2 Juni 1978

Pandji Tisna, Fitnah Pejabat Kolonial Membuatnya Jadi Penulis

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi - 2 Jun 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pandji Tisna bukan penulis dengan lusinan karya, tapi ia mampu membedakan diri dengan para penulis Pujangga Baru segenerasinya.
tirto.id - Dua hari sebelum meninggal pada 2 Juni 1978, Anak Agung Pandji Tisna menerima cetakan kedua novelnya, I Made Widiadi Kembali kepada Tuhan, dari penerbit Satya Wacana. Gerson Poyk melihat novel itu lalu diletakkan bersisian dengan jasadnya saat persemayaman terakhir. Gajah mati meninggalkan gading dan penulis wafat meninggalkan karya. Itulah barangkali maksud yang tersirat.

Pada 1930-an, Pandji Tisna sudah dikenal sebagai novelis kesohor angkatan Pujangga Baru. Novel-novelnya yang terkenal dan dibaca banyak orang di antaranya adalah Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935), Sukreni Gadis Bali (1936), dan I Swasta Setahun di Bedahulu (1938). Ia juga menulis puisi dan artikel budaya untuk majalah Djatajoe (Singaraja), Poedjangga Baroe (Batavia), dan Terang Boelan (Surabaya).

Bagi Gerson, mengingat Pandji Tisna seperti mengingat Leo Tolstoy. “Tolstoi mengarang di tengah-tengah tanah pertaniannya. Anak Agung Panji Tisna telah memilih mengarang di tanah pertaniannya yang indah,” tulisnya dalam “In Memoriam Anak Agung Panji Tisna” yang tayang di Kompas (9/6/1978).

Tetapi, bukan itu yang membuatnya istimewa. Ia adalah anak ketiga Anak Agung Putu Djelantik, raja kesepuluh dinasti Kerajaan Buleleng. Karenanya, urusan finansial tentu bukan persoalan. Tetapi, lebih dari sekadar anak raja yang mahir menulis, yang membuat Pandji Tisna layak dikenang adalah jalan hidup dan proses kreatifnya.

Gerson menulis bahwa dalam 70 tahun hidupnya, “Almarhum telah membuat sebuah gambaran yang cukup unik tentang perkembangan suatu kepribadian. Ini nampak dalam kehidupan pribadi maupun karya-karyanya.”


Pencarian Menuju Dunia Kepenulisan

Pandji Tisna tak pernah mendaku diri penulis meskipun sejumlah karya telah ia bikin. “Saya menulis buku-buku itu kalau ada alasan. Kalau tidak ada sebab, susah saya akan mengarang. Saya bukan Pengarang,” tulisnya di halaman akhir novel I Made Widiadi Kembali kepada Tuhan.

Bagi Gerson Poyk, itu adalah kata-kata merendah. Tetapi, jika menilik sekelumit dinamika hidupnya sejak remaja, agaknya itu adalah pengakuan jujur. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di HIS Singaraja, pada 1925 ia melanjutkan studi di MULO Batavia tetapi tak dirampungkan. Ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun setelah itu, namun tak satu pun yang berhubungan dengan dunia menulis.

Ensiklopedia Sastra Indonesia menyebut, selama 1927-1929 Pandji Tisna lalu menjadi sekretaris pribadi ayahnya. Di sela-sela waktunya ia memulai sebuah usaha ekspor kopra. Karena bekerja dengan enggan, ayahnya lantas mengirimnya ke Lombok untuk mengurus bisnis transportasi milik keluarga.

Pada 1934, ia kembali ke Singaraja. Dosen sastra Indonesia Universitas Udayana I Nyoman Darma Putra dalam makalah bertajuk "Kaitan antara Biografi, Proses Kreatif, dan Karya-karya Panji Tisna" (PDF) menyebut bahwa sejak itu Panji Tisna mulai belajar bahasa Sanskerta. Ia mendapat bimbingan dari seorang sarjana bernama Dr. Goris yang sering berkunjung ke Puri Buleleng.

Di tahun yang sama, Pandji Tisna membuka sekolah di Puri Kanginan milik keluarga Raja Buleleng dan mengajar bahasa Inggris. Seturut pengakuannya sendiri, Pandji Tisna masih menyempatkan diri bermain musik untuk komedi stambul di Singaraja. Karenanya ia jadi cukup populer, meskipun tak lama kemudian ia memilih berhenti dari semua itu.

“Insaf akan diri kalau terus hidup secara ini akan menjadi rusak lalu saya berpindah 10 kilometer ke barat, di kebun kelapa milik ayah di tepi pantai, yang kini kami beri nama Lovina,” tulis Pandji Tisna.

