Perempuan Pura-Pura Orgasme dan Pakai Sex Toys Itu Wajar

Ilustrasi Dildo. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 1 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Industri mainan seks berkembang pesat tak cuma menyasar gender tertentu, bahkan konsumen perempuan pun turut menyumbang pertumbuhan pesat pada bisnis ini.
tirto.id - Tak banyak perempuan mau mengakui dan bicara blak-blakan tentang permasalahan seksualnya. Mereka cenderung diam dan pasrah meski tak puas atau malah tak bisa merasakan orgasme ketika berhubungan seksual. Melakukan mastrubasi atau membeli perlengkapan seks bagi laki-laki adalah hal lumrah, tapi bagaimana jika perempuan yang melakukannya?

Yuni Shara adalah salah satu yang berani mengakui bahwa selama ini ia memiliki masalah seksual dan harus mendapatkan penanganan khusus. Ia pernah pergi ke tenaga medis untuk mengobati trauma psikologis yang berakibat sulit orgasme. Pada akhirnya penyanyi dekade 1990-an itu memutuskan membeli alat bantu seks saat berada di Belanda.

“Ya di sana kan tidak ada yang kenal aku,” ungkapnya seolah menegaskan bahwa label perempuan--terlebih artis--sepertinya pantang membeli perlengkapan semacam itu.


Narasi minor terhadap kepuasan seksualitas perempuan tumbuh akibat konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai objek yang “melayani” laki-laki. Seolah-olah perempuan tak memiliki hak atas tubuhnya, tapi menanggung beban tuntutan “kemenangan” laki-laki saat berhubungan seksual. Konstruksi seksual ini tercermin dari pernyataan Deddy Corbuzier saat menimpali Yuni.

“Sebagai laki-laki ketika gue punya pasangan dan berinteraksi seksual maka gue akan berusaha membuat pasangan orgasme terlebih dulu.”

Faktanya, perempuan memang terbukti lebih sulit mencapai orgasme ketimbang laki-laki. Studi berjudul "Variation in orgasm occurrence by sexual orientation in a sample of U.S. singles" yang dimuat di Sex Medicine Journal (2014), misalnya, menyertakan hasil 2.850 sampel dengan kesimpulan tingkat orgasme rata-rata selama aktivitas seksual adalah 62,9 persen perempuan dan 85,1 laki-laki.

Studi lain terbitan Journal of Family Practice (2000) mewawancarai 964 perempuan dengan perawatan ginekologi rutin di Amerika Serikat. Sebanyak 98,8 persen responden melaporkan satu atau lebih masalah seksual. Mereka paling sering mengeluh masalah kurang gairah (87,2 persen), sementara kondisi sulit orgasme menempati urutan kedua teratas dengan perolehan laporan 83,3 persen. Dilanjutkan masalah tidak cukup cairan pelumas di alat reproduksi (74,7 persen), dispareunia (71,7 persen), masalah citra tubuh (68,5 persen), dan kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi (67,2 persen). Laman WebMD merangkum secara general, bahwa sekitar 10 persen perempuan tidak pernah mengalami orgasme, baik dengan pasangan maupun masturbasi.


Pura-Pura Orgasme

“Ya sangat nggak dong, pura-pura. Aku enggak tahu rasanya orgasme, dulu. Itu susahnya setengah mati.”

Masih dalam sesi dialog bersama Deddy Corbuzier. Sebagai perempuan peranakan Jawa, Yuni mengaku tak punya pilihan selain melayani suami di ranjang. Padahal pernikahannya kala itu selalu diwarnai kekerasan yang membuatnya trauma--dan mungkin tertekan saat berhubungan seksual.

Kehidupan seksual perempuan secara umum ditampilkan gamblang oleh Yuni. Kungkungan norma membuat mereka lazim menyembunyikan gangguan seksualnya agar tidak mendapat label ‘durhaka’ atau ‘pembangkang’ dari pasangan. Akibatnya banyak perempuan memalsukan orgasme.

“Mayoritas memalsukan orgasme setidaknya sekali dalam hidup,” demikian simpulan sebuah studi terbitan Inggris Archives of Sexual Behavior (2019).


Peneliti menemukan hubungan antara persepsi gender dengan alasan memalsukan orgasme. Perempuan anti-feminis melaporkan bahwa mereka lebih sering pura-pura orgasme. Semakin tinggi tingkat kepercayaan bahwa perempuan perlu orgasme agar pasangannya puas, maka semakin besar kemungkinan mereka memalsukan orgasme.

“Sebaliknya, mereka yang lebih terbuka hanya sedikit memalsukan orgasme.”

Hal-hal yang mendasari pura-pura orgasme pada perempuan dijabarkan dalam studi bertajuk "Beliefs About Gender Predict Faking Orgasm in Heterosexual Women" yang terbit di Archives of Sexual Behavior (2014). Peneliti menyebutkan ada empat kelompok alasan pura-pura orgasme pada perempuan: menjaga relasi, menghindari pengalaman seksual yang buruk, upaya memicu rangsang pribadi, dan alibi atas disfungsi seksual.



Industri Alat Bantu Seks Perempuan

Sebelum populer seperti sekarang, pada abad ke-19 alat bantu seks dipasarkan sebagai peralatan medis untuk memberikan pijatan relaksasi. Kemudian pada 1903 sebuah perusahaan di Amerika membuat langkah berani dengan merilis iklan alat bantu seks “Hygeia” untuk laki-laki dan perempuan. Bentuknya seperti sabuk listrik dengan getaran.

BBC menyebut inovasi itu pertama kali memperkenalkan vibrator sebagai alat bantu seks. Tapi iklan terbuka itu memicu kontroversi, sebab kala itu Amerika, Inggris, dan beberapa negara lain memiliki undang-undang pelarangan iklan berbau seks. Vibrator dengan model modern mulai muncul di tahun 1950-an dan dijual lebih bebas di tahun 1960-an.

Kini alat bantu seks tak terbatas digunakan laki-laki saja. Bahkan survei di kalangan perempuan Amerika (2017) menunjukkan 65 responden memiliki alat bantu seks. Sementara laporan lain menyebut produk seks yang paling populer di perempuan Asia adalah mainan seks, boneka seks, kondom, pakaian dalam, dan pelumas.

Laporan tersebut memasukkan sepuluh negara di Asia yakni China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, dan Kamboja.

"Perempuan yang menggunakan alat bantu seks juga lebih memperhatikan kesehatan ginekologinya," demikian kesimpulan lain riset produk seks dpada perempuan Asia.


Secara global, industri alat bantu seks diperkirakan tumbuh sebesar USD 9,9 miliar pada 2019-2023 di seluruh dunia. Malah belakangan produsen alat bantu seks tidak memberi label jenis kelamin pada produk agar konsumen bisa mengeksplorasi produk dan mendapat kepuasan seksual.

Perempuan yang menggunakan alat bantu seks tak serta merta bisa diberi label negatif karena secara medis dokter pun merekomendasikan produk ini untuk meningkatkan seksualitas dan terapi disfungsi seksual, misalnya pada anorgasmia atau vaginismus.

Studi terbitan The Journal of Sexual Medicine (2009) mengatakan perempuan menggunakan vibrator dalam tiga skenario: masturbasi, saat berhubungan seksual, dan membantu foreplay. Secara umum menurut Psychology Today, pasangan yang mengeksplorasi cara baru dalam aktivitas seksualnya--termasuk menjajal alat bantu seks juga melaporkan kepuasan hubungan jangka panjang.

Jadi, untuk para perempuan, komunikasikan kebutuhan seksual Anda kepada pasangan dan profesional kesehatan. Tak perlu malu atau ragu mengeksplorasi hal-hal baru bersama pasangan, karena hubungan seksual memang seharusnya dinikmati oleh kedua belah pihak.

Baca juga artikel terkait MASALAH SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight