Penyakit Kelamin di Kalangan Serdadu

Oleh: Petrik Matanasi - 4 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Penyakit kelamin di kalangan militer tak pernah selesai. Meski kehidupan kaum militer setelah Indonesia merdeka lebih tertata, dibanding masa-masa sebelumnya, penyakit kelamin di kalangan militer masih tetap ada.
tirto.id - Sebanyak 1.328 anggota TNI rupanya terjangkit penyakit HIV/AIDS. Hingga tengah tahun 2015, 343 di antaranya sudah meninggal dunia. Begitu menurut Kolonel (Laut) Guntur Wahyudi, Wakil Komandan Lantamal IV/Tanjung Pinang, seperti dilansir dari Antara pada Januari 2016.

Meningkatnya kasus tersebut tentu saja mengkhawatirkan pihak TNI. Menurut Guntur, apabila tidak ditangani secara intensif dan menyeluruh dikhawatirkan berpengaruh terhadap kesiapan TNI dalam melaksanakan tugas operasi militer perang dan selain perang.

"Sebagai instansi pelayanan kesehatan di lingkungan Lantamal IV/Tanjungpinang wajib mengantisipasi permasalahan ini dengan melakukan kegiatan preventif berupa penyebaran informasi tentang HIV/ AIDS, serta pencegahan penularan HIV dan penyakit menular seksual lainnya yang secara paralel juga meningkat jumlah kasusnya," ujarnya.

HIV/AIDS termasuk salah satu penyakit menular seksual (PMS). Penyakit ini memang tidak semuanya disebabkan karena hubungan seksual yang tidak sehat. Ada pula penyebab lain seperti penggunaan jarum suntik bersamaan, transfusi darah, ataupun diturunkan dari ibu kepada janin yang dikandungnya.

PMS di kalangan prajurit sendiri memang bukan hal yang baru. Dulu, sebagian serdadu KNIL adalah langganan PMS. Kala itu, penyakit kelamin yang berjaya adalah sifilis dan infeksi usculmolle.

Sedari zaman kongsi dagang Belanda Vereniging Oost Indische Compagnie (VOC) mulai mengeksploitasi nusantara, perzinahan dan pelacuran adalah masalah besar yang menjadi perhatian para pejabat VOC di Batavia. Setelah VOC bangkrut, masalah penyakit kelamin ternyata belum berubah. Hanya jenis penyakit kelaminnya saja yang berbeda.

Moralis VOC Ketakutan

VOC, yang berkuasa di nusantara, tak sepenuhnya bejat. Ada pejabat-pejabatnya yang cukup moralis. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen, yang menghukum mati anak angkatnya, Sarah Specx, salah satunya. Pedagang-pedagang di kongsi VOC itu berusaha menjaga moralitas masyarakat sebagai orang Belanda kelas atas di Batavia.

Setelah Coen meninggal, 1629, VOC tak kehilangan para moralisnya. VOC sadar akan bahaya perzinahan atau prostitusi dari para pelacur Jepang, Tionghoa dan lainnya. Tahun 1642, VOC, rilis aturan bahwa semua keluarga Kristen dilarang mempekerjakan perempuan pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan juga melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah.

Delapan tahun kemudian, 1650, Antonio van Diemen mendirikan Vrouwen Tuchtuis (panti perbaikan perempuan) untuk merehabilitasi perempuan yang bekerja sebagai pelacur untuk orang-orang Eropa. VOC juga makin keras di abad berikutnya. Pada 1766, VOC melarang para pelacur memasuki area pelabuhan.

Sayangnya VOC yang moralis soal wanita itu ternyata bangkrut karena korupsi pegawainya. Setelah wilayah VOC diserahkan pada kerajaan Bekanda, masalah PMS belum terselesaikan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda melalui Surat Keputusan Nomor 1 tanggal 15 Juli 1852, menganggarkan uang sebesar 20 ribu gulden. Di tahun 1874, keluar Besluit Gubernur Jenderal nomor 14 tanggal 21 Januari 1874, 23 pasal tentang pelacuran. Semua rumah bordil diawasi polisi dan dinas kesehatan. Para pelacur yang kena PMS diwajibkan berobat ke dinas kesehatan.

Akar permasalahannya perzinahan pada zaman itu karena laki-laki dari Eropa yang datang ke Hindia Belanda, tak bisa membawa pasangannya. Sementara itu, ada rasa hina untuk mengawini perempuan pribumi bagi kebanyakan laki-laki Eropa tersebut. Pelacuran dan perzinahan menjadi jalan memecah kesunyian kaum lelaki Belanda.

Di antara laki-laki yang tidak memilih ke tempat prostitusi, belakangan mengambil seorang perempuan pribumi untuk dijadikan Nyai. Perempuan yang tugasnya mengurus rumah tangga di siang hari dan pelepas birahi ketika malam tiba. Di tahun 1890, diperkirakan separuh dari laki-laki Belanda hidup bersama Nyai, yang dicap sebagai selir lokal. Perempuan ini, kebanyakan tak dinikahi, bahkan belakangan bisa dibuang jika si laki-laki Belanda itu sudah dapat perempuan Belanda sebagai istri.


Satu Lubang Rame-rame di Tangsi

Biasanya, pelacur identik dengan para pelaut atau pedagang kaya. Namun, di masa kolonial, pelacuran juga tak pernah jauh dari kaum serdadu kompeni. Termasuk serdadu kompeni, yang populer disebut Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Serdadu rendahan KNIL itulah pelanggan utama tempat pelacuran.

Kehidupan seksual para serdadu sangat berantakan. Tempat pelacuran tanpa izin dari pemerintah tumbuh liar di sekitar tangsi. Kebanyakan serdadu sering ke sana. Di dalam tangsi biasanya ada perempuan juga. Biasanya adalah istri serdadu pribumi, gundik atau nyai para serdadu-serdadu Eropa. Seringkali perempuan-perempuan itu jadi sumber masalah yang tak jauh dari kelamin dan kecemburuan.

“Ratusan prajurit tidur bersama gadis-gadis atau pembantu rumah tangga mereka di tempat tidur, bahkan tidak dipisahkan oleh tirai satu dengan yang lainnya. Tanpa mengindahkan kesopanan mereka bercinta di hadapan para penghuni lain,” ujar mantan perwira KNIL, Roorda van Eysinga, seperti dikutip Frances Goude, dalam Dutch Culture Oversize (2007). Gouda juga mengutip pendapat lain, “berbagi tempat tidur dengan gundik sesungguhnya memperkaya dan meningkatkan kesehatan dan moral serdadu.” Ini dianggap lebih baik ketimbang berganti pasangan.

Berganti pasangan di tangsi bukan hal aneh. Menurut R.P. Soeyono, dalam Seks Kekerasan Pada Zaman Kolonial (2005), ada serdadu yang menjual istrinya, untuk bisa ditiduri semalam suntuk, kepada serdadu lain .

Masalah perempuan tak jarang juga bisa jadi akar adu klewang yang bisa saling melukai antar serdadu. Begitu yang terjadi dalam Perang Aceh, seperti ditulis oleh Zentgraaff dalam bukunya yang terkenal, Atjeh (1938). Seorang Marsose muda pernah membunuh dua bintara Eropa di Takengon. Hanya karena salah satu bintara Eropa itu main gila dengan nyai-nya.

Perempuan-perempuan di sekitar serdadu KNIL bisa jadi akar keributan atau pembunuhan. Namun, para pelacur di sekitar tangsi KNIL adalah pembawa penting dari penyakit kelamin. Termasuk sifilis. Hal ini jadi keprihatinan pemerintah kolonial.

“Para anggota militer yang tertular penyakit kelamin tidak hanya memengaruhi fisiknya saja tetapi juga secara psikis akan mempengaruhi semangat perjuangan. Jumlah penderita penyakit sifilis semakin bertambah besar yaitu pada tahun 1895 adalah 787, sedang penyakit menular kelamin lainnya adalah 9.572,” lapor Panglima KNIL kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 31 Desember 1896.

Tentu pemerintah kolonial pusing, karena ada sekitar 10 ribu lebih serdadu punya masalah di kelamin mereka. Hasil penelitian dinas kesehatan militer di tahun 1900 menyebut, di tahun 1895 terdapat 893 penderita sifilis, 1898 meningkat menjadi 1370 dan di tahun berikutnya, 1899, turun menjadi 1303. Hanya turun 67 angka.



Ditakutkan, para serdadu itu tak bisa bertempur untuk menumpas para pemberontak pribumi. Apalagi Perang Aceh masih berlangsung. Penyakit kelamin pun bisa menimbulkan putus asa. Beberapa serdadu penderita penyakit kelamin bunuh diri.

Menurut Ruitenbech di tahun 1908, pengawasan aparat hukum terhadap pelacuran sangat lemah. Selain itu, kebanyakan pelacur menjual diri secara sembunyi-sembunyi. Ruitenbech sangat mendukung adanya pembantu rumah tangga wanita yang mirip selir alias Nyai. Menurutnya, nyai bisa menekan laju pertumbuhan penyakit kelamin.

Beruntungnya para seradadu KNIL dan juga pelaut militer di Koninklijk Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda) tak dibiarkan mati oleh korps dan pemerintah mereka. Perawatan untuk militer penderita disediakan. Berdasar usulan Direktur urusan Pendidikan, Agama dan Nijverheid tanggal 8 September 1882, Departemen Perang Kolonial, memutuskan para prajurit dan bintara yang kena penyakit kelamin mendapat pelayanan gratis di rumah sakit militer.


Setelah Tangsi Menghilang

Di masa pendudukan Jepang, penyakit kelamin banyak diderita serdadu Jepang dan Jugun Ianfu (perempuan yang dipaksa menjadi pemuas birahi serdadu Jepang). Masalah kelamin belum ditemukan pada PETA, Gyugun dan Heiho, di mana banyak orang Indonesia bergabung di sana.

Setelah Indonesia merdeka dan TNI berdiri tentu saja kehidupan militer lebih beradab. Tak ada lagi tangsi sempit yang tempat tidurnya hanya untuk sang serdadu dan istri, lalu anak-anak mereka harus tidur di kolong. Hingga muncul istilah anak kolong. Meski terkesan seadanya, tangsi militer, yang belakangan di sebut asrama, makin beradab. Meski atapnya sering bocor ketika musim hujan.

Pernikahan menjadi solusi terbaik bagi militer untuk menghindarkan diri dari penyakit kelamin. Sosialisasi bahaya penyakit kelamin, termasuk bahaya HIV AIDS, sering dikumandangkan. Kondom juga lebih mudah didapatkan di masa sekarang. Meski begitu, ada saja anggota TNI yang terkena penyakit kelamin. Kenikmatan memang buruan berharga.

Baca juga artikel terkait PMS atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - )

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight