Pengakuan Megawati yang Hampir Masuk Partai Golkar

Oleh: Felix Nathaniel - 2 April 2019
Megawati mengaku sempat ditawari untuk masuk ke Partai Golkar.
tirto.id - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri bercerita di depan kader partai soal masa lalunya. Saat itu dia sempat ditawari untuk masuk ke Partai Golkar.

Megawati mengatakan, PDI-P di masa awal tidak digandrungi karena Orde Baru dikuasai oleh Partai Golkar. Dia pun sempat bertanya kepada almarhum suaminya, Taufiq Kiemas.

"Saya sebetulnya juga ditawari masuk Golkar, tapi saya tanya ke teman-teman di Golkar enaknya apa di sana? [...] Saya mikir dan tanya almarhum suami saya," kata Megawati di kantor DPP PDI-P, Menteng, Selasa (2/4/2019).

Saat itu Megawati mengaku ingin pisah partai dengan suaminya. Dia justru merasa tak nyaman bersama-sama di PDI-P. Namun, karena paksaan suaminya dan keberadaan Soekarno, Megawati akhirnya masuk ke partai berlambang banteng tersebut.

"Soalnya dulunya ada PNI di situ yang bikin bapak saya. Nanti saya digepruki bapak saya yang sudah di atas," ucapnya lagi.

Dalam pertemuan ini, Megawati juga memberikan kartu tanda anggota (KTA) ke perwakilan ulama yang datang ke kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta. Mereka berasal dari latar belakang yang bermacam-macam. Ada yang berasal dari pondok pesantren, masjid, dan juga Lembaga Pemikiran Islam Bung Karno.

Mereka yang menerima KTA itu adalah Habib Husein Muhdar Almuhdar, Habib Muhammad Sholeh Al Muhdar, Habib Ali Assegaf mewakili Masyarakat Dialog Antar Agama, KH Zainal Arifin bersama 20 ulama Betawi, dan Habib Salim. Turut hadir juga perwakilan KWI Romo Agustinus Heri Wibowo dan Pendeta Albertus Patty dari PGI.

Selain ulama, ada juga purnawirawan TNI dan akademisi yang mendapat KTA. Pemberian KTA ini dihadiri oleh Ketua DPP PDIP lainnya, Djarot Saeful Hidayat dan Andreas Pareira.


Baca juga artikel terkait MEGAWATI atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Alexander Haryanto