Menemukan Dunia Kepenulisan

Menurut Gerson Poyk, keluarnya Pandji Tisna dari Puri Buleleng menjadi berita besar. Banyak koran memberitakan bahwa ia keluar dari puri dan memilih hidup dengan petani dan nelayan. Lantaran ia pernah berhubungan dengan seorang anggota keluarga Puri Cakranegara, Lombok, yang dianggap radikal, tindakannya itu dicurigai punya maksud tertentu oleh pemerintah kolonial.

Waktu itu tiba-tiba saja seorang pejabat Belanda di Singaraja memfitnahnya ingin meracun sang ayah demi takhta dan warisan. Kebetulan pula saat itu niatnya membangun usaha ekspor kopra ditolak sang ayah. Keadaan tersebut membuat hubungan ayah beranak merenggang.

Itulah pertama kalinya Pandji Tisna punya alasan untuk menulis. “Terbitlah amarah saya dan sesudah saya menerangkan bahwa kehendak itu sama sekali tidak masuk di pikiran saya, maka saya terpaksa menulis sebuah roman berjudul: 'Ni Rawit, Ceti dan Penjual orang',” tulis novelis yang lahir pada 11 Februari 1908 itu.

Menurut I Nyoman Darma Putra, novel itu ia maksudkan sebagai perantara untuk berdamai dengan ayahnya. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa ia bisa berhasil dengan sesuatu yang dipilihnya sendiri. Dan berkat terbitnya novel itu hubungan keduanya kembali membaik.


Infografik Mozaik Anak Agung Pandji Tisna
Infografik Mozaik Anak Agung Pandji Tisna. tirto.id/Tino


Novel keduanya, Sukreni Gadis Bali, yang terbit setahun kemudian, diilhami isu sosial di Badung. Kala itu banyak warga Badung yang berpindah agama menjadi Kristen setelah kegiatan misionaris beroperasi di sana. Konversi agama ini memunculkan konflik yang berpangkal pada masalah hak warisan warga yang berpindah agama.

Pandji Tisna pergi mengamati langsung konflik itu di Desa Buduk, Badung. Sekembalinya dari sana, ia mulai menulis kisah Sukreni dan menyisipkan perihal konflik itu di dalamnya. Lewat salah satu karakter dalam novel, Ida Gde Swamca, Pandji Tisna mencoba untuk mengusulkan suatu jalan keluar.

“Novel Sukreni timbul karena pertikaian agama Hindu Bali dengan agama Kristen soal kubur dan warisan. Karangan ini sangat objektif tetapi dengan tendens kiranya kedua agama itu tetap memegang perdamaian di antara kedua pihak,” kutip I Nyoman Darma Putra dalam makalahnya.

Sementara itu, novel ketiganya bermula dari duka kehilangan dua anaknya. Kematian itu membuat Pandji Tisna stres dan dokter menyarankannya menenangkan diri sementara waktu. Ia lantas pergi ke Kintamani untuk menyepi. Di sinilah ia kemudian menyelesaikan I Swasta Setahun di Bedahulu.

Tetapi, I Swasta tidak ditulis untuk mengekalkan melankolinya. Agak lain dari dua novel terdahulu yang menjadikan hukum karma sebagai ruh, I Swasta mengetengahkan ide tentang kuasa Tuhan atas nasib manusia. Juga, novel ini ia maksudkan sebagai suatu gambaran sejarah Bali zaman klasik.

Guna “menjiwai penulisan”, Pandji Tisna mengunjungi desa kuna Trunyan dan Kedisan di kaki Gunung Batur. Ia mengungkapkan, “Saya harus mengembara empat bulan lamanya di Batur, gunung api dan danaunya, mempelajari kehidupan mereka sehari-harinya lalu menulis sebuah buku yang bernama: I Swasta, Setahun di Bedahulu.”

Pengalaman-pengalaman di balik penulisan itu membuat novel Pandji Tisna memancarkan kekhasan tersendiri. Ia bertutur dalam bahasa orang kebanyakan dengan tentu saja memasukkan alam dan budaya Bali sebagai latarnya. Itu membedakannya dari penulis angkatan Pujangga Baru lain yang kebanyakan berasal dari Sumatra.

“Yang terutama menarik ialah kenyataan bahwa tokoh-tokoh novel Pandji Tisna terasa lebih keras dan gerakannya juga lebih hidup. Tokoh-tokohnya yang dipandang terasa lebih keras itu, merupakan cermin jiwa masyarakat Bali pada umumnya yang telah biasa dengan kedisiplinan, terutama kedisiplinan pada kepercayaan dan agama yang dianutnya,” tulis Anita K. Rustapa dan kawan-kawan dalam Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia 1920-1950 (1997: 99).

==========

Artikel ini terbit pertama kali pada 24 April 2018. Redaksi melakukan penyuntingan ulang dan menayangkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SASTRAWAN atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

DarkLight