Menuju konten utama

Pengamat Nilai Pemantau Asing di Pemilu Sudah Lazim dan Wajar

Pengamat Studi Strategis Indonesia Beni Sukadis menilai keberadaan pemantau asing dalam Pemilu 2019 adalah lazim dan wajar.

Pengamat Nilai Pemantau Asing di Pemilu Sudah Lazim dan Wajar
Pekerja menata surat suara ke dalam kardus saat pengepakan surat suara di gudang Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kudus, Jawa Tengah, Kamis (14/3/2019). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/AWW.

tirto.id - Rencana kubu calon presiden Prabowo mengundang pemantau internasional dalam Pemilu 2019 direspons positif oleh Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia Beni Sukadis.

Beni--yang juga pengamat intelijen dan militer itu--menyatakan pemantauan dunia internasional dalam Pemilu sudah lazim dan wajar dilakukan.

"Saya pikir tidak masalah, selama masih dalam konteks transparansi dan akuntabilitas Pemilu..jadi wajar saja," kata Beni kepada reporter Tirto, Rabu (20/3/2019).

Beni menegaskan, keberadaan pemantau internasional sudah lazim terjadi sejak pelaksanaan Pemilu terbuka dan demokratis di Indonesia. Ia menegaskan, penekanan keberadaan para pemantau internasional bukan berarti merendahkan kemampuan pemantau dalam negeri, tetapi lebih kepada kredibilitas penyelenggaraan Pemilu.

"Artinya Pemilu kita memiliki legitimasi dengan keberadaan pemantau asing tersebut. Kan buat apa dihalangi atau ditutupi," ujar Beni.

Di sisi lain, kata Beni, Indonesia punya peran strategis di dunia internasional. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah. Situasi tersebut membuat peran Indonesia penting di Asia Tenggara sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan Asia Pasifik dan isu global lain.

Selain itu, Beni mengaku mendengar kabar ada upaya curang dalam pelaksanaan Pemilu 2019. Oleh karena itu, wajar kubu Prabowo meminta ada pemantauan asing. Pemerintah tidak perlu khawatir jika memang Pemilu berjalan bersih dan adil.

"Tidak perlu dimasalahkan, itu kayak sudah menjadi hal yang bukan saja penting, kalo tidak mau disebut sebagai sesuatu yang normal saja," kata Beni.

Rencana mengundang pemantau asing dari kubu Prabowo itu disampaikan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Ferdinand Hutahaean saat ditemui wartawan Tirto pada Rabu sore.

Ferdinand menjelaskan pemantauan internasional tidak hanya saat debat keempat saja, tapi seluruh rangkaian Pemilu. Alasannya, kubu Prabowo menduga Pemilu 2019 menunjukkan gejala kecurangan.

"Kita melihat beberapa hari terakhir ini beredar video di media sosial bagaimana oknum polisi melakukan upaya kampanye dan menggiring masyarakat untuk ke Jokowi. Kemudian banyak hal-hal lain yang kemudian tampak Pemilu ini akan jadi sangat curang," kata dia.

Lantaran itu pelibatan pihak-pihak internasional dalam mengawasi dan memantau, hasil dari pemilihan presiden nanti akan lebih memiliki legitimasi kuat.

"Kita tak tahu lagi harus mengadu ke mana, kita adu ke Bawaslu dan polisi tidak tindaklanjuti. Artinya kita harus mengadukan situasi ini ke dunia internasional karena menyangkut legitimasi sebuah Pemilu," kata Ferdinand.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Politik
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Agung DH