Pengrajin Kolintang

Pengrajin Sanggar Bapontar mengetam kayu bahan baku kolintang, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Pengrajin mendengarkan "suara" kayu, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Pengrajin Sanggar Bapontar mengukur bilah kayu, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Keterangan nada pada bilah-bilah kolintang setengah jadi, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Pengrajin kolintang memeriksa ketepatan nada dengan alat setem digital, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Pengrajin memeriksa ketepatan nada bilah-bilah kolintang, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Alat setem digital berstandar internasional yang digunakan para pengrajin kolintang Sanggar Bapontar, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Pengrajin memainkan kolintang baru di Sanggar Bapontar, Jakarta, Senin (24/7). tirto.id/Arimacs Wilander
Kolintang merupakan alat musik yang Bahan baku utama ialah kayu yang ringan tetapi bertekstur padat, antara lain kayu telur, bandaran, wenang, dan kakinik.
25 Juli 2017
Bilah-bilah kayu berukuran 30-40 cm berserakan di samping seorang pengrajin yang sedang mengetam kayu. Di sudut, bilah-bilah kayu lain tersusun rapi dalam sebuah rak.

Sanggar Bapontar, yang terletak di kawasan Setia Budi, Jakarta, sudah lama menjadi pusat pembuatan alat musik tradisional kolintang. Ia satu satu dari sedikit pusat kepengrajinan kolintang di ibukota.

Bahan baku utama kolintang ialah kayu yang ringan tetapi bertekstur padat, antara lain kayu telur, bandaran, wenang, dan kakinik.

Proses pembuatan kolintang sepintas kelihatan sederhana. Namun, tahap akhir atau penyelesaiannya menuntut keterampilan istimewa. Hanya para pengrajin yang benar-benar memahami nada dan teliti yang dapat melakukannya.

Kolintang buatan Sanggar Bapontar telah dikenal hingga ke luar Pulau Jawa. Satu set kolintang dijual dengan harga 25 hingga 60 juta rupiah.

Foto dan teks; Arimacs Wilander
Infografik Instagram
DarkLight