Menuju konten utama

Peneliti Ungkap Penyebab Tingginya Harga Tanah di Yogyakarta

Harga tanah di Yogyakarta terus meroket hingga mencapai Rp25 Juta per meter. Peneliti UGM mengungkapkan penyebab kian tingginya harga tanah di kota wisata itu.

Peneliti Ungkap Penyebab Tingginya Harga Tanah di Yogyakarta
Pekerja mengerjakan proyek penataan pedestrian di kawasan Malioboro, DI Yogyakarta, Kamis (15/9). Untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan, pengerjaan penataan jalur pedestrian sisi timur jalan Malioboro akan rampung pada tahun 2017, dilanjutkan penataan jalur di sisi barat dan ditargetkan seluruhnya selesai pada tahun 2019. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.

tirto.id - Seperti diketahui, harga tanah di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya terus meningkat tajam. Per meter-nya, harga tanah bahkan mencapai angka fantastis dari kisaran Rp1,5 juta hingga mencapai Rp25 juta.

"Pada wilayah pusat kota seperti Malioboro, harga tanah yang ditawarkan sudah mencapai lebih dari Rp25 juta per meter, dan pada wilayah yang lebih pinggir, seperti Kota Gede berkisar Rp1,5 juta per meter," ujar Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwi Ardianta Kurniawan saat ditemui di Yogyakarta, Selasa (13/12/2016).

Akan tetapi, menurut dia, tingginya harga tanah tidak mengurangi minat para pembeli, baik investor perumahan maupun pembeli pribadi. Hal itu terbukti dengan masih maraknya pembangunan fisik di sepanjang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

“Tingginya harga tanah di Yogyakarta yang masih terus bertumbuh, menunjukkan besarnya permintaan akan tanah di kawasan tersebut,” kata Dwi seperti dikutip dari Antara, Rabu (14/12/2016).

Tingginya harga tanah tersebut, menurutnya, disebabkan Yogyakarta dan wilayah sekitarnya merupakan kawasan yang cukup menarik untuk tempat tinggal. Kesan sebagai wilayah yang nyaman dengan usia harapan hidup yang tinggi, menjadikan kawasan Yogyakarta sebagai salah satu pilihan favorit untuk bertempat tinggal.

"Selain faktor kenyamanan, faktor fasilitas hidup, terutama pendidikan, dapat menjadi motivasi lain. Faktor kenangan masa lalu juga dapat menjadi pemicu, ketika banyak dari mereka yang pernah bersekolah di Yogya akhirnya menginginkan anak-anaknya bersekolah juga di kota ini, sekaligus menghabiskan hari tua setelah pensiun nanti," terang Dwi.

Tak hanya itu, Dwi melanjutkan, sebagai akibat dari daya tarik yang tinggi sebagai tempat tinggal, kawasan ini akhirnya menarik juga secara bisnis. Pada kawasan yang nyaman dan rekreatif, bertumbuh industri kuliner besar yang muncul dan hilang silih berganti.

Selain itu, industri jasa sebagai penunjang juga berkembang dengan pesat, seperti jasa laundry, cuci mobil, potong rambut, hiburan dan sebagainya. Di luar itu, industri yang secara tradisional menjadi unggulan seperti pariwisata dan pendidikan juga bertumbuh kian pesat.

Karena itu, kata dia, aktivitas permukiman dan bisnis tersebut meniscayakan adanya tanah sebagai lahan beraktivitas. Hal ini menyebabkan tingginya permintaan akan tanah yang memicu melambungnya harga beli dan sewa tanah. Pada level ini, tanah bukan lagi hanya sebagai faktor produksi, namun sudah merupakan komoditas yang diperdagangkan.

"Maka tidak heran, pertumbuhan harga tanah juga menggila. Mungkin hingga lebih 30 persen per tahun. Hal ini mengindikasikan, tingginya pertumbuhan harga bukan hanya karena permintaan. Namun juga ulah spekulan yang berharap mengambil keuntungan besar dari bisnis tanah," papar dia.

Baca juga artikel terkait HARGA TANAH MAHAL atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Bisnis
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari