalut
Ilustrasi pembalut. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 27 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Pembalut, tampon, dan cangkir menstruasi punya batas pakainya, perhatikan sebelum membeli.
tirto.id - Memilih produk saniter yang tepat bagi perempuan termasuk susah-susah-gampang. Salah-salah memilih produk bisa membikin iritasi. Perkara kenyamanan bukan satu-satunya hal penting. Kebersihan juga harus diperhatikan, termasuk tanggal kedaluwarsa produk. Produk saniter termasuk pembalut, tampon, dan cangkir menstruasi ternyata memiliki batas kedaluwarsa.

Produk saniter yang paling banyak dipakai perempuan Indonesia adalah pembalut. Penggunaannya dianggap kerap mengganggu karena mengganjal, sering membikin iritasi, dan tak bisa dipakai saat sedang mengenakan produk fesyen yang ketat atau mini.

Pembalut digemari di Indonesia salah satunya karena mitos keperawanan. Beberapa perempuan masih risih dan takut jika harus memakai produk saniter lain seperti tampon atau cangkir menstruasi. Tampon dan cangkir menstruasi dipakai dengan cara dijejalkan ke dalam vagina. Bedanya, bahan dasar tampon hampir sama dengan pembalut, sementara cangkir menstruasi terbuat dari karet/silikon.

Dalam memilih produk saniter yang tepat, perempuan perlu juga memperhatikan tanggal kedaluwarsa. Laman Cosmopolitan menyebut kedaluwarsa pembalut dan tampon terdapat pada kemasannya, rata-rata lima tahun setelah produk dibuat. Harap diingat bahwa kapas termasuk media yang rentan tercemar bakteri dan jamur.


Tirto kemudian melihat masa kedaluwarsa pembalut yang dijual pasaran. Merek Laurier dan Charm menyertakan tanggal produksi lengkap dengan bulan dan tanggal. Produk-produk ini menyatakan bahwa ia kedaluwarsa setelah tiga tahun sejak tanggal produksi. Merek Softex tidak mencantumkan tanggal produksi, tapi mencetak tanggal kedaluwarsa lengkap dengan bulan dan tahunnya.

Meski bentuk produk tidak berubah setelah kedaluwarsa, jamur dapat bersembunyi dan menyebabkan infeksi. Produk saniter juga tak boleh digunakan ketika sudah terlihat berjamur, berubah warna, dan bau, walaupun belum memasuki kedaluwarsa. Bakteri bisa saja masuk ketika segel produk rusak atau terkoyak.

Brad McKay, seorang dokter dari Australia, menganalogikan masa kedaluwarsa pembalut dan tampon seperti kantong teh. Ketika kantong teh tersimpan selama lima tahun di dalam lemari, bintik-bintik hitam kecil akan muncul pada permukaannya. Bintik-bintik tersebut adalah jamur yang berkembangbiak. Kondisi serupa juga akan terjadi pada pembalut dan tampon.

“Masih ada bakteri yang tak akan bisa dilihat dengan mata telanjang karena bentuknya yang mikroskopis,” jelas mantan presenter acara kesehatan Embarrassing Bodies Down Under ini kepada Mamamia.

Menurut laman Healthline, umur kedaluwarsa produk saniter bisa berkurang ketika bersinggungan dengan produk atau bakteri asing lainnya, misalnya parfum dan debu. Jangan simpan produk saniter di kamar mandi karena bakteri berkembang biak dengan cepat dan mudah di sana. Kontaminasi benda asing pada pembalut dan tampon dapat meningkatkan risiko infeksi vagina atau komplikasi lain.

Produk saniter harus ditempatkan di lemari dengan suhu sejuk, kering, setidaknya berada pada suhu kurang dari 30 derajat celcius, serta dijaga agar kemasannya tetap utuh.

“Dalam cuaca panas atau lembab, masa kedaluwarsa akan lebih cepat dibanding yang tertulis di kemasan,” papar McKay.


Tak berbeda dengan pembalut dan tampon, cangkir menstruasi yang dianggap paling higienis dan tidak berisiko iritasi pun punya batas pakai. Laman WebMD menyebut produk saniter ini bisa bertahan sampai sepuluh tahun lamanya setelah pertama kali dipakai. Jauh lebih panjang masanya ketimbang pembalut dan tampon.



Risiko Kesehatan Produk Saniter Kedaluwarsa

Masih menurut laman Healthline, ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai ketika menggunakan produk saniter kedaluwarsa. Konsumen bisa terkena gejala gatal dan keputihan berlebih. Lazimnya, gejala ini akan membaik ketika pH alami vagina kembali normal, yakni pasca-menstruasi. Namun, jika gejala berlanjut, mereka disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis agar tidak menjadi infeksi.

“Bisa terkena toxic shock syndrome (TSS) karena racun bakteri masuk ke aliran darah, penyakit ini bisa mengancam jiwa dan butuh penanganan medis segera,” demikian ditulis laman tersebut.

Selain gatal dan keputihan, ada ciri-ciri lain yang patut diwaspadai dan dikonsultasikan ke tenaga medis ketika muncul setelah penggunaan produk saniter, yakni demam tinggi, sakit kepala, nyeri, diare, mual, muntah, pusing atau pingsan, kesulitan bernapas, disorientasi, ruam, tekanan darah rendah, kulit terkelupas, kejang, dan kegagalan organ.

Guna meminimalkan risiko gejala tersebut, perempuan perlu melakukan beberapa langkah kebersihan saat menggunakan produk saniter.

Caranya adalah dengan mencuci tangan sebelum pemakaian, menggunakan pembalut atau tampon dengan daya serap rendah, ganti pembalut atau tampon tiap empat jam sekali—cangkir menstruasi tiap 8-12 jam. Jangan gunakan pembalut atau tampon secara berulang dan jangan memakai tampon ketika periode menstruasi telah berakhir.

Terakhir, yang paling penting, selalu perhatikan tanggal kedaluwarsa produk saniter.

Baca juga artikel terkait PEMBALUT atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight